My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Pelukan terakhir



"Non ada teman di depan" bibi mengetuk pintu kamar Allea


"Iya suruh tunggu dulu ya bi, Allea baru beres Mandi" Allea baru saja pulang sekolah, Max membawa Allea jalan jalan terlebih dahulu sampai pulang kesorean


Allea keluar menemui seseorang yang di sebut si bibi "Dito, ada apa? " tanya Allea


"Gue mau lo ikut sama gue ke rumah Gita" mendengar ucapan Dito Allea tersenyum mengusap lengan Dito


"Kita berangkat sekarang" Dito dan Allea juga Aksa pergi ke rumah Gita


Sesampainya disana Dito sampai keringat dingin, Allea menepuk nepuk pundak Dito untuk memberinya kekuatan


"Assalamu'alaikum.. " Allea mengucap salam melihat pintu itu terbuka


"Waalaikumsalam.. cari siapa? " jawab seorang ibu ibu


"Gitanya ada tan? saya temannya" ucap Allea


"Masuk nak" setelah di persilahkan masuk Allea turut mengajak Dito yang ada di dalam mobil


"Kamu... " ibu Gita memandang Dito dengan tatapan marah matanya berkaca kaca dengan rahang mengeras


Plak


Tanpa di duga ibu Gita menampar Dito bukan hanya sekali namun berkali kaki, Allea hendak memisahkan namun tangan Dito mengisyaratkan agar Allea berhenti dan membiarkan ibu Gita melampiaskan amarahnya


"Anak kurang ajar kamu merusak masa depan anakku, kamu membuatnya menderita keluargamu menghina keluarga kami. keluarga sampah aku membenci kalian " ibu Gita mengumpat memukuli Dito emosinya tak terbendung lagi


"Suamiku.. suamiku masuk rumah sakit karena ulah kalian, aku harus pura pura tidak peduli pada anakku agar Gita tidak banyak bertanya tentang ayahnya, kalian brengsek" teriak ibu Gita luruh di lantai


"Jadi selama ini ibu peduli padaku? " tanya Gita yang menangis menuruni tangga


"Ibu peduli padamu nak, orang tua mana yang tidak peduli pada anaknya, kamu anak kita satu satunya" ibu Gita bangun menghampiri dan memeluk Gita


"Maafin aku bu, aku udah bikin malu ibu, aku gak mikirin perasaan ibu dan ayah" Gita menangis tersedu


Dito menghampiri mereka dan berlutut di hadapan keduanya


"Tante saya minta maaf atas semua yang keluarga saya lakukan, saya pengecut tan kemarin saya tidak berani mengakui kesalahan saya tapi hari ini saya datang kesini untuk bertanggung jawab " ucap Dito dengan tegas tidak ada keraguan sama sekali


"Aku tidak sudi anakku menjadi hinaan keluargamu, pergi dari sini kami masih sanggup membesarkan anak ini sendiri"


"Saya akan melindungi Gita bu, demi menikahi Gita saya meninggalkan keluarga saya, Saya berjanji tidak akan menyia nyiakan dan menyakiti Gita lagi" tidak mau mendengarkan Dito ibu Gita mendorong Dito hingga duduk


Gita menoleh pada Dito bagaimana pun hatinya menyayangi Dito, saat ibunya hendak melayangkan pukulan Gita memasang badan memeluk Dito tangan itu menggantung di udara


"Udah bu udah.. Gita akan Terima pertanggung jawaban dari Dito, Gita mohon restui kami" Gita ikut berlutut di hadapan ibunya


"Kamu yakin? dia sudah membuat keluarga kita hancur"


"Kita akan bangun lagi sama sama bu percaya sama Gita"


"Sebelumnya maaf kalau saya ikut campur tapi bagaimana pun anak ini butuh peran kedua orang tuanya, membesarkan sendiri anak mungkin sanggup kita lakukan tapi peranan kedua orang tua sangat berpengaruh pada tumbuh kembangnya" Allea menimpali


"Tapi gimana kalau dia menyakiti Gita lagi? "


"Saya yang akan tanggung jawab bu, dan untuk perusahaan ibu saya akan bicara pada payah saya untuk membantu"


Lama Allea dan Gita membujuk ibunya agar mau menyetujui niat baik Dito, meskipun harus berjuang meyakinkan ibu Gita akhirnya dia luluh juga dan memberikan restu untuk mereka berdua


"Syukurlah, Untuk sekolah Gita sebaiknya keluar dulu sebelum perutnya semakin membesar baru nanti setelah anak ini lahir Gita kembali melanjutkan sekolahnya" usul Allea yang di setujui ibu Gita


"Thanks lo udah banyak bantu gue" Gita memeluk Allea sebelum dia pulang


"Dulu kalian selalu bantu gue dan selalu ada buat gue sekarang kalo diantara kalian ada masalah bukannya kewajiban gue buat bantu kalian? " jawab Allea memeluk kedua sahabatnya


Dito mengantar Allea dan Aksa pulang, dalam perjalanan Allea tertidur menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil. Dito bisa melihat Aksa sesekali melihat Allea dari kaca di hadapannya


"Jangan di liatin mulu entar Max marah" ledek Dito, Aksa tidak menanggapi tapi benar benar wajahnya di buat merah oleh Dito


Allea sampai rumah pukul 6 malam dia benar benar ngantuk dan memutuskan untuk kembali tidur di kamarnya, waktu makan malam Gibran masuk dan duduk di tepi ranjang


"Sayang bangun kamu belum makan" Gibran mengusap rambut Allea


"Emmhh.... Allea ngantuk" racaunya


"Ayo bangun.. tebak di luar ada siapa? "


"Gak mau main tebak tebakan ayah tidur aja sini sama Allea" Anak gadis itu malah memeluk ayahnya untuk ikut tidur


"Yang bener yah" Allea duduk membersihkan matanya


"Emmhh urusan Max aja cepet" goda Gibran


"Iihh ayah nyebelin ayah boongin Allea"


"Enggak sayang di luar ada keluarga Damian, makanya cepat bersihkan diri kamu dandan yang cantik" Gibran mengusap pucuk kepala anaknya


"Hah? "


"Ayo ayo bangun" Gibran membantu Allea bangun


Kedua keluarga sedang berada di ruang tamu semua mata tertuju pada gadis yang sedang berjalan ke arah mereka, Max mengembangkan senyumnya berdiri menghampirinya


Cindy senang bukan main Dia baru saja turun dari tangga dan Max mengulurkan tangan berjalan kearahnya, Cindy juga mengulurkan tangannya untuk menerima uluran tangan Max


Namun sayang seribu kali sayang uluran tangan itu Max biarkan dan malah melewatinya begitu saja, ternyata Max bukan ingin menggandeng nya namun menggandeng Allea yang berjalan di belakangnya


Max menuntun tangan allea agar duduk di sampingnya, tangan itu tidak terlepas meskipun mereka berdua sudah duduk


''Ehem... tangannya gak usah di pegangin terus" ujar Gibran seraya memukul pelan tangan Max yang menggenggam tangan Allea


"Iya kayak mau nyebrang aja" goda Lydia membuat keduanya tersipu malu


Danendra hanya diam sesekali dia menoleh ke arah Allea, gadis cantik yang dulu pernah bersamanya sekarang harus ia relakan untuk saudaranya


Selesai makan Malam Danendra memilih keluar dia tidak bisa melihat perhatian yang Max tujukan untuk Allea, tapi sepertinya Allea juga sangat menyayangi Max dia menerima setiap perlakuan manis Max padanya


"Ehem.. lagi apa? " Danendra menoleh keasal suara


"Allea ngapain disini? " tanya Danendra


"Gue kesini cuma mau minta maaf mungkin dulu gue udah nyakitin perasaan lo" ujar Allea


"Gak Allea gue yang harusnya minta maaf, gue tau sebenarnya dari dulu lo suka sama Max lo cuma bingung sama perasaan lo sendiri" jawab Danendra


"Kita bisa saling memaafkan dan berteman? " tanya Allea


"Ya, tentu.. apa gue boleh peluk lo untuk terakhir kalinya? " tanya Danendra dan Allea mengangguk merentangkan tangannya


Allea dan Danendra saling memeluk dari ke jauhan seseorang menatap dengan kesal mengisyaratkan memotong leher dengan tangan pada Allea, Allea memutar bola matanya jengah lalu melepaskan pelukannya


"Kita masuk, mereka udah nunggu dari tadi" ucap Allea


Danendra pergi lebih dulu sementara Allea menghampiri seseorang yang sedang bersembunyi sedari tadi, Allea berdiri di hadapannya pria itu berdiri hendak meninggalkan Allea


"Tunggu, kenapa lo marah? gue kan udah bilang mau selesaikan semuanya sama Danendra" Allea memegangi tangannya


"Tapi gak usah peluk peluk juga, jangan jangan lo pernah di cium juga? " pria ini sepertinya sedang merajuk


"Mana ada, lo yang ngambil ciuman pertama gue dan lo orang satu satunya yang pernah lakuin itu sama gue" jawab Allea


Allea memutar tubuh Max agar menghadapnya "Jangan marah" Allea tiba tiba memeluk Max membuat Max sedikit terkejut


"Jangan menggoda" ucap Max ketika tangan Allea mengelus ngelus dadanya


"Hehe.. ehh" awalnya Allea hanya terkekeh namun sesaat kemudian Max menyandarkan tubuh Allea di dinding dan memegangi tangannya


Mereka berdua saling menatap terhanyut dalam pemikirannya masing masing, Max memiringkan kepalanya dan mengikis jarak diantara mereka


Mereka saling bertukar saliva seseorang yang ingin memanggil Allea mematung, meskipun sudah merelakan Allea tapi hatinya masih saja sakit melihat pemandangan di depannya


"Dulu lo gak pernah mau kontak fisik sama gue ternyata alesannya karena lo suka sama orang lain" batinnya lalu kembali masuk


"Max stop.. mereka nunggu kita" ucap Allea menjauhkan kepala Max dengan tangannya


"Yah.. sekali Lagi" Max kembali memajukan wajahnya


"Udah.. lain kali aja" rengek Allea membuat Max gemas


Cup.. cup.. cup..


Max mendaratkan kecupan beberapa kali, Allea menginjak kaki Max lalu kabur seraya memeletkan lidahnya


"Dasar nakal" gumam Max mengejar Allea