
Max bangun dari tidurnya karena merasakan dingin yang amat sangat menusuk tulangnya, melihat selimut yang melekat di tubuhnya Max segera berdiri dan keluar dari kamar mandi. Max membuka bajunya yang basah menyisakan celana panjangnya
"Ternyata dia" gumam Max melihat Allea tidur meringkuk kedinginan
Max mengambil selimut di lemari dan memakaikannya ke tubuh Allea, sejenak dia menatap wajah Allea dan mengecup keningnya
"Apa dia gak takut terjadi hal hal buruk gitu ada di kamar sama orang mabuk? " gumam Max dengan senyumnya merapikan anak rambut Allea
Beranjak dari tempat tidur Max duduk di sofa menyalakan sebatang rokok memandangi Allea yang masih tertidur pulas, tidak lama setelah itu Allea menggeliat membuka matanya perlahan
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Max yang duduk di sofa di ujung tempat tidur, Allea langsung terduduk dan senyum manis mengingat dia semalam menyiram dan menampar Max dia takut Max menyadarinya
"Pagi Max" sapa Allea tersenyum menampakkan barisan gigi giginya
"Kenapa nyengir gitu? merasa bersalah? " tanya Max ketus
"Sorry semalam gue guyur abisnya bunda nanyain lo , gue mau bawa lo pulang semalem tapi gak jadi takut lo di marahin bunda" ucapnya dengan mulut mengerucut
"Gue hargai niat baik lo" jawab Max mendekati Allea
"Astaga" pekik Allea menutupi wajahnya baru sadar Max tidak memakai baju
"Tapi gue gak Terima semalem lo cium gue" bisik Max membuat Allea langsung melompat dari tempat tidur
"Mana ada? lo yang duluan" jawab Allea terburu buru
"Tapi lo menikmatinya" Goda Max mendapat pukulan dengan bantal oleh Allea
Mereka saling pukul dengan bantal membuat bulu bulu dari bantal berterbangan, setelah keduanya berhenti dengan nafas terengah engah mereka baru menyadari keadaan kamar begitu kacau dengan bulu berserakan dan sprei yang tidak beraturan
"Oh my god, lo buat kacau kamar ini Max" ucap Allea menatap sekeliling
"Lo duluan Allea, lo harus bayar semua kerugian ini" goda Max
"Ya ampun Max gue gak punya duit, gue beresin aja deh" Allea berdiri mulai merapikan ranjang terlebih dahulu
"Gak usah gue cuma becanda" Max memegang tangan Allea
Allea sontak menoleh kearah Max melihat tubuh kekar Max lama lalu ke wajahnya, Max menyadari itu tersenyum jahil
"Kalo mau pegang pegang aja" Max menarik tangan Allea menuju perutnya yang kotak kotak, Allea yang belum siap tersungkur ke atas tubuh Max yang sedang bersandar di kepala ranjang
"Dasar mesum gila" pekik Allea menarik tubuhnya dengan kesal
Max tertawa ternyata mengerjai Allea mampu menghiburnya di tengah kalutnya perasaan dia saat ini
"Kita pulang ini udah hampir jam tujuh" ucap Max kala melihat bibir Allea yang sudah monyong lima senti
"Ya udah pake baju" ketus Allea
"Takut gue di lirik cewek lain ya? "
"Apaan sih lo pede banget" gerutu Allea
Max mengambil hoodie dan memakainya lalu menuntun Allea keluar dan memerintahkan pekerjanya membereskan kamar yang kacau
"Ya ampun begitu ganasnya anak muda ini sampe hancur kamar" cicitnya saat masuk ke kamar
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
"Maxime kemana kamu nak" Lydia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Max
Dia belum juga mendapatkan informasi dari Allea, tiba tiba handphone Max berdering sebuah pesan membuatnya merasa lega. Allea memberi foto Max sedang memakai helm duduk di motornya
"Bunda tenang ya Max sama Allea" begitu isi pesan kedua
Akhirnya Lydia bisa bernafas lega ketika tahu Max baik baik saja, tapi satu lagi yang dia cemaskan kapan Danendra akan tahu masalah ini? apa dia bisa sekuat Max? Lydia kembali menghembuskan nafas kasar
"Bunda kok nginep di rumah Oma? " tanya Danendra yang baru saja masuk
"Udah lama kita gak nginep disini sayang, kamu semalam kemana? " tanya Lydia
"Aku main aja sama temen, bund aku lapar" ucap Danendra
"Ayo sayang kita sarapan bersama" Lydia menuntun tangan Danendra
"Pagi ayah, pagi Oma"
"Pagi sayang" jawab Oma
Damian menatap anak kebanggaannya itu dengan tatapan sendu, entah kenapa dia bisa setega itu pada Max namun dia bisa lemah pada Danendra.
"Max kemana? " tanya Danendra memecah keheningan, semua diam saling pandang tidak ada yang menjawab
"Max menginap di bengkelnya" Jawab bunda
...🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝🥝...
Sementara itu Max mengantar Allea pulang di jalan sangat dingin sampai sampai Allea memeluk Max menyandarkan tubuhnya ke punggung Max
"Lo tidur? berat amat" ucap Max mendapatkan tabokan di bahunya
"Lo bilang gue berat? gila aja gue langsing gini" cicit Allea
"Mungkin karena ada dua gunung nempel di punggung gue jadi berat" Ucap Max sambil menahan tawa
"Heh kurang asem lo, ternyata asli lo itu nyebelin" Allea memukul helm Max lalu mengerucutkan bibirnya
"Peluk lagi aja kalo dingin gak usah manyun gitu"
"Ogah" ketus Allea, Max rem mendadak membuat tubuh Allea condong kedepan menabrak punggung Max
"Astaga lo bisa bawa motor gak? " Allea memukul bahu Max
"Sorry tadi ada cacing lewat" Max mengulum senyumnya
"Dasar gila" gumam Allea dengan mata mendelik
Sumpah Demi apapun Max di buat gemas dengan ekspresi Allea, dia rasanya ingin terus menjahili nya itu sangat menyenangkan meskipun mendapatkan pukulan bertubi-tubi
"Stop Max stop" Allea meminta di turunkan di halte dekat rumahnya
"Belum sampe mau telat sekolah? "
"Udah disini aja, entar nenek marah"
"Gak bakal gue yang tanggung jawab"
"Gak perlu tanggung jawab gue gak hamil"
"Mau gue hamilin dulu? " pertanyaan Max langsung mendapatkan pelototan dari Allea
Tanpa lama Allea sudah berada di depan rumahnya, tampak nek Mar sedang menyusun dagangannya di etalase, mendengar suara motor nek Mar langsung keluar
"Dari mana aja kamu? nenek sampe panik nyariin tau gak? " gerutu nek Mar
"Maaf nek Allea semalam cari saya sama bunda, saya ketiduran di bengkel" ucap Max segera menjawab
"Iya, lagian Allea udah tulis surat di meja"
"Surat? surat apa? " tanya nek Mar bingung
"Ya ampun ternyata gak di baca" Allea menepuk jidatnya
Nek Mar mengajak anak anak itu sarapan setelah berganti baju Allea dan Max kembali pergi ke sekolah, sesampainya di gerbang sekolah Allea turun tapi kesusahan membuka helmnya membuat Max refleks membukakan helm Allea dan itu di lihat oleh dua pasang mata berbeda tempat
"Lo gak sekolah? " tanya Allea
"Gak, udah sana masuk bentar lagi gerbang di tutup"
"Lo yakin gak mau sekolah? "
"Allea gue belum ganti baju, dari sini kerumah Oma jauh gak keburu"
"Ya udah deh, hati hati gue masuk dulu bye" Allea melambaikan tangannya masuk dengan berlari ke sekolah
Max menggelengkan kepalanya dan pergi dari sana dengan motor besarnya, sepasang mata itu menatap kesal dan hanya satu orang yang akan menjadi target mereka yaitu Allea