
Allea benar benar merasa kecewa dan sendiri satu satunya tempat dia mengadu adalah Maxime, Allea memutuskan pergi ke bengkel dimana biasanya Max menghabiskan waktunya di bengkel saat libur sekolah
Allea baru saja turun dari taksi baru beberapa langkah berjalan Allea melihat Yuki mengusap keringat di dahi Max itu semakin membuat Allea sedih, meskipun Dia melihat Max bersikap ketus pada Yuki tapi tetap saja kejadian selanjutnya membuat dia juga kecewa terhadap Max
Sebuah mobil berhenti di hadapan Max dan Arabella turun entah apa yang mereka bicarakan tapi dengan terburu buru Max masuk ke dalam mobil Arabella, setelah melihat itu Allea menghentikan taksi dan pergi dari sana
Meskipun Max tidak melihatnya tapi pegawainya sempat melihat Allea menangis masuk ke dalam taksi, dia segera menelpon Max untuk memberitahunya
"Bos tadi nona lihat bos naik mobil "
"Lalu dia kemana? "
"Dia nangis sepertinya bawa koper bos naik taksi plat no 1xxx8xx kearah barat"
"Gawat"
Max kembali memutar balik mobilnya Arabella menjadi heran setelah menerima telepon kenapa Max kembali lagi
"Max kenapa balik lagi? ini darurat loh" tanya Arabella
"Gak usah banyak ngomong diem aja" ketus Max
Akhirnya Max menemukan plat mobil taksi yang di tumpangi Allea, Max mensejajarkan mobilnya untuk bicara dengan Allea
"Hei kamu kenapa? " tanya Max namun Allea malah menaikan kaca jendelanya
" Allea.. turun " teriak Max namun Allea tak bergeming dia menatap lurus kedepan
"Mas jangan bikin celaka orang, kalo nyetir yang bener" Ucap pemotor yang hampir tertabrak saat Max mengejar Allea
"Udahlah Max nanti bisa di jelasin lagi, sekarang ada hal yang lebih penting" Akhirnya Max memutuskan kembali ke tempat tujuannya setelah mendengar Arabella
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Mommy beneran hamil? " tanya Cindy antusias
"Gak, mommy udah rencanakan semuanya" bisik Emile
"What jadi mommy bohongin daddy? " pekik Cindy
"Sssttt jangan teriak teriak, jadi gini ceritanya"
Flashback on
Emile pura pura pingsan lalu di larikan kerumah sakit, setelah di periksa Emile menceritakan kisah palsu agar dokter mau membantunya berkata bohong. Dokter yang merasa iba dengan cerita Emile yang menjelekkan Gibran dan Allea pun akhirnya membantu agar Emile yang malang tidak masuk penjara
Lalu Emile meminta Gibran membebaskan Cindy dengan alasan dia ingin anaknya berkumpul bersama dan dia akan berubah juga meminta maaf sungguh-sungguh pada Allea
Flashback of
"Mommy memang licik" hardik Cindy seraya tertawa
"Kalo gak gitu kita gak akan bebas"
"Nanti kedepannya gimana kan kalo hamil pasti membesar? " tanya Cindy
"Nanti mommy pikirin" jawab Emile
"Mi aku mau tanya soal ayah kandung aku" mendengar pertanyaan Cindy Emile jadi bungkam
Saat Cindy hendak bertanya kembali tiba tiba Gibran masuk begitu saja "Apa yang kalian bicarakan? " tanya Gibran wajahnya sudah tidak bersahabat
"Dad Cindy belum minta maaf sama Allea" ucap Cindy dengan nada bicara lembut penuh rasa bersalah
"Minta maaf saja sendiri, sekarang kumpulan kartu yang pernah aku beri pada kalian, juga perhiasan dan kunci mobil" ucap Gibran membuat mereka berdua terkejut
"Sekarang" bentak Gibran keduanya langsung pontang panting mencari barang barang yang di minta Gibran
Setelah semua terkumpul Gibran memasukannya ke dalam brangkas lalu membawanya ke ruang kerja, Gibran kembali ke kamar Cindy dan membuat keduanya terkejut sampai hampir di buat jantungan
"No.. no.. daddy yang bener aja Cindy gak mau"
"Kamu gak bisa nawar udah bagus daddy keluarkan kamu dari penjara, dan kamu Emile tidak ada shopping tidak ada jalan jalan dan tidak boleh keluar sampai batas gerbang rumah tugas Aksa sekarang berganti mengawasi kalian berdua" ucap Gibran tegas
"Aku sedang hamil jangan buat aku tertekan" Emile meminta belas kasihan
"Pilih di rumah atau di penjara pilihannya cuma dua" ucap Gibran lalu pergi
Gibran tidak memaksa Allea kembali dia hanya memerintahkan seseorang memperhatikannya dari jauh, Gibran ingin lihat sekuat apa Allea bertahan di luar sana
"Ayah yakin kamu pasti kembali" gumam Gibran dia juga sudah merencanakan agar ketika Allea melamar pekerjaan tidak akan ada yang menerimanya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Allea sangat sangat frustasi sekarang dia bingung harus pergi kemana rumah nek Mar pun sudah di jual oleh Gibran, dia menangis menutupi wajahnya di halte bus malam malam sebuah mobil berhenti di hadapannya dan seseorang duduk di sampingnya
"Lo kenapa? " mendengar suara seseorang Allea mengangkat wajahnya
"Gue.. gue.. gak tahu harus pergi kemana to" tangis Allea semakin menjadi
"Ehh.. jangan nangis ntar orang ngira gue ngapa ngapain lo" ucap Dito panik
"Bokap gue bikin kecewa Max juga kurang ajar gue benci.. benci.. " Tangis Allea memukul mukul tangannya sendiri
"Udah udah ikut gue pulang dulu jangan keluyuran malem malem entar ada orang jahat" ucap Dito
Dito akhirnya membawa Allea kerumah Gita sesampainya disana Gita tidak menanyakan apapun pada Allea dia hanya memeluk sahabatnya itu agar dia merasa lebih baik, kedua orang tua Gita juga menyiapkan kamar untuk Allea
"Kamu istirahat dulu ya, tante udah siapin kamar udah tinggal disini aja biar Gita seneng ada temennya" ucap Ibu Gita
"Allea nginep malam ini aja tante, Allea gak mau ngerepotin" ucap Allea dalam isak tangisnya
"Oke.. gimana kamu aja tapi jangan sedih lagi ya ada kita kamu boleh cerita apapun buat ngurangin beban kamu, kamu boleh tinggal selama apapun kamu mau" ucap Ibu Gita Allea beralih memeluk itu Gita
"Makasih tan, "
"Kamu udah banyak bantu kita sudah sewajarnya kita bantu apapun yang kamu butuh, sekarang tidur ya udah malem" ibu Gita membawa Allea ke kamar
"Jadi Allea kenapa? " tanya Gita pada Dito
"Dia kayaknya berantem sama om Gibran dan Max deh, tapi aku juga gak tau apa masalahnya" jawab Dito
"Heemm kasian liat dia nangis gitu" gumam Gita
"Allea bukan gadis lemah dia akan cepat melupakan masalahnya, tidur yuk ngantuk" Dito menarik lembut tangan istrinya
"Jangan dulu tidur" rengek Gita
"Loh kenapa? aku ngantuk sayang cape banget"
"Aku mau itu.. " rengek Gita
"Mau apa? aku cape" goda Dito
"Kamu tidur aja aku yang kerja" mendengar ucapan Gita Dito sontak tertawa
"Kamu mau ngerjain apaan hah? " tanya Dito setelah berhenti tertawa
"Ahh tau lah.. kamu gak peka" Gita merajuk berjalan menghentakan kakinya masuk ke dalam kamar
"Sayang jangan marah aku cuma bercanda" Dito mengetuk pintu kamar Gita yang terkunci
"Sayang buka dong aku ngantuk nih, kamar tamu ada Allea" ucap Dito terus mengetuk pintu
"Mampus lo gue gak bakal buka pintu, tidur aja di sofa" gumam Gita tersenyum puas di dalam kamar tidak peduli rengekan Dito memanggil namanya