
"Sayang" rengek Max mencubit cubit pelan lengan Allea yang sedari tadi hanya diam mengacuhkannya
Allea menepis tangan Max dan bergeser menjauh namun dia tidak patah semangat, Max kembali mendekat melingkarkan tangannya di pinggang Allea dan menopangkan dagunya di bahu Allea
Allea mendorong kepala Max menjauh dan Max malah menarik kaki Allea membuat tubuhnya setengah bersandar di pintu mobil, Max berada di atas tubuh Allea dan mengunci pergerakan tangannya
"Jangan begini malu sama wawan" ucap Allea berusaha melepaskan diri
"Biarin aja dia lagi fokus nyetir"
"Wan singkirkan bosmu yang gila ini" pekik Allea
"Jangan marah lagi yang, tadi kamu udah baik sama aku kenapa sekarang mulai lagi? "
"Aku cuma kasihan, sekarang pergi aku pegel" teriak Allea
"Baiklah" Max mengangkat tubuh Allea dengan mudahnya dan memindahkannya ke pangkuan
"Ini memalukan, lepasin gak? atau aku turun" ancam Allea
"Kamu ngancam aku? "
"Aku bisa bikin Wawan lihat permainan panas kita, gimana? " bisik Max kembali mengancam
"Jangan gila, kamu gak akan berani"
"Ohh.. ya siapa bilang? "
"Arrrggghhh.. lepas" Allea menyingkirkan tangan Max dari balik dress nya
"Jangan bertingkah seperti itu sayang.. nanti Wawan tau apa yang kita lakukan" bisik Max membuat Allea diam seketika
"Dengarkan aku, aku minta maaf kemaren pulang telat karena aku gak sengaja nimpuk kepala Miranda pake bola basket sampai pingsan tapi sumpah aku gak pegang dia sedikitpun karena Bisma yang angkat dia" Allea menatap curiga pada Max
"Sumpah yang.. aku sama sekali gak sentuh dia yang bawa ke dalam rumah sakit aja perawat, aku cuma nunggu dia sadar takutnya mati nanti aku masuk penjara, kalo gak percaya tanya Bisma sama sahabat sahabat kamu" lanjut Max
"Tapi aku masih kesel aku nunggu disana dari sore sampai malem" rengek Allea
"Ya aku minta maaf, jangan cuekin aku lagi"
"Tapi masih kesel"
"Aku ajak ke sana lagi gimana? " bujuk Max membuat mata Allea langsung berbinar
"Aku setuju" Jawab Allea lansung memeluk Max
"Semudah itu? kenapa gak dari kemaren aja" batin Max
Tangan Allea terulur memegangi leher Max dan membelainya membuat jakunnya naik turun menelan salivanya, Max menahan tangan Allea di dadanya namun Allea semakin menjadi malah menyusuri leher Max dengan bibirnya
"Sayang" desis Max saat allea menggigit pelan jakunnya
"Aku kangen " ucap Allea mengecup bibir Max beberapa kali
Max membuka jasnya dan menutupi kepala Allea entah apa yang dua makhluk itu lakukan yang pasti itu membuat wawan ingin melompat dari mobil saat itu juga
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Damian termenung di kamarnya menatap keluar jendela, sementara Lydia duduk di ranjang dengan keadaan yang sama, ingatan Lydia kembali pada kejadian tadi saat wartawan memberondong mereka dengan pertanyaan seputar keputusan Danendra yang mengumumkan dirinya adalah anak haram
Sementara Danendra dia tidak berani pulang kerumah Damian dia memutuskan pulang ke apartemen Selvi, Meski berada di apartemennya namun Danendra tetap saja tidak banyak bicara
"Mau makan sesuatu sayang? " tanya Selvi
"Aku tidak lapar" jawab Danendra
Tok tok tok
Selvi membuka pintu apartemen yang di ketuk seseorang, Jeremy muncul membawa banyak makanan karena dia tahu Danendra menginap disana
"Dimana dia? " tanya Jeremy
"Ada di kamar mungkin dia sedang tidak ingin di ganggu" jawab Selvi sambil memindahkan makanannya ke dalam piring
"Aku coba siapa tau dia mau keluar"
Jeremy mengetuk pintu lalu masuk karena tidak mendapat jawaban, Danendra masih di posisi yang sama hanya duduk melamun
"Kamu Danendra? " tanya Jeremy membuat Danendra menoleh
"Ya.. siapa anda? "
"Aku Jeremy, teman mamamu"
"Teman atau?? .... " Danendra menggantung perkataannya
"Kamu menyukai mama Selvi? " tanya Danendra
"Mau dengar ceritaku? "
"Silahkan ceritakan saja" jawab Danendra
"Dari dulu aku mencintai mamamu sejak dia masih bekerja di rumah ayahmu, aku bertemu dia di jalan membawa belanjaan yang cukup banyak dan aku tidak sengaja menabraknya. Entah sihir apa yang ibumu punya sampai aku begitu terpesona pada pandangan pertama"
"Lalu kenapa kamu tidak bisa mendapatkan mama? " tanya Danendra
"Itu dia.. mamamu sangat mencintai ayahmu, aku sering bertemu mereka di berbagai tempat sepertinya mereka memiliki hubungan pikirku saat itu. Aku mundur saat itu membiarkan mamamu bahagia dengan kekasihnya tapi beberapa bulan kemudian aku bertemu mamamu menangis sendirian di sebuah jembatan"
Flashback on
"Jangan " Jeremy memeluk Selvi dari belakang mengira dia akan melompat
"Lepas... apaan sih" Pekik Selvi melepaskan tangan Jeremy
Selvi menangis menjatuhkan dirinya terduduk di aspal, Jeremy yang kebingungan akhirnya ikut duduk di samping Selvi
"Apa yang terjadi? " tanya Jeremy
"Kenapa? kenapa dia mencampakkan aku? kenapa dia tidak mau anak ini? " ucap Selvi dalam isak tangisnya
Bak di sambar petir Jeremy mematung mendengar wanita yang dia cintai hamil anak orang lain, Jeremy tidak bisa berkata kata dia memeluk Selvi bahkan sekarang Selvi tidak menolaknya
"Aku bukan wanita baik baik, aku kotor" lirih Selvi
"Hei.. tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang suci semua orang punya dosa jangan menyalahkan diri kamu sendiri " Jeremy menenangkan Selvi
"Lalu aku harus bagaimana dia tidak mau bertanggung jawab, istrinya juga hamil mereka dari keluarga terpandang aku tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang" Tangis Selvi semakin menjadi
"Aku akan tanggung jawab untuk anak ini" mendengar itu Selvi sontak melepaskan pelukan Jeremy
"Tidak.. aku tidak mau pria lain kalaupun dia tidak mau bertanggung jawab aku tidak akan menikah dengan siapapun, aku hanya mencintainya"
Meskipun di tolak oleh Selvi namun cinta Jeremy begitu besar dia rela merawat Selvi hamil sampai kandungannya membesar, hingga saat Selvi di bawa oma ke rumah sakit Jeremy mengetahui itu dan datang ketika tidak ada siapapun
"Apa yang kamu lakukan? " ucap Jeremy ketika Selvi menukar bayinya
"Bayiku mempunyai penyakit bawaan aku tidak bisa mengobatinya, biar mereka merawatnya seperti anak mereka sendiri dan aku akan membuat anaknya merasakan bagaimana rasanya tidak punya ayah"
"Jangan lakukan itu, suatu saat anakmu akan sangat membencimu jika semuanya terungkap" ucap Jeremy
"Dia akan mengerti jika dia sudah dewasa, penyakitnya aku tidak bisa mengobatinya dan aku tidak mau membebanimu" Akhirnya Selvi menukar Max dan Danendra
Tidak lama setelah itu Selvi merasa selalu terluka saat melihat Bayi Max akhirnya dia memutuskan membuang Max di kediaman Damian, Jeremy tidak bisa melarangnya dia hanya membiarkan apa yang di lakukan Selvi karena rasa cintanya
Flashback off
"Jadi begitu ceritanya, jangan terlalu membenci mamamu dia melakukan itu karena terlalu sayang padamu dan dia tidak ingin terikat denganku makanya dia memilih menukar kalian"
"Dia wanita yang baik, selama ini dia selalu menangis karena merindukanmu.. Jangan membencinya aku tahu perjuangannya selama ini" lanjut Jeremy
"Terimakasih sudah menjaga mama Selvi selama ini, aku setuju kalau kalian bersama" ucap Danendra
"Itu bagaikan meraih bintang sangat sulit tapi biarlah seperti ini saja aku sudah sangat bahagia, sekarang ayo kita makan mamamu sudah menunggu" Akhirnya Danendra keluar kamar bersama Jeremy
"Apa yang Jeremy katakan? kenapa dia bisa membujuk Danendra? " batin Selvi
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Emmhh.. sshh.. " Allea mengernyitkan wajahnya ketika terbangun di tengah malam
Tubuhnya masih tertutup selimut tebal, Allea membangunkan Max beberapa kali namun dia tidak juga bangun
"Yang.. bangun" lirih Allea memukul lengan Max yang tak kunjung bangun
"Apa? kenapa? " Max terkejut melihat Allea tampak kesakitan
"Perut aku sakit" Allea mengigit bibir bawahnya
"Apa? mana yang sakit? " Max panik menyingkap selimutnya
Max memakai pakaiannya dan menggendongnya ke dalam mobil di temani bibi pergi ke rumah sakit
Kira kira apa terjadi dengan Allea?
Apa dia akan kehilangan anaknya kembali?
Jangan lupa like komen dan vote
Penuhin kebon othor sama bunga ya biar cakep kayak yang baca 😁