
"Kamu sangat senang? " tanya Allea saat berada di dalam mobil
"Emhh.. tidak juga, biasa aja" jawab Max
"Bohong.. aku bisa liat dari ekspresi wajah kamu"
"Jadi istri aku udah jadi pakar ekspresi? " goda Max
"Aku suka liat kamu tersenyum, tertawa bahagia entah itu sama aku atau sama orang lain"
"Jadi kamu rela aku bahagia sama orang lain? " tanya Max
"Gimana ya? asalkan kamu bahagia aku rela" ucap Allea membuat Max seketika langsung menghentikan laju mobilnya
"Kenapa? " tanya Allea
"Aku yang gak rela, aku gak mau kebahagiaan kalo itu tanpa kamu" ucap Max
" Si gombal" ledek Allea
"Aku serius, kebahagiaan aku cuma ada sama kamu dan dua baby ini" ucap Max sambil mengelus perut Allea
"Kamu gak akan ninggalin aku kan? " tatapan Allea seolah tidak ingin berpisah dari Max
"Selama aku hidup aku gak akan ninggalin kamu"
"Kalo aku mati duluan apa kamu mau nikah lagi? " tanya Allea
"Hei.. kenapa ngomongnya gitu? jangan ngomong yang enggak enggak"
"Jawab aja aku cuma mau tau"
"Meskipun ayah aku gak setia sama bunda tapi itu gak berlaku buat aku, aku gak akan cari cewek lain dan gak akan cinta sama cewek lain kalo itu bukan kamu" jawab Max
" Boleh peluk? " tanya Allea
Max memundurkan kursi mobilnya lalu merentangkan tangannya, Allea beralih duduk di pangkuan Max saling berhadapan
"Aku sayang sama kamu" Sedetik kemudian keduanya saling berciuman mesra
"Kita lanjut di rumah" ucap Max mengakhiri semuanya, ketika Allea hendak berpindah kursi Max menahannya
"Duduk disini aja"
"Nanti kamu susah nyetirnya" jawab Allea
"Aku bisa, apa yang gak bisa di lakukan seorang Maxime? apa lagi kalo cuma begini"
"Sombong" ledek Allea seraya menyentil bibir Max
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Lydia duduk disamping Damian dengan tatapan kosongnya, ingatannya berputar saat mereka berada di rumah sakit tadi
"Maafkan aku Lydia, selama ini aku sudah benar benar mengacau di kehidupan kalian, terimakasih sudah membesarkan Danendra, aku gak tau bagaimana keadaan Danendra kalau bukan kalian yang mengurusnya, aku bukan ibu yang baik" ucap Selvi yang berlutut di hadapan Lydia
"Tidak apa apa aku memaafkanmu dan jangan ulangi kesalahan serupa, Danendra sedari kecil bersama kami jadi walaupun aku tahu dia anakmu tapi aku tetap menyayanginya sama seperti menyayangi Maxime" jawab Lydia memegang bahu Selvi dan membangunkannya
"Nak hatimu lembut seperti bundamu, memang tidak salah lagi kamu putranya, kebaikannya, murah hati semua menurun padamu, maafkan aku yang selama ini menyakitimu membuatmu menderita, aku menyesal" Selvi hendak kembali berlutut namun Max menghentikannya
"Tidak perlu sampai seperti itu, semua orang mempunyai kesalahan jalan terbaik adalah memperbaiki diri dari pada hanya menyesalinya" ucap Max
"Aku juga minta maaf pada kalian semua karena kesalahanku, kalian menderita aku bertanggung jawab untuk ini" ucap Damian
"Dan Lydia bisa kah kita mengulang semuanya lagi dari awal, maafkan aku selama 19 tahun ini, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu tapi egoku terlalu tinggi aku akan memperbaiki semuanya" Damian mengucapkan kata katanya seraya menggenggam tangan Lydia
"Aku bisa memaafkanmu jika Max di akui putra sah keluarga kita, jika tidak maka aku hanya bisa memberimu surat cerai" ucap Lydia
"Aku sebenarnya sudah lama menyiapkan surat surat resmi untuk mengakui Max tapi nyaliku terlalu kecil untuk mengakui kesalahanku pada orang lain.. maafkan ayah yang tidak berguna ini nak, ayah tidak pernah ada di sampingmu sampai kamu sebesar ini"
"Kebahagiaan bunda lebih utama jangan sakiti bunda lagi saya tidak perlu apapun selama bunda dan Allea bahagia" ucapnya
Permasalahan keluarga ini sepertinya sudah selesai, mereka saling memaafkan demi kehidupan yang lebih bahagia kedepannya
Cindy sedari tadi hanya menonton sambil sesekali mengusap air matanya, Allea yang berada di samping Max beralih duduk di samping Cindy
"Lo kenapa? " tanya Allea
"Gue jadi inget mommy.. kenapa mommy gak mau ngakuin kesalahannya padahal gue mau hidup bahagia seperti kalian saling memaafkan"
"Setiap orang punya prosesnya masing masing, bukan hal mudah meminta maaf dengan tulus mungkin ibu suri udah menyesali perbuatannya tapi dia gengsi mau minta maaf" ucap Allea seraya memeluk Cindy
"Hehe kebawa sampe sekarang" Allea hanya tertawa kecil saat mendengar ucapan Cindy
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Sayang mama katanya sakit kamu mau ikut kesana? " tanya Dito
"Aku gak tau.. aku pengen ikut tapi takut" lirih Gita
"Gimana kalo kita kesana sebentar aja, abis liat keadaan mama kita pulang siapa tahu nanti mama liat Dirga jadi luluh" ucap Dito
"Kamu gak tau aja dia sebut Dirga anak haram di hadapannya sendiri" batin Gita
"Ya udah tapi sebentar aja ya" ucap Gita
"Iya"
.
.
Sesampainya disana Gita ragu ragu untuk masuk namun Dito meyakinkannya, Gita melangkahkan kakinya masuk ke kediaman Dito dengan perasaan waswas
"Hai..kak sudah sampai? sini Dirga biar aku aja yang gendong" ucap Adik Dito mengambil Dirga
"Kakak istirahat aja dulu atau mau makan? makanan udah ada di meja makan" lanjutnya
"Kita ke kamar dulu titip Dirga ya" ucap Dito yang hanya diangguki adiknya
"Kamu gugup? " tanya Dito menggenggam tangan Gita
"Ini salah.. aku mau pulang"
"Kita belum mencobanya, setelah bertemu mama kita pulang ya"
"Aku takut" lirih Gita
"Gak ada yang perlu di takutkan, aku ada disini"
Sementara itu adik Dito membawa Dirga ke kamar orang tuanya, ayahnya menyambut dengan hangat cucu pertamanya
"Hai.. cucu ganteng opa udah datang, makin tembem aja" Ayah Dito mengambil Dirga dari pangkuan adik Dito
"Papa baru juga gendong bentar" protesnya
"Opa kan juga kangen ya.. liat dia senyum, lucu ya" Papa Dito menunjukkan wajah Dirga pada adik Dito yang duduk di samping ibunya
Tanpa sadar ibu Dito ikut tersenyum sesaat kemudian menyadari tatapan dari kedua orang di dekatnya membuat ibu Dito memalingkan wajahnya
"Coba kak Gita lebih lama disini ya pa, rumah pasti gak sepi ada kak Dito lagi di tambah kak Gita sama Dirga" lirih adiknya dengan wajah sedih
"Iya.. papa iri sama besan yang setiap hari menimang Dirga padahal papa juga mau sebelum dan sepulang kerja bisa main sama Dirga pasti capek papa hilang" setelah mengatakan keluhan keduanya keluar membiarkan ibu Dito sendiri di kamar
"Mama juga mau pa, tapi apa Gita akan sudi memaafkan mama? " Batinnya
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Makan sedikit Ki" ucap Jonathan
Yuki hanya diam sudah beberapa hari dia tidak makan membuat Jonathan khawatir, Yuki masih ingin Jonathan membantunya mendapatkan Max meskipun dia sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak
"Sadar dong Ki sadar.. Max udah punya istri dan sebentar lagi punya anak, lo mau hidup anaknya sama kayak kita? apa lo tega buat anak lain mengalami hal yang sama setelah apa yang terjadi sama kita ? mikir" Jonatan sudah frustasi, dia menyimpan mangkuk di meja dengan keras
Prang
Yuki melempar mangkuk yang di simpan Jonathan lalu mengambil serpihannya dan menggores pergelangan tangannya, Darah mengalir dari tangan Yuki membuat Jonathan panik
"Astaga apa lo gila? " Jonathan mengangkat tubuh Yuki dan memanggil dokter
"Lo bersikeras bela Allea gue juga akan bersikeras celakain diri gue sendiri" ancam Yuki ketika dokter sudah keluar
"Gue bukan belain Allea tapi cara lo salah, lo gak bisa ngambil suami orang"
"Gue gak denger lo ngomong apa, semakin lo lambat dalam bergerak semakin cepat juga Allea ada di dalam tanah" ucap Yuki dengan seringai jahatnya
"Arrrggghhh... oke gue bantuin lo dengan cara gue, jangan bertindak gegabah apalagi lo sakitin Allea" teriak Jonathan frustasi lalu keluar dari ruangan Yuki
"Gue gak janji Jo" gumam Yuki
Jangan lupa like komen dan vote ya