My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
kehilangan terpahit



Emile berhasil di tangkap oleh orang orang yang menyaksikan kejadian itu, Max mengangkat tubuh Allea dan membawanya ke parkiran yang jaraknya cukup jauh


Darah mengotori baju putih Allea darah juga mengalir dari kakinya, Max benar benar panik dia menyesal membentak Allea dan menyuruhnya pulang sendiri


sesampainya di rumah sakit Max menunggu dia duduk lemas di lantai bersandar menyangga kepalanya dengan tangan yang terkepal


"Sayang gimana keadaan Allea? " tanya Lydia yang sudah di telepon Max sebelumnya


"Masih di periksa bun" lirih Max lemah


Lydia bisa melihat mata Max memerah sepertinya dia habis menangis, Lydia membawa Max duduk di kursi dan menenangkannya dia belum mau bertanya melihat Max yang sedang kacau sekarang


Dokter keluar dari ruangan membuat Max segera berdiri menghampiri dokter untuk bertanya


"Gimana keadaannya dok? "


"Dia masih sekolah? " tanya Dokter


"Iya dok, apa yang terjadi sama Allea? " tanya Max panik


"Luka tusuknya tidak berbahaya karena tidak terlalu dalam tapi dia kehilangan janinnya yang baru berjalan 2 minggu karena dia terjatuh cukup keras" ucap dokter


Max mematung rengekan Allea kembali terngiang di kepalanya "Aku juga pusing Max aku gak selebay dia, ayo pulang"


"Maxime.. nak kamu kenapa? " Lydia menepuk pundak anaknya melihat dia mematung dengan air mata yang mengalir


"Sayang kita gak tau rencana Tuhan itu seperti apa, ikhlaskan dia sayang" Lydia memeluk Max dan mengusap punggungnya


Tiba tiba tangisnya pecah di pelukan Lydia sampai Lydia terkejut , dia tidak pernah melihat Max menangis seperti ini sebelumnya hatinya bagai merasa pilu atas apa yang terjadi padanya


"Ini salah saya bun.. ini salah saya" ucap Max di sela tangisannya


"Kamu gak salah sayang, sabar ya jangan kasih tau Allea dulu bunda takut dia shok" ucap Lydia


Malam semakin larut Lydia menunggu Allea sementara Max mencari makan untuknya dan Lydia, handphone Lydia berdering dia keluar sebentar untuk menjawab telepon


Allea mengerjapkan matanya lalu meringis memegangi perutnya, dia melihat ke sekeliling mendapati dirinya berada di rumah sakit


"Sudah siuman? syukurlah, apa anda merasa kurang nyaman? " tanya suster yang baru saja masuk


"Perut saya sakit banget Sus" jawab Allea


"Itu normal untuk orang yang baru saja keguguran, jangan banyak gerak dulu nanti lukanya berdarah lagi" suster membantu Allea membenarkan posisi duduknya, luka tusuk Allea di perut bagian atas tapi dia merasa semua bagian perutnya sakit


Sesaat kemudian Allea baru sadar apa yang di ucapkan suster "Apa Sus saya keguguran? " mata Allea membulat dengan tangan menutupi mulutnya yang sedikit terbuka


Baru saja Max kembali dia melihat Allea menangis di temani suster, Max mendekat membelai kepala Allea tapi Allea menepisnya lalu menampar Max sampai wajahnya memerah


"Gara gara kamu huh dasar sialan, kalo kamu mau pergi pergi aja jangan bawa anak aku"


"Aku nyesel ketemu sama kamu, gara-gara kamu bajingan hiks.. hiks.." Allea menangis histeris memukuli Max


Suster hendak menenangkan tapi Max menahannya dan menyuruh suster pergi, Max hanya diam saja saat tubunya di pukuli rasa sakitnya tidak akan sebanding dengan rasa sakit kehilangan anak mereka


"Aku minta maaf sayang, semua memang salah aku" lirih Max yang ikut menangis


Di saat Allea menagis histeris Lydia muncul bersama Damian dan Gibran, mereka segera menghampiri Max yang di pukuli Allea


"Sayang kenapa ini? " tanya Lydia


"Dia... Gara-gara dia aku kehilangan bayiku hiks.. hiks. "


"Gara gara dia.. kalo aja malam itu dia gak bertemu Arabella, kalo aja hari ini dia gak memilih Arabella dan mengusir aku ini semua gak akan terjadi hiks.. hiks.." Allea berkata dengan kemarahan yang memuncak diiringi tangis yang tersedu sedu


Gibran tersulut emosi mendengar perkataan Allea dia menghadiahkan bogem mentah di wajah Menantunya itu, Damian memisahkan mereka sebelum Max mati karena tidak melawan


"Kalian pulang saja, aku yang akan menjaganya disini" ucap Gibran dengan nafas tersengal dadanya naik turun


"Tapi... " perkataan Max terhenti saat mendengar bentakan dari Gibran


"Pergi.. aku akan menjaga anakku sendiri, pergi dengan wanitamu jangan ganggu anakku lagi" bentak Gibran


Ketika Lydia hendak bicara Damian menghentikannya, Gibran butuh waktu begitu pun Allea. Damian membawa anak dan istrinya pergi


Gibran menghampiri Allea lalu bersimpuh di lantai menggenggam tangannya, air matanya tak terbendung melihat Allea yang menangis tersedu sedu


"Ayah minta maaf sayang, kalau seandainya ayah bisa menjadi ayah yang baik semua ini gak akan terjadi" lirih Gibran


"Ayah juga minta maaf, ayah bukan ayah yang baik ayah gak bisa jaga kalian"


"Cucu ayah udah pergi yah, belum sempat Allea tau kalo Allea hamil tapi kenapa kita harus kehilangannya lebih dulu" Allea menangis di pelukan ayahnya


"Ikhlaskan sayang biar dia tenang ya"


"Ayah apa boleh Allea pulang ke rumah ayah setelah keluar dari rumah sakit? " tanya Allea


"Memang itu yang ayah harapkan sayang"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Gita membaca berita online mengenai Allea yang di tusuk seseorang bahkan ada video CCTV yang merekam detik detik Allea di tusuk dan terguling ke bawah tangga, Gita menangis tak karuan dia menelpon Dito namun tidak di jawab


"Sayang lagi apa? " tiba tiba Dito memeluknya dari belakang membuat Gita terkejut


"Kamu kenapa gak jawab telepon aku huh? " kesal Gita


"Hei kenapa kamu nangis? " tanya Dito


"Kenapa? kamu bilang kenapa? kenapa kamu gak cerita kalo Allea di celakai orang? "


"Maaf sayang tadinya aku gak mau kepikiran tentang ini, Max udah bawa Allea kerumah sakit"


"Gimana keadaannya sekarang? " tanya Gita


"Aku belum tau, mungkin besok kita jenguk Allea di rumah sakit"


"Aku khawatir banget Allea kenapa nasibnya malang banget" gumam Gita seraya mondar mandir dengan perut yang membuncit


"Sayang jangan mondar mandir kasian nanti bayinya pusing" Ucap Dito membawa Gita duduk


"Aku khawatir sama Allea, pesan aku juga gak di bales"


"Kamu gimana sih dia kan lagi sakit mana sempet main HP"


"Ohh iya lupa, besok aku ikut ya" ucap Gita


"Heeemm.. kita kesana malam aja itu pun kalo gak ada orang" ucap Dito


"Iya" singkat Gita sebenarnya dia agak kesal harus sembunyi terus menerus dengan orang lain


"Lagi apa anak papa? liat tuh bibir mama udah kayak soang kalo udah lahir mirip papa aja ya" goda Dito seraya mengelus perut Gita


"Enak aja, anak aku harus mirip aku" protes Gita


"Gak, dia harus tampan kayak aku" ucap Dito narsis


"Iiiuuhh.. tampan dari mananya? ledek Gita


" Kalo aku gak tampan gak mungkin dong kamu mau sama aku sampe kembung begini"


"Sembarangan ini bukan kembung" Gita memukul bahu Dito yang sedang terkekeh


"Coba kamu pilih mirip papa atau mama? kalo kamu pilih papa nendang kalo pilih mama jangan" ucap Gita seraya mengelus perutnya


Dito tertawa saat merasakan anaknya menendang Gita benar benar kesal anaknya saja tidak berpihak padanya


"Sayang jangan marah dong, anak kecil emang gak pernah bohong" goda Dito


"Tau ah, kamu tidur di luar aku gak mau kamu tidur di sini" ketua Gita


"Loh gak bisa dong, aku mau tidur sama kamu" protes Dito


"Aku gak mau"


"Jangan gitu dong cantik, baik, istri aku yang paling ter ter ter"


"Ter apa? tanya Gita


" Tercerewet " ucap Dito


Dito tertawa terbahak ketika Gita memukul da mencubitnya, wanita hamil ini benar benar mudah emosi sekarang tapi membuat Dito gemas