My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Perasaan yang sensitif



"Yang"


"Hhmmm.. " singkat Allea matanya masih terpejam


Max terus saja mengusik tidurnya dengan berbagai cara namun allea tak bergeming,


"Sayang aku mau.. "


"Apa sih? aku ngantuk" lirih Allea


"Kamu mau kamu"


"Terserah.. lakukan aja, aku ngantuk" Max memulai keinginannya setelah sangat istri memberikan izin


.


.


"Anak anak ini sudah jam berapa belum juga bangun" gerutu Oma yang masih betah menginap di rumah cucunya


Tok tok tok


"Bangun.. sudah siang kalian mau tidur sampai kapan" Oma menggedor pintu kamar Max dan Allea


"Apa Oma? " tanya Max seraya membuka pintu matanya masih terpejam, Max hanya menggunakan celana pendek bertelanjang dada


"Sudah siang kenapa masih tidur?"


"Semalam begadang mau buatin Oma cicit" Jawab Max


"Dasar gak tau malu, bangunkan Allea nanti dia sakit kalau melewatkan sarapannya" Oma memukul kepala Max dengan kipas yang selalu di lipat di tangannya


"Hmm.. Iya" Max menutup pintu sambil mengusap kepalanya padahal Oma masih ada di depan pintu


"Maxime kamu kurang ajar sekarang ya" pekik Oma


"Oek.. oek.. " terdengar suara dari dalam kamar Oma menjadi khawatir, dia mengira Allea yang sedang mual karena melewatkan sarapannya


"Allea.. kenapa nak? " tanya Oma nyelonong masuk ke dalam kamar


Wajah Allea memerah pasalnya dia juga baru terbangun karena mendengar suara Max dari kamar mandi, Allea masih duduk dengan selimut menutup tubuh polosnya, Pakaian berserakan di bawah membuatnya semakin malu


"Ahh.. maaf, Oma kira kamu tadi sakit" ucap Oma


"Gak apa apa Oma.. itu Max dia memang setiap pagi sering mual" jawab Allea tersenyum kikuk


"Urus dia, lalu segera sarapan nanti kamu juga sakit"


"Baik Oma" setelah Oma keluar Allea bergegas turun hanya di lilit selimut tebal


"Sudah lebih baik? " tanya Allea seraya memijat tengkuknya


Max berdiri berpegangan pada dinding menatap Allea di depannya, tatapannya mengarah ke bawah pada dua gundukan yang tertutup selimut sontak saja Allea menyilangkan tangannya


Max menarik selimutnya ke bawah Allea menariknya lagi ke atas begitu sampai tiga kali, terakhir Max menarik paksa selimut dari tangan Allea dan melemparkannya membuat tubuh polos Allea terpampang nyata


"Sayang.. " Allea ingin kabur namun lrencananya gagal Max menarik pinggangnya dan mengangkatnya duduk di samping wastafel


"Aku lapar" lirih Allea


"Sebentar sayang" jawabnya, Allea hanya pasrah dia sudah tau kata sebentar yang di lontarkan suaminya tidak seperti kenyataannya


Benar saja Allea manyun saat sedang makan karena sarapannya di gabungkan dengan makan siang, Max sesekali melirik dengan tersenyum puas


"Kamu sakit Max? " tanya Oma yang baru saja ke dapur


"Gak.. saya baik baik aja"


"Tapi tadi kamu muntah muntah" ucap Oma


"Gak tau akhir akhir ini jadi sering muntah pagi pagi makanya gak sarapan" jawab Max


"Allea hamil? " tanya Oma


"Ada sebagian orang yang hamil tapi yang ngidam suaminya, sudah di periksa? " keduanya kembali menggeleng


"Kalau begitu periksa" titahnya, wajah Allea menjadi sendu


"Oma Allea permisi ke toilet dulu" ucap Allea lalu pergi


"Jangan membahas masalah kehamilan Oma dia sensitif" bisik Max


"Kenapa? dia tidak mau punya anak? " tanya Oma


"Bukan, dia pernah keguguran mungkin kali ini dia takut terjadi kejadian yang sama" ucapnya


"Kamu menghamilinya sebelum menikah? " tanya Oma wajahnya sudah terlihat kesal bersiap memukul kepala Max


"Bukan.. itu terjadi setelah menikah Oma berpikir buruk terus" gerutu Max


"Oma kira kamu jadi bajingan meniduri anak orang sebelum menikah" Max hanya tersenyum kikuk kenyataannya dia memang melakukannya.


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


"Lagi apa nak? " tanya Lydia melihat Danendra duduk melamun di belakang rumah


"Gak apa apa bun" Lydia duduk di sebelah Danendra seraya mengusap bahunya lembut


"Ada masalah? " tanya Lydia


"Bunda kalo mama Selvi datang di kelulusan nanti gimana? " tanya Danendra ragu


"Tidak apa apa, hubungan kalian sudah lebih baik? " tanya Lydia


"Ya... Tapi gak sebaik itu"


"Itu juga sudah cukup bagus, dengarkan bunda bagaimana pun buruknya orang tua kita tapi darah yang mengalir di tubuh kita sama dengan mereka jangan terlalu lama memendam kemarahan bagaimana pun dia di masa lalu tetap saja dia ibu kita syurgamu ada padanya jangan membuatnya terluka" ucap Lydia, Danendra memandang lekat wajah Lydia


"Andai saja aku anak kandung bunda" lirihnya


"Bunda juga bukan ibu yang baik, kamu tahu sendiri Maxime sudah keluar sejak lama dari rumah kehadiran Allea lah yang membuatnya sedikit mencair" Lydia bicara sambil beberapa kali menghembuskan nafas berat


Mungkin di setiap perkataannya tersimpan rasa pilu mengingat dia tidak bisa memperjuangkan hak anak kandungnya, ada beberapa hal yang ingin dia ubah namun tampaknya Damian menyuruhnya tetap diam


"Ada masalah bun?" tanya Danendra


"Aahh.. tidak, bunda masuk dulu" Lydia bisa saja berbohong namun matanya berkaca kaca menunjukan dia tidak baik baik saja.


.


.


Setelah makan malam Danendra hendak masuk ke ruangan kerja ayahnya namun dia mematung di depan pintu ketika mendengar orang tuanya ribut


"Aku akan umumkan setelah kelulusan mereka bahwa Danendra akan menjadi penerus" ucap Damian


"Kamu belum bertanya sama Maxime dia akan terluka dengan keputusan ini, dia akan semakin tidak dianggap "


"Danendra sudah tau seluk beluk perusahaan sementara Max dia sibuk dengan bengkelnya, dia tidak pernah bersedia membantu di perusahaan"


"Itu karena dia masih begitu canggung denganmu, dia pasti akan belajar dengan cepat harusnya hal ini harusnya di diskusikan lagi dengan anak anak"


"Keputusanku sudah bulat"


Braakk


"Lalu kapan kita akan mengakui Maxime secara sah? dia anak kandung kita, apa secinta itu kamu pada Selvi sampai kamu begitu menyayangi anaknya? sementara Maxime bahkan kamu tidak peduli dengan kesulitannya di luar sana. kenapa kamu gak nikahi wanita itu dan hidup bahagia bersama'' Baru kali ini Lydia bersikap sekasar itu sikap lembutnya hilang kali ini


Danendra bersembunyi saat pintu terdengar hendak di buka, Lydia langsung masuk ke dalam kamarnya. Danendra pun mengurungkan niatnya untuk menemui Damian dia masuk ke kamar merenungkan pertengkaran Damian dan Lydia


"Semua gara gara kehadiran gue, bunda bener bagaimana pun Max adalah anak kandungnya sementara gue.. " lirih Danendra


Semalaman dia tidak bisa tidur Danendra hanya memikirkan hal itu, sampai pagi menjelang dia tersadar dari lamunannya ketika pintu di ketuk dari luar