
Hanya dua hari saja Danendra di rawat di rumah sakit, dia meminta pulang dengan alasan tidak betah di rumah sakit padahal yang sebenarnya dia ingin Max menjaganya dan tinggal di rumah
"Lo ngerepotin aja kenapa gak di rawat di rumah sakit aja sih? " gerutu Max seraya memapah Danendra masuk ke dalam rumah
"Di rumah sakit malah gue lama sembuhnya kalo di rumah kan nyaman jadi penyembuhannya cepet" tutur Danendra
"Lo paling pinter kalo ngeles" hardik Max
"Udahlah kalian kenapa sih ribut mulu" Allea menengahi, dia baru saja menyusul membawa perlengkapan Danendra selama di rumah sakit
Selama beberapa hari Allea menemani Max menjaga Danendra, dia hanya pulang ke rumah Gita untuk mandi dan berganti pakaian saja
"Anterin aku pulang ya" Allea duduk di samping Max yang sedang bermain game
"Ngapain pulang nginep disini aja" Jawabnya seraya tidur di pangkuan Allea
"Gak enak nanti kalo bunda tau, anak gadis gak boleh nginep sembarangan di rumah cowok"
"Kan bundanya gak ada gak bakal tau juga"
"Ya justru karena bunda gak ada makanya aku takut nanti bunda mikirin macem macem"
"Gak lah bunda baik gak akan berpikiran buruk sama orang"
"Tau ahh males ngomong sama kamu"
Max mendongak menatap wajah Allea namun gadis itu hanya cemberut memandang ke arah lain, dengan Jahilnya Max memainkan bibir Allea dengan jari telunjuknya akhirnya Allea yang geram menggigit jarinya
"Aarrggghhh.. sakit" Max mengibas ngibaskan tangannya
"Rasain" ketus Allea
"Tuh kan jadi kalah, ahh kamu sih" Max menggerutu sendiri gara gara dia kalah
"Cih.. salah sendiri mainnya kurang jago" mendengar cibiran Allea Max bangun dan menahan tubuh Allea dengan tangannya kesandaran sofa
"Main apa yang kurang jago? " tanya Max menaik turunkan alisnya
"Apaan sih? cepet anterin aku pulang"
"Gak mau, gimana kalo main dulu baru aku anterin pulang? " goda Max
"Main apa? aku gak bisa main game"
"Siapa bilang main game? aku mau main ini" Max menggelitik Allea, karena terlalu geli Allea sampai tidak sadar dia sudah tidur di sofa meronta memukul Max sekenanya
"Hahaa udah geli.." ucap Allea seraya tertawa
"Max stop aku bener bener marah kalo kamu gak berhenti" Akhirnya tangan Max berhenti menggelitik perut Allea
Namun saat Allea sadar Max sudah berada di atas tubuhnya mengungkung dengan tangan di samping kepala Allea, Mereka berdua saling menatap Allea mengejek memeletkan lidah lalu memalingkan wajahnya
"Issshh nanti ada orang" Allea mendorong tubuh Max saat Max menciumi pipinya
"Gak akan ada yang berani ngomong juga" Allea menggulingkan Max ke bawah kursi
Tawa Allea menggema di ruang keluarga saat dia berhasil menjatuhkan Max, Pemuda itu dengan kesal langsung duduk di samping Allea dan memeluknya erat seperti phyton membelit mangsanya
"Max aku sesak nafas" pekik Allea memukuli lengan Max
"Siapa suruh kamu ngerjain aku huh? rasakan ini"
"Akkhh... lepasin" rengek Allea
"Sayang nanti aku mati" rengek Allea manja
Mendengar rengekan manja Allea membuat Max melonggarkan pelukannya "Panggil apa? " tanya Max
"Gak panggil apa apa" Jawab Allea seraya memalingkan wajahnya
Max mendekati Allea dan berbisik" bilang sekali lagi"
"Aku mau pulang" jawab Allea
"Bukan itu, susah banget sih panggil sayang doang" Max yang gemas menangkup wajah Allea hingga bibirnya seperti ikan
Perlahan Wajah Max mendekat hendak mencium Allea namun Danendra yang baru saja keluar kamar mengacaukannya
Sontak saja keduanya terlonjak dan menjauh satu sama lain, Danendra tertawa seraya berjalan terpincang-pincang pergi ke dapur
"Sialan" umpat Max
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Di rumah Gibran
Gibran sedang menerima telepon dari orang suruhannya yang mengikuti Allea, Semua informasi tentang Allea dan kegiatan apapun yang di lakukan gadis itu selalu di laporkan
"Nona masih di rumah temannya hanya saja beberapa hari ini dia menjaga anak tuan Damian di rumah sakit" ujar pria itu
"Siapa? anak Damian" tanya Gibran ambigu
"Siapa lagi anak tuan Damian bukannya hanya satu? " pria itu balik bertanya
Gibran lupa jika orang orang hanya tau Damian memiliki satu anak yaitu Danendra
"Ohh.. iya iya, tapi Allea baik baik saja kan? "
"Baik baik saja tuan dia selalu bersama tunangannya menjaga anak tuan Damian"
"Baiklah kabari lagi nanti" Gibran menutup teleponnya
Gibran berpikir kenapa Allea dan Max beberapa hari menjaga Danendra, Gibran mengotak atik ponselnya lalu menelpon Damian untuk menanyakan kabar Danendra
"Hallo, kamu dimana? gak jaga Danendra di rumah sakit sampai Max dan Allea berhari hari berjaga disana? " tanya Gibran
"Siapa yang sakit?" Damian malah balik bertanya
"Kamu gak tau? Danendra ada di rumah sakit? "
"Apa? yang bener kamu? mereka gak ada bilang apa apa" Damian mengira Gibran sedang bercanda
"Memangnya kamu dimana sampai gak tau kabar mereka? "
"Ada perjalanan bisnis ke luar negeri aku bawa Lydia juga" Jawab Damian
"Pantas... Tapi aku serius Danendra ada di rumah sakit" Setelah berbincang cukup lama Gibran dan Damian mengakhiri panggilannya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Keesokan harinya Allea yang masih terlelap di kamarnya merasa terganggu dengan tetesan air yang menyiprat ke wajahnya, Allea mengerjapkan matanya berkali kali sebelum benar benar membuka matanya
Sosok pemuda tampan tersenyum dengan rambut basah berada di atasnya, Allea menghela nafas memutar bola matanya jengah lagi lagi Max selalu mengganggunya
"Ganggu orang tidur aja iihh nyebelin" Allea merajuk
"Bangun.. bangun.. pagi pagi mandi biar seger terus sedikit olahraga lemak berlipat tuh" mendengar penuturan Max Allea melotot memukuli Max
Max hanya tertawa menangkap tangan Allea dan menariknya agar bangun dari tidurnya "Mau mandi sendiri apa dibantu? " tanya Max seraya menaik turunkan alisnya
Allea spontan mendorong tubuh Max dan berlari ke kamar mandi, setelah menyelesaikan ritual mandinya di ranjang Allea melihat ada satu setel baju olahraga sport br* dan celana panjang beserta ********** Allea sampai melotot mengangkat bajunya tinggi tinggi
"Dasar m*sum" pekik Allea, dia ingin protes tapi tidak ada baju lain apalagi baju dan ********** basah
Max mengirim pesan menyuruh Allea menuju tempatnya berada, karena malu Allea menggunakan handuk menutupi bagian atas tubuhnya
"Suit.. suit" Max menggoda Allea dengan siulannya
"Dasar m*sum.. cepet cariin baju lain" Allea memukuli Max
"Gak.. aku sengaja kasih baju itu biar kamu liat lipetan di perut kamu udah kayak piramida" mendengar itu Allea memeluk erat handuknya dengan wajah memerah
Max tiba tiba membuka tshirt yang dia pakai dan melemparkannya sembarang arah " biar impas" ucapnya seraya mengedipkan sebelah matanya
Wajah Allea semakin merah dan memilih memalingkan tubuhnya membelakangi Max, terdengar suara kaki semakin mendekat membuat jantung Allea berdebar hebat
Tangan Max menarik handuk Allea dan melemparkannya sembarangan sontak saja Allea menyilangkan tangannya di dada dan Max meraih tangan itu dari belakang, punggung Allea menempel dengan dada bidang Max membuatnya menegang
Allea mematung dengan jantung berdebar hebat "Kenapa tegang? " bisik Max semakin membuat Allea merinding ingin sekali dia lari sekuat tenaga untuk kabur dari sana tapi kakinya seakan berat untuk melangkah bibirnya pun kelu dia hanya mematung
Allea sampai berkeringat padahal belum melakukan apapun