
Di dalam mobil Gibran menatap tangannya yang gemetar setelah menampar Allea, matanya berkaca kaca dia benar benar menyesal telah melukai putrinya
"Arrrggghhh" Gibran memukul mukul kursi di depannya membuat sang supir terkejut
"Kenapa tuan? " tanya sang supir
"Saya orang tua yang buruk" ucap Gibran dengan segala penyesalannya
"Karena non Allea tuan? " tanya supir
"Ya.. saya mencampakannya dari kecil sekarang dia pergi tidak ingin tinggal dengan saya" lirihnya, supir tidak lagi mengatakan apapun takut jika dirinya salah bicara
"Dan hari ini saya membuatnya terluka" tuturnya
Meski tidak meneteskan air mata namun di wajahnya terlihat jelas kesedihan dan penyesalannya, Gibran menyandarkan tubuhnya menatap keluar jendela terlihat jelas dia menekan sudut matanya mungkin agar air matanya tidak menetes
"Kamu sudah punya anak? " tanya Gibran
"Sudah tuan, anak saya berusia 9 tahun dan lima tahun" jawab supirnya
"Apa kamu pernah membentak mereka? "
"Yang saya ingat tidak pernah tuan, saya jarang bertemu karena mereka di kampung saya harus mencari nafkah. Saya juga tidak pernah libur terlalu lama saya melewatkan masa pertumbuhan mereka karena harus bekerja keras agar mereka dapat hidup lebih baik" tutur sang supir terkesan curhat
"Menurut kamu apa yang harus saya lakukan supaya bisa membujuk anak yang sedang marah? "
"Aduuhh.. saya gak tau tuan anak saya mungkin karena jarang ketemu jadi kurang begitu akrab jadi mereka tidak pernah merajuk sama saya" ucap sang supir
"Allea berbeda dengan Cindy entah kenapa melihat Allea merajuk saya tidak tenang, apalagi sekarang dia tinggal di luar saya khawatir" lirih Gibran
"Apa tidak sebaiknya tuan tanya apa yang nona inginkan? "
"Dia tidak ingin berkompromi apapun, dia ingin Emile dan Cindy mendapatkan hukuman tapi saya bingung Emile sedang mengandung saya tidak mau menyia nyiakan anak saya untuk kedua kalinya"
"Semoga saja nona cepat pulang dan bisa kembali akur dengan nyonya dan non Cindy" ucap sang supir
"Semoga saja" perjalanannya ke kantor menjadi ajang curhat antara bos dan supir
"Kamu saya izinkan libur selama seminggu tapi tenang gaji saya bayar full satu bulan, ajak keluarga kamu jalan jalan jangan buat hubungan kalian canggung" ucap Gibran sebelum masuk ke kantornya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Emile baru saja keluar dari kamar mandi dia sedang menstruasi hari ini Emile memikirkan alasan jika nanti suaminya minta di layani, Emile akhir akhir ini di buat pusing dengan kebohongannya sendiri
Walaupun Gibran acuh tak acuh padanya namun itu lebih baik dari pada di penjara, Sore hari mendengar suara mobil Gibran terparkir di halaman Emile segera berakting
"Emile dimana? apa dia ada keluar? " tanya Gibran pada Aksa
"Tadi saya mengantarkan nyonya ke minimarket tuan" jawab Aksa
"Hanya itu? "
"Ya.. kami langsung pulang setelah dari sana"
Gibran melenggang pergi ke kamarnya baru saja membuka pintu dia di kagetkan dengan Emile yang berdiri di depan pintu
"Ngapain kamu berdiri disitu? ngagetin orang aja" ucapnya seraya berlalu ke kamar mandi
"Untung dia masih bersikap acuh" gumam Emile merasa tenang
Setelah keluar dari kamar mandi raut wajah Gibran tidak dapat di tebak, ekspresinya datar juga sangat dingin jika tadi dia masih bicara sekarang hanya kata kata singkat yang keluar dari bibirnya
"Ikut ke dokter" ucap Gibran
"Jangan sekarang kamu pasti lagi capek" jawab Emile
"Dokter sudah menunggu "
"Tapi.. tapi.. aku.. " Gibran menatapnya tajam membuat Emile tidak bisa berkata kata lagi
Emile mencari aman mengikuti dulu kemauan Gibran, setelah bertemu dokter dia akan kembali memikirkan cara agar dapat lolos
"Aku ganti baju dulu" mendengar jawaban Emile Gibran keluar begitu saja
Sesampainya di rumah sakit Emile di buat panik tidak ada pasien satu pun yang menunggu antrian, dia pasien satu satunya membuatnya tidak bisa berpikir lagi
"Kenapa gak ada orang? " tanya Emile
"Jangan banyak tanya, masuk" ketus Gibran sedikit mendorong Emile masuk
"Sore dokter ini istri saya tolong di periksa katanya dia sedang hamil" ucap Gibran
"Baiklah, nyonya silahkan berbaring" ucap dokter
"Saya mau ke kamar mandi dulu dok" ucap Emile
"Gak perlu, nanti selesai periksa baru ke kamar mandi" tegas Gibran membuat Emile kesusahan menelan salivanya
Emile mulai berbaring saat alat USG menempel di perutnya tiba tiba handphone Gibran berdering dan dia keluar menjawab telepon
"Dokter apa dokter bisa bantu saya? " tanya Emile
"Bantu apa? " dokter itu balik bertanya
"Saya sedang ada masalah dengan anak dan suami saya, bisakah dokter tidak memberitahu suami saya bahwa saya tidak hamil? saya takut mereka akan menyiksa saya" ucap Emile
"Maaf nyonya itu tidak bisa, saya di sumpah untuk bekerja dengan kejujuran" jawab sang dokter
"Saya mohon dokter, berapa pun akan saya bayar"
"Baiklah, anda bisa bangun" ucap dokter
Ketika baru saja duduk Gibran kembali masuk dan duduk berhadapan dengan dokter, Emile lega sepertinya dokter ini bisa di andalkan
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sepulang sekolah Max benar benar menepati janjinya dia membawa Allea ke rumah sakit tempat Arabella di rawat, Semula Max membuka pintu Arabella menyambutnya dengan ceria
"Hai sayang" sapa Arabella, namun wajahnya berubah seketika saat Allea berjalan mengikuti Max
"Siapa dia? " tanya Arabella
"Dia.. gue udah bilang kemaren kita udah lama putus dan dia pacar gue sekarang" jawab Max
"Gak.. gak mungkin kamu cuma bercanda kan? kamu gak mungkin ninggalin aku, kamu cinta kan sama aku? " Arabella menangis kencang
"Sorry tapi itu yang sebenarnya, gue udah gak punya perasaan apapun sama lo"
"Argghh... kepalaku.. arrrggghhh" Arabella memegangi kepalanya sepertinya dia benar benar kesakitan
"Max dia kenapa? " tanya Allea panik
"Aku udah bilang ini yang akan terjadi, tunggu disini aku panggil dokter" Max meninggalkan Allea bersama Arabella
"Sakit arrrggghhh Max.. kamu tega padahal aku udah kasih semuanya sama kamu, aku kasih kesucian aku sama kamu apa ini balasannya" teriak Arabella
Allea mematung di tempatnya entah apa yang di rasakan olehnya, Max datang bersama dokter Allea tidak bergerak sedikitpun
"Apa yang di bilang Arabella bener? apa dia juga akan ninggalin gue? " batin Allea
"Hei kamu kenapa? " bisik Max melihat Allea mematung dengan tatapan kosong
Dokter sudah menyuntikkan obat penenang akhirnya Arabella tertidur, dokter hendak keluar namun Max mencegahnya
"Sebentar dok, sebenarnya apa yang terjadi sama Arabella? " tanya Max
"Saya bingung sebenarnya, keadaannya baik baik saja semua pemeriksaan juga hasilnya baik tapi dia kehilangan separuh ingatannya" ucap sang dokter
"Lalu bagaimana keluarganya? " tanya Max
"Kata suster kemarin ada seorang wanita datang mungkin itu ibunya tapi dia usir, dia hanya menerima kamu yang menjenguk" ucap dokter sebelum pergi
"Ini aneh" gumam Max
"Sayang, kamu lapar? kita cari makan dulu? " tanya Max
"Gak aku pulang aja" ujar Allea dingin meninggalkan Max sendiri
"Kenapa lagi sama dia? " gumam Max kebingungan
Di dalam mobil Allea hanya diam banyak pertanyaan di otaknya namun bibirnya enggan mengucap satu kata pun, Max melirik Allea dan menggenggam tangannya tapi Allea menepisnya
"Kamu kenapa sih yang? aku salah lagi? " tanya Max tidak ada jawaban Allea memalingkan wajahnya ke arah jendela
"Aku minta maaf kalo aku ada salah, coba sekarang ngomong sama aku" Allea masih tidak bicara
"Sayang, kamu gak mau aku ketemu Arabella lagi? oke aku gak akan kesana lagi"
"Kamu marah kenapa sih? kalo kamu gak ngomong aku gak bisa perbaiki kesalahan aku"
Max berhenti mendadak untung saja Allea memakai sabuk pengaman, Max meraih tangan Allea dan mencengkram pergelangan tangannya
"Allea liat aku, kamu kenapa sih? " tanya Max mulai kesal
"Aku pulang sendiri aja" Allea menepis tangan Max dan segera turun
Kebetulan sebuah taksi lewat Allea naik taksi sebelum Max keluar mengejarnya
"Arrrggghhh.. brengsek kenapa lagi sih Allea" Max memukul tangannya ke udara
"Bikin pusing aja... arrrggghhh" Kesal Max memukul kemudi
Max menjalankan kembali mobilnya ke apartemen, dia merasa ada yang salah dengan Allea dan harus segera di luruskan