BAD WIFE

BAD WIFE
RESEPSI KELUARGA



Hanum tidak menyangka, akan di dandani bagai princess. Bahkan tompel kecil diatas bibir tengahnya saja, hampir tak terlihat. Bekas luka di wajah saja tak terlihat dan benar benar glow up.


"Tunggu, pak Rico. Bisakah saya juga ikut memakai topeng kacamata itu?"


"Topeng, kamu mau ikut dansa. Yang memakai itu wajib bagi keluarga Abraham."


Gleeuk! "Keluarga Ab-rah-am?" terpatah Hanum syok. Jadi pak Rico masih satu keluarga dengan Fawaz.


Kalau begitu mereka juga akan hadir, kenapa takdir bumi yang bulat membuat Hanum kembali lagi sih. Sudah lama ingin menjauh, maka harus hancur kembali bertemu. Benar pepatah bicara jika dunia itu sempit, lingkungannya akan bertemu di satu titik itu juga.


"Kenapa diam?"


"Baiklah. Saya tidak mahir dansa, tapi saya mau pak Rico, panggil saya jangan nama Hanum ya pak! saya malu, takut ada karyawan lain yang lihat juga."


Rico menaikan alis, benar juga ide Hanum cerdas kali ini, karna beberapa staff yang hadir. Sehingga Rico datang menapaki karpet merah dengan Hanum yang melingkar di tangan Rico. Meski Hanum gugup, tapi itulah tangan Rico yang memintanya datang agar ulat jambu tidak mendekatinya kala tugas Hanum selesai.


Rico dan Hanum telah memberi ucapan bahagia pada kedua pengantin, di atas altar bernuasa gold putih.


"Wah, benar benar serasi dan wajahnya di blurb oleh kacamata misterius. Kira kira siapa wanita beruntung itu. Andai saja Rico hadir seorang diri, pasti aku sudah sambar melingkar lebih dulu genggam tangannya." lirih wanita di pinggir altar. Hanum benar jelas mendengar apa maksud ulat jambu, yang di lontarkan pak Rico.


“Apa tubuhku terlalu nyaman untuk bersandar dan bersembunyi?” menunduk Hanum yang erat memegang tangan Rico tanpa sadar, Rico menoleh ke arah Hanum tapi tetap menjaga wibawanya.


Rico berjalan mendekati Hanum. Jarak mereka yang begitu dekat dengan wajah Rico berada tepat di atas wajah Hanum, membuat Rico lebih intens dapat melihat jelas wajah Hanum.


Bola mata membulat tanpa kacamata bulatnya membuat mata Hanum terlihat lebih bening dan bersinar. Meski Hanum diliputi rasa was was dan ngeri, tetap saja Rico dapat melihat cahaya matanya yang bening. Sejenak Rico mengagumi kecantikan wajah Hanum, sehingga ia memakaikan lagi topeng kacamata misterius itu.


“Ternyata wajahmu lumayan cantik juga, jika di tutupi” gumam Rico lolos begitu saja dari bibirnya.


"Haaahaa! bos menyebalkan." balas tawa memaksa, Hanum.


Meski lirih, tetap saja pujian Rico terdengar jelas di telinga Hanum. Wajahnya langsung merona mendapat pujian dari Rico, tapi endingnya menjengkelkan. Hawa panas menyelimuti kulitnya yang mulus karena efek malu mendapat pujian Rico. Hanum tidak mau terbuai oleh pujian Rico, refleks tangannya langsung menutupi sebagian wajahnya dan hanya menyisakan bagian mata ke atas. Dia lupa bila saat ini dia sedang melakukan penyamaran menutupi wajahnya agar tak di kenali Fawaz atau Alfa jika mereka hadir.


“Gawat!” gumam Hanum lirih dalam dekapan tangannya sendiri.


Dia merasa cemas dan takut Alfa akan mengenali dirinya. Karena sebelum mereka bertemu sekarang ini, Rico tersenyum lebar menariknya lembut, melepaskan pegangan kala Rico memeluk Fawaz dan terlihat Alfa juga dari arah pintu lain.


“Kenapa ditutup? Malu?” Fawaz memiringkan wajah dengan mata menyipit seolah sedang meledek Rico, yang menatap wanita di sampingnya.


"Ah! aku hanya ingin menyembunyikan wajah wanitaku, karna dia sangat berbeda dan aku tak mau dia jadi korban nitizen ulat jambu. Hahaaa." tawa Rico.


'Pak Rico ini memuji atau mencelaku sih?' batin Hanum.


Hanum juga melihat Lisa yang datang dengan Fawaz. Kerinduannya seolah terobati, meski kali ini tanpa pelukan sang kaka.


Hanum langsung menghindari tatapan Fawaz setelah ikut menjabat tangan, dengan merundukkan kepala menyembunyikan wajah cantiknya. Jantungnya semakin berdebar bukan karena berhadapan dan ngeri pada sifat galak dan kasar Rico saat ini yang aneh.


Melainkan debaran dalam dirinya karena takut Fawaz mengenali dirinya dan penyamarannya terbongkar. Semua rencananya akan gagal bila semua itu terjadi. Terlebih pria yang statusnya mantan suami juga ikut hadir bersama dengan orang terkasih yakni mertuanya.


Meski Hanum tak melihat kemana Irene, karna biasanya Alfa akan pergi dan lengket bersama Irene. Tapi hari itu tak ada Irene di samping Alfa, melainkan kedua orangtuanya.


“Hanum Larasati,” panggil Rico sembari meraih dagu Hanum bermaksud membawa wajah itu mendongak.


“Maaf, aku pingin pipis,” ucap Hanum dengan nada cepat, ia takut Rico membuka topengnya.


Serta berusaha mengindar kala Rico mengajaknya bertemu keluarga Jhonson, yang masih satu keluarga meski sedikit jauh.


Hanum menepis tangan Rico dan langsung bangkit dari duduknya. Dengan menjinjing gaun mirip gaun pengantin yang terjuntai lumayan panjang semata kaki dibawahnya, dia berlari kecil menuju kamar mandi. Hanum tidak menghiraukan ekspresi Rico saat melihatnya berlari berusaha menghindar.


Dia juga tidak peduli dengan mata Rico yang menatapnya lucu saat dia kesusahan mengendalikan gaun panjang yang mengganggu langkah kakinya. Hanum berlari seperti pengantin sunat yang menggunakan sarung kedodoran.


“Dasar gadis aneh!” Rico menggeleng heran atas kecerobohan dan kepolosan Hanum.


Setelah berhasil kabur dan menghindari kecurigaan Alfa yang baru begabung menyalami pak Rico, Hanum menutup dan mengunci rapat pintu kamar mandi agar Rico tidak mengejarnya. Sekali lagi jantungnya memompa sangat cepat, nadinya berdenyut rapat. Napas Hanum tidak kalah cepat dengan pompaan jantungnya.


“Untung,” desahnya lega sembari mengelus hatinya.


Hanum menyandarkan tubuh pada daun pintu dan mengatur pola napas serta degub jantungnya. Napasnya terdengar tersengal cepat dengan diafragma naik turun.


Dia berjalan mendekati cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Masih dengan gaun panjang yang membuatnya ribet, Hanum menatap dirinya dalam pantulan cermin yang jernih.


'Aku memang cantik saat ini, Alfa saat ini hadir. Sayangnya dirimu yang brengsek itu tidak bersyukur memiliki istri seperti aku dahulu. Dia malah terus menyakiti dan memintaku berbaik pada wanitanya.'


Hanum mengusap wajah cantiknya dan memuji kecantikannya sendiri. Dia memang cantik, tidak salah bila gelar Queen of Beauty melekat padanya. Semua itu berkat pak Rico yang menjadi bos muda barunya, tak menyangka Hanum bisa sampai saat ini. Terlebih dirinya bisa cantik karna pak Rico.


Baru juga ingin menikmati ketenangan di dalam ruangan dingin kamar mandi, suara ketukan pintu dan panggilan. Rico kembali mengusiknya, menanyakan Hanum apa baik baik saja dan meminta ia segera keluar.


“Ish, apa sih maunya orang itu? Apa tidak bisa membiarkan aku tenang sebentar saja. Ini baru hari pertama jadi asisten market Marco. Sudah banyak ini itu peraturan." gumam Hanum.


"Yap! tunggu sebentar pak Rico!" teriak Hanum.


Hingga ia keluar, begitu saja dan jelas ia melihat kak Lisa dan Fawaz yang bergandengan.


'Ah! sakit sekali rasanya aku melihat pemandangan itu? bukankah kemauanku ini semua?' batin Hanum.


To Be Continue!!