
"Waw.. waw.. waw.. berapa bayaran kamu satu malam? " Emile bertepuk tangan kalau Allea baru saja pulang pagi itu
Tidak merasa tersinggung Allea malah ikut bertepuk tangan berjalan memutari tubuh Emile "Kenapa emang? mau duitnya? " seloroh Allea
"Dasar gak tau malu, jangan tinggal disini kalo kamu cuma bisa bikin malu keluarga" bentak Emile
"Masalah anda apa sih? kenapa anda selalu menghakimi saya memojokan saya untuk hal hal sepele? memangnya anda tahu apa yang saya lakukan semalam? "
"Paling kamu pergi seneng seneng dan tidur sama seorang laki laki atau mungkin bukan seorang tapi beberapa? "nada bicara Emile terdengar penuh ledekan
" Jangan membicarakan sesuatu yang tidak benar apa lagi tidak berdasarkan bukti itu jatuhnya fitnah, semulia apa sih hidup anda sampai selalu memandang rendah hidup orang lain? "
"Anda tau? buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pantas saja anak anda sering melakukan hal hal kotor karena dia terlahir dari rahim orang yang kotor pula" lanjut Allea dengan senyum sinisnya
"Apa maksudmu anak kurang ajar? dasar j*l*ng kamu juga sama dengan ibumu perempuan murahan" bentak Emile hendak menampar Allea namun tangannya di tahan oleh Allea
"Jauhkan tangan kotormu, Ibuku wanita baik baik bukan wanita munafik sepertimu. Berkacalah sebelum bicara.. pembunuh" Allea menegaskan kata terakhirnya lalu melenggang pergi
Emile mengejarnya lalu menarik tangan Allea dan mendaratkan pukulan di wajah Allea sampai gadis itu tersungkur, Allea kembali berdiri mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya
"Kenapa marah? aku bicara fakta ibu suri, kamu yang membunuh nenekku" ucap Allea
"Kamu kira selamanya bangkai itu akan bisa kamu tutupi? tidak, tetap saja bau busuknya akan di ketahui orang" lanjut Allea
"Ya aku memang membunuh nenekmu, Jika kamu macam macam aku tidak akan segan juga membunuhmu" Emile yang kadung emosi mencengkram kerah baju Allea
"Wow ibu suri kamu sangat menyeramkan" ledek Allea
"Sekarang lepaskan tangan kotormu, Terimakasih untuk pengakuannya aku sudah kirim rekamannya pada ayah" Allea melepaskan tangan Emile lalu mengibas tangan di bajunya
"Apa dia bilang? gawat apa dia merekam semuanya? " sejenak Emile terdiam namun saat Allea hendak masuk ke kamarnya Emile kembali menarik tubuh Allea hendak mengambil handphonenya
Mereka berdua berebut handphone Allea hingga dengan kasarnya Emile mendorong Allea sampai punggungnya terbentur dinding dan membanting handphone Allea hingga berkeping keping
"Iisshh.. auu.. " Allea berdiri memegangi punggungnya
"Tidak masalah ibu suri aku sudah mengirimnya pada beberapa orang pengakuanmu tidak bisa di hilangkan " ucap Allea
"Kurang ajar" Tangan Emile menggantung di udara karena seseorang membentaknya
"Emile... " suara bariton itu menggema di seluruh ruangan membuat orang yang mendengarnya akan terlonjak
"Ka.. kapan kamu pulang,? " Emile berusaha menutupi kelakuannya dan mendekat ke arah Gibran
"Kenapa kamu mau menampar anakku? " tanya Gibran
"Kenapa kamu tega menampar Allea sampai berdarah? " bentak Gibran membuat Emile terlonjak
"Ayah gak baca pesan dari Allea? " mendengar pertanyaan Allea Gibran mengambil handphonenya di dalam saku
"Maaf sayang ayah gak tau kalau kamu kirim pesan" Gibran hendak membuka pesan dari Allea namun Emile hendak mengambil handphone Gibran
terjadi aksi saling tarik hingga handphone itu jatuh dan memutar sendiri rekaman suara yang di kirim Allea, Wajah Gibran sudah memerah menahan amarah dia benar benar kecewa kali ini
Tanpa bicara Gibran menarik tangan Emile kemobilnya, mobil Gibran melesat ke kantor polisi untuk melaporkan semua perbuatan istrinya itu. Gibran takut jika sewaktu waktu Emile juga melenyapkan Allea
Saat sedang di interogasi tiba tiba tubuh Emile terhuyung dan jatuh di lantai
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Kenapa lagi sih mobilnya? itu mobilnya emang jelek apa dia sengaja sih" gerutu Max berjalan keluar
"Mobil lo kenapa lagi sih? gue rasa bukan mobilnya deh yang bermasalah tapi lo" ucap Max
"Mobil gue remnya gak berfungsi coba lo cek" ucap Yuki
"Gue kerjain nanti, lo pergi aja gak usah di tungguin" jawab Max malas lalu kembali ke dalam
Selang beberapa waktu Max berniat membetulkan mobilnya tapi Yuki belum juga pergi dia duduk di dekat mobilnya, Max sudah malas melihat Yuki yang setiap hari ada saja alasannya untuk pergi ke bengkelnya bahkan dia tidak mau pergi sebelum mobilnya selesai di perbaiki
"Max" panggil Yuki ketika melihat Max sudah mendekati mobilnya
"Stop.. tetap di tempat lo atau pergi" ketus Max
Yuki mengurungkan niatnya lalu kembali duduk di tempatnya dia hanya bisa melihat Max berkutat sendiri memperbaiki mobil Yuki, Max juga tidak memperdulikan apapun yang jelas dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar Yuki cepat pulang
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sampai sore Allea menunggu ayahnya belum juga kembali, tiba tiba pintu terbuka Allea yang tadinya berniat menyambut ayahnya mendadak mematung seketika ketika melihat siapa yang pulang bersama ayahnya
"Ayah.. kenapa mereka? " Allea tidak meneruskan pertanyaannya dia Seolah tidak sanggup berkata kata lagi
"Kalian masuk, sayang ayah perlu bicara" Gibran menarik lembut tangan Allea ke ruang kerjanya
"Kenapa mereka berdua bisa bebas yah? " tanya Allea terlihat raut kecewa di wajahnya
"Maafkan ayah sayang Emile hamil ayah tidak bisa membiarkan calon anak ayah menderita di dalam penjara" lirih Gibran lemah
"Lalu Cindy? "
"Emile memohon agar membawa Cindy pulang sekali lagi ayah minta maaf tapi ayah janji mereka tidak akan berani menyakiti kamu lagi" ucap Gibran
"Kenapa yah? Allea padahal sangat berharap ayah bisa melakukan sesuatu untuk Allea, Allea pikir ayah .. ahh sudahlah kali ini Allea benar-benar kecewa sama ayah" Suara Allea bergetar air mata menggenang di pelupuk matanya
"Sayang dengar ayah, ayah gak mau melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya kamu pernah merasakan bukan hidup tanpa ayah selama ini ayah tidak ingin anak yang lain merasakannya. Cindy dia saudara kamu maafkan dia setiap orang dapat berubah nak"
"Allea maafin mereka tapi Allea gak bisa tinggal satu atap sama mereka yah, biar Allea yang pergi" Allea berdiri hendak melangkah pergi
"Sayang dengar ayah nak maksud ayah baik, jika saja Emile tidak mengandung ayah sudah jebloskan dia ke penjara" mendengar perkataan Gibran Allea berhenti sejenak
"Allea cukup tau ini keputusan yang ayah ambil, Allea cukup kecewa yah Allea kira ayah akan selalu lindungi Allea. menjadi rumah untuk Allea ternyata Allea salah lebih baik dulu ayah gak perlu bujuk Allea kembali ke sini"
"Dan ini berikan pada penjahat itu, anting yang tidak sengaja tertinggal di kamar nek Mar saat dia meninggal" lanjut Allea memberi sebelah anting yang dia ambil dari sakunya
Allea masuk dan mengunci pintu kamarnya membereskan barangnya lalu di masukan kedalam koper, Gibran menggedor pintu kamar anak gadisnya dia pikir Allea tidak akan benar benar pergi namun dia salah Allea membuka pintu kamar dengan menyeret kopernya
"Allea kembalikan semuanya, Terima kasih selama ini ayah udah mau Terima Allea" Allea memberikan kunci mobil kartu kredit dan kartu lain yang di berikan Gibran
"Sayang jangan pergi ayah mohon, ayah akan membelikan rumah baru untuk mereka kamu bisa tenang tinggal disini" ucap Gibran
"Yang Allea butuh bukan rumah yang hanya sebuah bangunan, Allea butuh rumah yang benar benar membuat Allea merasa nyaman dan aman bukan sekedar tempat tidur dan tempat berteduh" Allea menarik kopernya keluar rumah Gibran berusaha keras menahan Allea namun gadis itu tidak mau dengar
Dia masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan meninggalkan rumah besar itu dengan kekecewaan terhadap ayahnya