My Trouble Maker Secret Husband

My Trouble Maker Secret Husband
Geng Jonathan



Max baru saja pulang dari rumah Allea dia segera ke kamar Omanya, belum sempat masuk dia mendengar obrolan seseorang dari dalam. Max sedikit mengintip dari pintu yang sedikit terbuka


"Ternyata mereka" batin Max seraya berbalik hendak pergi


Namun sialnya pintu itu malah terbuka hingga terdengar suara pintu itu terbuka, semua yang ada di ruangan itu berbalik ke arah pintu yang terbuka


"Maxime" Lydia segera mengejar Max yang sudah berlalu


"Tunggu nak" Lydia berhasil meraih tangan Max


"Ada apa? " tanya Max dingin


"Maafkan bunda sama ayah nak" lirihnya


"Jangan temui saya lagi anggap kita tidak saling mengenal" Max menepis tangan Lydia dan masuk ke Kamarnya


"Maxime buka pintunya" Lydia mengetuk pintu berulang kali


"Stop berpura pura baik, kalian sama saja tidak ada yang lebih baik di antara kalian" teriak Max dari kamarnya


"Kita bicarakan ini baik baik nak"


"Saya memang tidak di harapkan sejak awal, biarkan saya selamanya di anggap anak haram" Max bicara berteriak teriak lalu terdengar suara benda benda pecah dari dalam kamarnya


"Maxime suara apa itu nak? " Lydia semakin panik mendengar sesuatu sepertinya menghantam kaca


"Kenapa lagi ini" Oma tergopoh gopoh di bantu Damian menghampiri Lydia


"Maxime ma... dia di dalam sepertinya ada benda yang pecah" Ucap Lydia dengan panik


"Dia pasti melukai dirinya sendiri, kalian pulang biarkan dia tenang dan jangan temui dia dulu"


"Tapi ma... "


"Bukankah ini kemauan kalian? ini yang aku khawatirkan Max sudah menderita dari kecil tapi kalian mengabaikan perkataanku, sekarang pergilah biar Max hidup denganku" Oma terlanjur kecewa dengan keputusan Lydia dan Damian yang tak kunjung bicara pada Danendra


Damian membawa Lydia yang menangis pergi dari sana dan Oma membuka pintu kamar Max dengan kunci cadangan, pintu terbuka tampak kamar yang begitu berantakan dengan pecahan kaca dan darah


Max duduk di ranjang dengan nafas tersengal darah mengucur didi tangannya mengotori sprei, Oma mendekati Max dan duduk di sampingnya meraih tangan itu dan mengusapnya


"Ada Oma Max semua akan baik baik saja tanpa mereka" Oma menenangkan Max


"Oma benar, saya tidak seharusnya menuntut pengakuan dari mereka" lirih Max masih mengatur nafasnya


"Oma keluar dulu saya mau mandi" titah Max


"Tapi lukamu"


"Nanti saya obati"


...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...


Gibran pergi ke rumah sakit karena permintaan Emile dia menuturkan bahwa Cindy ingin di temani mommy dan daddynya, sementara Allea di rumah hanya berdua dengan bibi di rumah


Allea yang merasa jenuh malam itu pergi ke luar diantar supir di tengah perjalanan dia melihat Max yang sedang duduk di jembatan sendiri dengan keadaan gelap


"Max ngapain disini? " tanya Allea


"Gue lagi pengen sendiri" jawab Max


Allea kembali ke mobilnya Max mengira dia memang pergi karena suara mobil sudah pergi menjauh namun ternyata Allea masih disana dan sekarang duduk di sebelah Max


"Are you okay? " tanya Allea melihat wajah Max yang tanpa ekspresi


"Kenapa lo gak pulang?" bukannya menjawab Allea malah menarik Max ke dalam pelukannya


Max hanya diam saja karena memang itu yang dia butuhkan sekarang


"Semua akan baik baik aja, gue gak tau masalah lo apa tapi gue percaya lo bisa lewatin semuanya, gue selalu ada buat lo" ucap Allea seraya mengusap punggung Max


Tangan Max terulur memeluk tubuh kecil Allea dia benar benar merasa jauh lebih baik, setelah Allea melepaskan pelukannya Max tidur di pangkuan Allea menatap wajah gadis itu dari bawah


"Gue gak punya siapa siapa lagi selain lo dan Oma" lirih Max


"Maksudnya? "


"Gue minta apapun yang terjadi jangan menjauh dari gue" lanjut Max, Allea terlihat mematung mencerna perkataan Max


"Meskipun suatu saat lo punya pacar, please jangan menjauh dari gue"


"Seperti apa perasaan lo sama gue? " tanya Allea


"Maksudnya? "


"Ahh gak lupain aja" Allea memalingkan wajahnya merutuki kebodohannya bertanya demikian


Tangan Allea yang semula mengelus kening Max terhenti Max meraih tangan itu dan mengecupnya lalu menaruhnya di dadanya berharap Allea bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang ketika bersamanya


"Tangan lo kenapa? " Allea mengangkat tangan Max yang di balut perban


"Luka kecil"


"Kebiasaan" Allea menghempas tangan Max


"Jangan kebiasaan nyakitin diri sendiri" lanjut Allea


"Hhmm" singkat Max memejamkan matanya


Segerombolan pemotor berhenti di dekat mereka membuat Allea menghalau sinar lampu yang menyorot mereka


"Hei matiin lampunya" pekik Allea


"Wah wah wah sepasang muda mudi sedang pacaran rupanya" ujar seseorang yang turun dari motornya


Melihat kedatangan Jonathan sontak membuat Max berdiri seraya membantu Allea berdiri, Allea bersembunyi di belakang punggung Max


"Kenapa sembunyi cantik" goda Jonathan seraya memegang lengan Allea yang menyembul di belakang Max


"Jangan sentuh dia bajingan" sarkas Max


"Kenapa? lo marah? dia pacar lo? cantik lebih baik lo sama gue daripada sama pecundang kayak dia, gue yakin lo akan gue puasin kalo perlu sampe..." Jo menggantung kata katanya seraya memperagakan tangannya seperti orang hamil


Bugh


"Jaga bicara lo anj*ng, dia bukan cewek murahan kayak dia" Max menghajar Jo bertubi tubi hingga dia tersungkur


"Max udah kita pergi" Allea ketakutan melihat teman teman Jo seperti mengambil ancang ancang hendak menyerang Max


"Gue gak akan pergi sebelum dia mati" Max menunjuk Jo yang masih duduk di aspal


"Percaya sama gue itu gak akan lebih baik kedepannya buat lo, ayo pergi" Allea menarik tangan Max


"Kenapa lo takut? pergi bawa J*l*ng lo dari sini " teriak Jo


"**Hahaha**" suara tawa teman-teman Jo riuh


Mendengar itu Max berbalik hendak kembali memukul Jo namun Allea menarik tangannya dan menggeleng wajah Allea sudah ketakutan namun Max juga tidak Terima Allea di sebut begitu rendahnya oleh Jo


"Gue gak apa apa ayo pergi" Nada bicara Allea sudah gemetar dengan mata yang berkaca kaca


Max lebih mementingkan keselamatan Allea dia pergi membonceng Allea dengan motornya, suara ejekan terdengar riuh dari belakangnya, Allea memeluk erat Max dari belakang seolah takut jika Max kembali tersulut emosi dan berbalik berkelahi dengan mereka


"Jangan dengerin Max, jangan berhenti gue takut" Max memegang tangan Allea yang melingkar di perutnya


Tangan Allea begitu dingin karena ketakutan Max mengelus tangan Allea memberi rasa aman padanya, bisa di bayangkan jika Max melawan segerombolan orang tersebut akan seperti apa nasibnya dan Max


"Max jangan selalu buat gue khawatir" ucap Allea yang meletakkan dagunya di bahu Max


Max dengan jahil menoleh dan menekan pipinya ke belakang sehingga Allea mencium pipinya, senyum terukir di wajah Max sementara Allea mematung mencerna apa yang baru saja terjadi