My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Jangan iri



"Rumah lo sekitar sini juga? " tanya Allea


"Gue lagi cari rumah yang mau di sewain" jawab Arabella


"Bukannya orang tua lo kaya? kenapa gak beli aja" ucap Gita


"Kok gitu? suami lo lagi nyari rumah juga? " tanya Allea


"Gue belum nikah" jawab Arabella


"Lah tadi anak siapa? anak angkat? " Gita terheran-heran tidak menikah tapi punya anak


"Kehadiran anak ini justru yang bikin gue di usir dari rumah, dia ada karena sebuah kesalahan dan ayahnya gak mau tanggung jawab karena dia udah punya keluarga" Arabella seolah sedang curhat


"Astaga lo selingkuhan? " pekik Gita


"Ya ampun Gita itu mulut" Allea menyumpal mulut Gita dengan kripik


"Kalo di bilang selingkuhan gak juga, malem itu dia mabuk dan salah masuk kamar hotel gue juga kenal sama dia kita sama sama mabuk jadi ya kita melakukannya tanpa sadar"


"Kejadiannya dimana? bukannya selesai SMA lo kuliah di di luar negeri?" tanya Allea


"Ya gue ketemu dia disana, dia sedang ada bisnis mungkin jadi kita kebetulan ketemu di kamar gue"


"Pria mana yang sembarangan tidur sama cewek, gila kali ya" seloroh Gita


"Dia... " perkataan Arabella terhenti saat Max datang


"Sayang.. " seperti biasa ketika pulang Max selalu memeluk serta mencium istrinya


"Hmm.. si bucin pulang" ledek Gita


Ketika Max menyadari siapa yang duduk di sebrang Allea wajahnya seperti terkejut, belum hilang keterkejutannya Seorang anak berlari kearahnya memeluk kaki Max


"Papi... kenapa papi gak cium mami juga sepelti papi cium ibu itu? " Max sontak melepaskan pelukan bocah tersebut


"Siapa kamu? aku bukan papimu" ucap Max


"Mami... " bibir bocah kecil tersebut bergetar dengan mata berkaca-kaca


"Maaf ya karena dia merindukan kasih sayang seorang ayah mungkin jadi dia sembarangan manggil" Arabella menarik putrinya kedalam pelukannya


"Sayang jangan ketus begitu kasihan anak kecil aja takut, dia udah menyelamatkan Michelle yang hampir tertabrak mobil" bisik Allea


"Apa? kalian kemana aja sampe anak sekecil itu hampir tertabrak? dimana Michelle?"


"Di kamarnya" lirih Allea, Max meninggalkan mereka begitu saja


"Arabella sebaiknya nasehati baik baik anak lo, karena kalo dia sembarangan sebut pria lain sebagai ayahnya bisa bisa keluarganya jadi salah paham" Gita merasa raut wajah Allea berubah ketika anak itu memanggil Max dengan sebutan papi


"Sorry ya.. gue udah nasehatin mungkin dia memang butuh sosok seorang ayah" lirih Arabella


"Sekarang tujuan lo kemana? " tanya Allea


"Entahlah.. mungkin gue jalan cari cari penginapan"


"Kenapa gak tinggal disini aja malam ini? itung itung sebagai rasa terimakasih gue karena anak lo udah selamatin anak gue" Allea rasa tidak masalah jika Arabella menginap satu malam saja, toh dia dan Max sepertinya sudah tidak saling memperdulikan lagi semuanya sudah berlalu sangat lama


"Apa itu gak ngerepotin? " tanya Arabella


"Enggak, cuma satu malam aja menurut gue gak masalah"


"Allea menurut gue itu terlalu berlebihan" Gita malah khawatir dengan kehadiran Arabella akan membuat hubungan Allea dan Max bermasalah


"Sstt.. udah gak apa apa"


"Makasih banget ya Allea, gue udah cape muter-muter cari rumah buat di sewa tapi gak dapet dapet" Arabella menggenggam tangan Allea


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kamu lagi mikirin apa? " tanya Dito saat melihat istrinya melamun


"Aku khawatir"


"Khawatir tentang apa? "


"Allea nyuruh Arabella nginep malam ini, tapi aku rasa ada yang janggal" Gita masih merasa waswas jika Arabella ada di rumah Allea


"Kenapa emangnya? kamu tau Max kan? gak mungkin dia macem macem" ucap Gita


"Masa anaknya manggil Max papi? katanya kebiasaan ke semua cowok manggil papi karena dia kurang kasih sayang ayahnya tapi waktu di depan ketemu satpam kenapa gak manggil papi juga? " Dito akhirnya ikut berpikir juga


"Lah kok gitu"


"Iya makanya.. aku takutnya kehadiran Arabella mengulang kejadian waktu dulu " ucap Gita


"Kita berdoa aja supaya Allea dan Max di jauhkan dari hama hama, semoga mereka baik baik aja"


"Aku jadi pusing sendiri"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Kenapa kamu belum tidur? " tanya Max


"Belum ngantuk, sini temenin" Allea menepuk kursi di sebelahnya


"Nonton apa? nontonnya pindah ke kamar aja"


"Aku lagi pengen disini, kalo kamu mau tidur duluan aja"


"Aku mau disini sama kamu" Max memeluk Allea, mereka berbaring berdua di sofa


"Jangan geli.. kamu nakal banget sih" suara cekikikan Allea ketika Max menggelitiknya


"Pindah ke kamar"


"Gak mau" Allea sengaja menolak untuk menggodanya


"Oke, kamu yang minta" Max bangun dari tidurnya lalu mengangkat tubuh Allea


"Aku gak minta di gendong" Allea terkekeh seraya mengecup pipi dan bibir Max


"Tapi kamu gak mau jalan, cium lagi" Sepanjang langkah kakinya menuju kamar Max selalu meminta Allea menciumnya


"Sebahagia itu kalian selama ini? ini gak bisa di biarin" gumam seseorang yang bersembunyi melihat kemesraan keduanya


.


.


Pagi pagi sebelum mengantar anak anak ke sekolah Allea menyempatkan diri untuk memasak, Max berjalan menuruni anak tangga menuju dapur


"Sayang, kenapa gak bibi aja? " Max memeluk Allea dari belakang


"Gak apa apa, jangan kesini nanti bau masakannya nempel di baju kamu"


"Gak masalah, aku mau gini aja" Max malah mengeratkan pelukannya seraya menciumi pipi Allea


"Aku masih kangen" bisik Max


"Apa semalam kurang? " tanya Allea


"Aku menahan diri supaya kamu nyaman, kita lakukan s kali lagi"


"Cih.. jangan becanda kamu harus berangkat kerja, aku juga harus nganter anak anak" Allea berbalik mencubit perut suaminya


"Sebentar aja, aku anter anak anak nanti"


"Baiklah tapi harus cepat" Max menggiring Allea kembali ke kamar


Namun baru saja mereka melewati kamar Millie dan Michelle keduanya sudah keluar sambil mengucek mata, tangan keduanya terangkat ke arah Max minta di gendong


"Cih.. kalian bangun di saat yang tidak tepat" Allea tertawa melihat wajah Max yang tampak tertekan


"Kalian mengganggu jatahku pagi ini" Max menggendong keduanya menuju ruang makan


Ketika melewati kamar yang di tempati Arabella pintu terbuka ibu dan anak itu baru keluar, Anak Arabella menatap sendu Millie dan Michelle yang menyandarkan kepala mereka di bahu ayahnya


Max bahkan tidak menyapa mereka sama sekali hanya allea yang mengajak mereka untuk sarapan, Max tampak sangat menyayangi Allea juga anak anaknya


Max membantu menguncir rambut Millie juga menyuapi Allea makan ketika Michelle rewel tidak mau di suapin suster, suasana di rumah Max memang selalu ramai dan gaduh karena anak anaknya


"Udah yang.. kenyang" Allea menolak suapan dari tangan Max


Max juga menyudahi makannya dia pergi ke dapur dan kembali dengan segelas susu untuk Allea, Arabella menatap iri pada Allea


"Anak anak ayo berangkat sama papa aja" ucap Max


"Asyik dianter papa" Ellia dan Ello bergegas memakai ranselnya lalu mencium tangan ibunya juga pipi adik adiknya


Begitu pun Max dia mencium Allea lalu anak anaknya ketika melewati Arabella dan anaknya, anak tersebut berbalik mungkin maksudnya dia juga ingin di cium oleh Max namun Max malah pergi berlalu begitu saja wajah anak kecil itu menjadi murung


Allea bisa bersantai setelah sarapan karena anak anak juga diasuh oles suster, Arabella datang duduk di sebelah Allea


"Hidup lo bahagia banget ya? " celetuk Arabella


"Setiap orang selalu menerka kehidupan orang lain, hidup gue gak sebahagia yang di lihat" Jawab Allea seraya membolak-balikan majalah di tangannya


"Ya tapi tetep aja bikin yang lihat jadi iri"


"Ya makanya jadi orang jangan iri melihat kebahagiaan orang lain karena kita gak tau kesulitan apa yang udah mereka lewati"


"Allea gue mau ke butik, bisa titip anak gue disini? " Arabella berkata-kata lagi


"Ya pergilah, anakmu aman disini"