
Sudah menjadi rutinitas Allea diantar wawan ke kampus Max dia akan menunggu di depan sampai Max keluar, Hari ini Allea menunggu Max dengan style dedek dedek gemes. Memakai rok kotak pendek dalaman putih dan jaket kulit hitam
"Lagi nunggu siapa dek? " tanya seorang pria yang baru saja keluar
"Nunggu orang" jawab Allea
Para pemuda yang keluar selalu menatap Allea genit dan menyapanya dengan sebutan 'dek' sementara para gadis hanya melihat dari ujung kaki ke ujung kepala penampilan Allea yang memiliki kulit putih dengan style seperti itu bakal seorang artis
"Cantik.. nunggu Max ya? " tanya Bisma
"Hai kak.. iya belum keluar juga" jawab Allea
"Kenapa nunggu di luar? di dalem aja " ucap Bisma
"Enak disini aja sambil cari angin"
"Btw hari ini gemesh banget sih" goda Bisma
"Apaan sih paling bisa deh" ucap Allea
Ketika sedang mengobrol dengan Bisma pandangan Allea teralihkan karena mendengar suara mobil ice cream yang berhenti di sebrang jalan, Bisma yang melihat itu menyadari jika Allea ingin ice cream
"Mau ya? " tanya Bisma
"Ehh.. enggak kok" jawab Allea tapi pandangannya masih menatap kesana
"Aku traktir mau? "
"Boleh deh.. aku lupa gak bawa uang hehe" Allea tersenyum kikuk
"Oke.. ayo" Bisma mengulurkan tangannya
"Kata Max gak boleh pegangan tangan" ucap Allea
"Waw.. si posesif itu terlalu.. oke lah ayo pergi" Allea mengikuti Bisma dari belakang
"Kak Bisma mau gak? " tanya Allea
"Gak deh, kamu ambil sepuasnya nanti aku bayar mau angkat telepon dulu" Allea memesan dua ice cream, setelah mendapatkan ice creamnya dia melihat Max keluar dari kampus menuruni tangga tanpa melihat kiri kanan Allea berlari menyebrang
Bisma yang masih mengangkat telepon sambil membayar tidak melihat Allea, tiba tiba saja sebuah mobil melaju dengan kencang hendak menabrak Allea
"Allea.. " teriak Max saat melihat sebuah mobil hampir mendekat
"Aaaaaaaaaa"
Bruuukk
"Kamu gak apa apa? " tanya seseorang yang sedang memeluk Allea mereka jatuh di tengah jalan
"Gak kak makasih" ucap Allea dengan raut wajah sedih
"Aduh... mampus gue" gumam Bisma lalu berlari membangunkan Miranda lalu hendak membangunkan Allea namun Max mendorongnya
"Kamu gak apa apa? kenapa gak hati hati? " Max langsung mengangkat tubuh Allea
"Thanks udah nolongin Allea, gue berhutang budi sama lo sekarang gue harus bawa dia dulu" ucap Max pada Miranda membuat wajahnya memerah
"I.. iiya" jawabnya
Bisma mengikuti mereka sampai ke mobilnya untuk memastikan keadaan Allea, Wajah Allea tampak sedih duduk di kursi penumpang
"Kamu gak apa apa? " tanya Bisma
"Gak papa" lirih Allea
"Sorry Max gue gak jagain dia tadi" ucap Bisma
" Gak apa apa bukan tanggung jawab lo juga, dia aja yang ceroboh " jawab Max membuat Allea semakin menekuk wajahnya
"Gue duluan ya" Max masuk ke dalam mobil namun sudah beberapa saat dia belum juga mengemudikan mobilnya
"Kenapa mukanya gitu? ada yang sakit? " tanya Max
"Gak ada.. cuma sayang aja" lirih Allea
"Sayang apanya? kamu ngapain tadi sama Bisma? " tanya Max
"Ice cream dari kak Bisma jatuh padahal belum di makan hiks.. hiks.. " Allea malah menangis
"Astaga... kenapa kamu minta ice cream sama cowok lain? aku bisa beliin lebih banyak buat kamu kalo perlu aku beli sama abang abangnya" gerutu Max
"Kenapa kamu malah marahin aku.. huaaaa" tangisnya semakin kencang membuat Max frustasi
"Sini.. sini.. jangan nangis" Max membawa Allea ke dalam pelukannya
"Ini apa lagi? kenapa pake rok pendek? mau cowok lain liat paha kamu? " Max kembali menggerutu setelah sadar melihat paha mulus Allea
"Kenapa marah lagi? " Allea mendongak menatap wajah Max dengan mata berkaca kaca
"Iya, maaf" lirihnya kembali memeluk Max
"Sekarang mau ke rumah sakit apa pulang? " tanya Max
"Pulang aja, ini cuma lutut aja yang lecet tapi kayaknya kakak tadi juga luka"
"Kakak apaan dia seumuran sama kita " sergah Max
"Hah? tapi dia manggil aku 'dek' aku kira dia senior"
"Mukanya aja ketuaan" ledek Max
"Gak boleh gitu dia udah selametin aku hari ini,
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
" Kenapa gitu aja gak becus? " bentak Yuki pada seseorang
"Ambil ini dan pergi, inget jangan bawa nama gue kalo lo ketauan atau keluarga lo gue abisin" ancam Yuki menyerahkan sejumlah uang pada pria yang tadi berusaha mencelakai Allea
Ternyata mobil yang tadi hendak menabrak Allea adalah orang suruhan Yuki, mobil itu sudah mengikuti Allea sejak tadi dan baru melancarkan aksinya saat Allea yang tidak hati hati menyebrang jalan
Yuki geram karena dia lagi dan lagi gagal mencelakai Allea " Si Jonathan sialan kenapa gak mau bantuin gue" gumam Yuki
"Aarrggghhh.. Gue pastikan lambat laun lo akan jadi milik gue"
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Gibran dan Ririn sedang makan siang bersama di sebuah restauran
"Bagaimana soal permintaan aku kemarin? " tanya Gibran
"Aku masih mikirin itu.. aku takut" ucap Ririn
"Takut kenapa? "
"Kamu tau sendiri aku pernah gagal dalam berumah tangga aku cuma takut kejadian itu terulang lagi" lirih Ririn
"Pikirkan lagi aku tunggu jawaban dari kamu" ucap Gibran
"Ehem... " suara seseorang mengejutkan Gibran dan Ririn
"Cindy" gumam Gibran
"Daddy lagi emhh... ciee.. " ledek Cindy
"Hei.. anak ini" Gibran segera menarik tangan Cindy agar duduk
"Tante tetangganya Allea kan? " Ririn tersipu malu saat Cindy bertanya
"Jangan bilang bilang Allea ya, nanti daddy kasih kamu belanja" bujuk Gibran
"Bukannya kabar baik ini harus Allea tau? aku gak mau cuma belanja" ucap Cindy
"Anak ini memang tidak pernah puas, apa mau kamu? cepat katakan"
"Segera menikah dan beri kita adik" goda Cindy membuat Ririn tersedak
"Ahh.. tante maaf aku cuma becanda" Cindy memberikan minuman pada Ririn
"Kalo gitu nikmati waktu kencan kalian, aku pergi dulu. bye" Cindy berlari kecil meninggalkan Gibran dan Ririn
"Anak itu memang begitu jangan di pikirkan" ucap Gibran
"Bukannya dia anak yang.. " Ririn menggantung kata katanya merasa sungkan untuk bertanya
"Ya dia anak Emile dan pacarnya dulu, bodohnya aku dulu mengusir ibunya Allea karena terhasut olehnya ternyata dia yang berkhianat" ucap Gibran dengan tatapan kosong seolah sedang kembali ke masa lalu
"Sudahlah semuanya sudah lewat maafkan dan relakan semua yang pernah terjadi itu akan lebih baik, mulailah lembaran baru tanpa dendam" ucap Ririn
"Kalau begitu aku ingin memulai lembaran baru denganmu, bagaimana? " Ririn tampak diam membisu
"Kenapa diam? bukannya kamu bilang harus buka lembaran baru? lalu kenapa kamu masih ada di dalam buku usang? " tanya Gibran
"Aku bukannya tidak mau aku hanya takut" lirihnya
"Percaya padaku, aku akan menghilangkan rasa takutmu"
"Jangan terburu buru Gibran, aku takut kita berhenti di tengah jalan"
"Baiklah.. kita jalani seperti ini dulu kalau nanti kamu merasa ketakutanmu menghilang katakan padaku, kita akan membuka lembaran baru hari itu juga" ucap Gibran, Ririn memandang wajah Gibran mencari kebohongan di matanya namun sepertinya dia bersungguh sungguh
Jangan lupa like komen dan vote ya 😍😍
Kasih othor sajen bunga tujuh rupa 🌹🌹🌹