BAD WIFE

BAD WIFE
HUKUMAN BERAKHIR BAHAGIA



Diruang tamu, Ghina dan Leo duduk bersebelahan dengan kepala yang sama sama menunduk, sedangkan Ghina duduk diseberang mereka menatap sepasang pemuda-pemudi dengan tatapan jijik.


Leo paling membenci anak muda yang bergaul terlalu bebas, sampai melupakan masa depan yang seharusnya masih sangat panjang. Terlebih Leo, mendapat amanat dari Bunda Hanum. Meski sikap Ghina tak suka akan dirinya yang terlalu protektif.


"Katakan sampai kapan kau melakukan ini semua?" tanya Leo datar masih dengan tatapan jijik.


"Kau itu bukan kakak kandungku, sampai kapan juga kau terus mengurusi hidupku." sebal Ghina.


Meskipun Ghina adalah darah dagingnya bunda Hanum dan papa Rico, tetap saja ia jijik akan tingkah adiknya itu. Wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya sebelum menikah adalah sampah yang tidak ada artinya.


Dan Leo, tidak ingin Ghina salah pergaulan, maka dari itu saat Leo menghampiri, teman Ghina pergi meninggalkannya.


Ucapan Ghina, benar-benar sangat mengganggu telinganya.


"Diam kamu! Aku pikir selama ini kamu smart, ternyata hanya wanita tanpa harga diri!"


"Apa kau merasa lebih baik dariku? Leo, history ibu kandungmu sangat menggelikan dan lebih menjijikan. Aku tidak suka, kau berada dalam keluargaku. Apalagi mengusikku."


Leo terdiam, andai bukan karena Bunda Hanum dan papa Rico. Ia tidak akan membuang waktu, mengurus adiknya itu yang terlalu liar. Bahkan berpakaian mini, di depan orang banyak.


"Aku anggap aku tidak pernah dengar lagi! ayo cepat bergegas. Kita pulang! Bunda sudah menunggu di hotel terdekat ini." jelas Leo.


"What? Bunda ke bali juga, astaga. Kau membuang waktuku. Semua ini pasti ulah kau kan Leo. Jadi selama perjalanan, kau menguntit. Akan aku buat laporan tentang penguntit sepertimu."


"Silahkan!" ujar Leo, membuat Ghina kesal. Ia mengekor langkah seribu Leo, hingga menuju suatu tempat dan saling diam. Ghina tahu, Leo pasti sakit hati akan ucapannya. Tapi ini adalah bentuk kepuasan, karena orangtuanya selalu mengagungkan si anak angkat.


'Aku tidak perlu merasa bersalah, lagi pula memang benar history ibunya seperti itu.' batin Ghina, ia menoleh menatap jalan dari dalam mobil.


***


RUANG VVIP, HOTEL BINTANG 5.


Terlihat wajah Rico yang mendorong Hanum, dari kursi roda. Ia benar benar menatap tajam ulah Ghina putri satu satunya.


"Tahu begitu, papa tidak perlu membesarkan gadis murahan sepertimu!" tambah Rico yang membuat Ghina terpancing pada papanya itu, baru saja tiba sudah dicecar .


"Pah. Ghina sudah tidak tahan lagi mendengar penghinaan yang keluar dari mulut papa, apakah keburukan anak kandung papa terus saja diungkit. Jadi Leo, tidak punya celah sedikitpun?"


Bagaimanapun Ghina adalah anak kandung Hanum dan Rico. Bagaimana mungkin kalimat sejahat itu keluar dari mulut seorang papa?


"Anak ingusan sepertimu berani membentak papa?" Rico berdiri dari duduknya


"Kenapa tidak? Ghina tidak pernah takut meskipun papa adalah Orangtua kandungku!" jawab Ghina mantap.


Karena memang tidak ada orang yang dia takuti, bagi Ghina ia memberontak adalah hal lumrah.


"Anak kurang ajar!" Rico menggeram.


"Apa karena aku telah melakukan kesalahan, papa bebas memperlakukan aku semena-mena? Lagi pula perbuatan aku tidak salah. Apa salahnya berlibur, dan kalian mengagalkannya." oceh Ghina.


"Pakaianmu bikini Ghina. Lalu kau mengajak temanmu dengan liar, sebelum teman priamu datang. Bagus Leo sudah membawamu, dan mengusir teman toxicmu itu."


"Haah! Leo lagi, kak Leo terus jadi banggaan." kesal Ghina, tak mendapat kebebasan.


"Ghina, Bunda tidak ingin kita bersiteru. Leo tetap kakakmu, hargai dia. Jika kami tiada, Leo yang menjagamu dan Ghani. Sampai kapan kalian bersikap anak anak?" ujar Hanum, menghela nafas karena sembab menangis.


"Tau apa kamu tentang kehidupan? Makan masih dibiayai orangtua saja berlagak seperti banting tulang demi sesuap nasi." ejek Rico menaikkan sudut bibir kanannya, ia marah tak tekendali.


Anak muda jaman sekarang benar-benar berbanding terbalik dengan anak muda jaman dulu. Bisa-bisanya setelah melakukan kesalahan yang sangat memalukan, masih memiliki muka menentang orang yang lebih dulu mencicipi asinnya garam? benar-benar sudah tidak ada budaya malu lagi.


"Jadi papa berharap Aku dan Ghani keluar dari rumah, tanpa sepeserpun kan?"


"Nak, bukan begitu! papa tidak mengusirmu. Coba renungkan, kesalahan dan teman mu terlalu bebas. Itu bisa menjerumuskan, dan masa depanmu tidak baik." ujar Hanum.


Melihat ekspresi wajah orangtuanya saat ini, papa terlihat sangat serius bahkan tidak ada kepura-puraan yang tercetak diwajahnya.


'Ah sudahlah ... Aku sangat percaya pada Adikku. Ghina tidak mungkin melakukan hal bodoh.'


Leo berusaha mengusir pikiran buruknya yang membuat aktivitas kerjanya terganggu. Pasalnya wanita yang terang terangan sengaja melihatkan keindahan body goals. Ia adalah wanita yang pernah dicicipi seseorang. Hal itulah membuat Leo terus mengontrol pergaulan Ghina.


"Sekarang kita pulang! setelah ini, papa berusaha menjodohkanmu dengan anak rekan papa. Tidak ada penolakan!" ucap Rico, membuat tatapan lemas Ghina. Pasalnya diusianya 21 tahun, ia tidak mau menikah muda.


"Pah! kenapa kalian terus saja memberikan kehidupan tanpa kami setuju? perjodohan itu menyakitkan, coba tanya Bunda. Bunda pernah merasakan dijodohkan?" lancang Ghina, membuat tatapan Rico mengepal tangan.


Sementara Hanum, meminta suaminya untuk melembutkan sikap, dan tidak terpancing emosi. Hal itu membuat Leo merasa tidak percaya, jika Ghina adiknya salah pergaulan. Bahkan ia selalu menentang perkataan orangtuanya.


Leo sangat mencintai adiknya ini, karena itu Leo begitu perhatian terhadap Ghina, sampai ia mendapatkan jodoh yang terbaik.


"Kenapa Bunda terlalu ingin aku dijodohkan?" ujar Ghina.


"Pilihannya hanya dua opsi. Menikah atau kembali kuliah S2. Tapi syaratnya! tinggal bersama Leo, dan kemanapun pergi kamu di dampingi Leo. Leo akan memegang saham market Marco di jepang. Setelah pulang kuliah, atau tugas diluar kuliah. Semuanya harus izin Leo. Hargai dia sebagai kakak kandungmu Ghina. Bunda tidak pernah membedakan."


'What? lagi lagi Leo. Si anak angkat ini, kenapa berkuasa sih. Ia terus saja mendapat perhatian papa dan Bunda.'


"Jika kau ingin protes, maka menikahlah. Agar adab dan sikapmu bisa lebih baik, menghormati yang lebih tua. Maafkan Bunda! Bunda salah, tidak punya banyak waktu. Karena bunda tidak seperti ibu diluar sana, yang bisa berjalan bebas dengan gerak manapun. Bunda bisa bertahan karena kalian, sampai kapan kamu tidak dewasa? Bunda hanya ingin, kamu sama seperti Ghani yang bisa menerima masa lalu Leo. Leo tetaplah keluarga kita! Maaf jika bunda tidak bisa pergi berlibur denganmu Nak! karena kondisi Bunda."


Ucapan itu membuat Ghina tersadar, ia menangis karena benar perkataan bunda Hanum. Memang benar benar tidak seperti ibu diluaran sana. Lalu ia menatap Leo yang bersimpuh pada kaki Hanum di kursi roda.


"Janganlah buat Bunda sedih Ghina! kau boleh menghina masa lalu kak Leo. Tapi jangan membantah Bunda dan papa. Selagi kamu bayi bersama Ghani, kalian diperlakukan istimewa. Usiaku sembilan tahun, ketakutan kala Bunda terkena peluru. Meski bunda bisa berjalan normal, tapi ia tidak bisa berjalan lama seharian seperti ibu lainnya. Tidak bisakah kamu melihat papa Rico yang memuliakan dan tidak menyakiti hati Bunda?"


Gleeeuk!!


Penjelasan Leo, benar Ghina terdiam dan ia masuk kamar. Belum lagi, ia seharian memikirkan dirinya yang selama ini bersalah. Perkataan Leo, membuat dirinya kena mental.


Seminggu kemudian, Ghina yang mogok makan. Ia menemui ruang teras, kala Rico dan Hanum sedang membicarakan pertemuan perjodohan untuk Ghina.


"Mas, Hanum rasa. Kita tidak seharusnya menjodohkannya."


"Lalu, kita harus apa sayang. Mas sudah tidak tahu, kenapa anak anak kita berfikir pendek."


"Bunda! papa. Maafin Ghina. Ghina janji, Ghina akan berubah. Ghina minta maaf! Ghina menyetujui melanjutkan S2. Di bawah pengawasan kak Leo. Ghina akan menurut, dan terus memperlakukan ia sebagai kakak kandung, sebelum Ghina mendengar cerita asal usul Leo. Maafin Ghina Bunda. Maafin Ghina pah!" sesak Ghina, ia menangis tersedu sedu bersimpuh di lutut Rico dan Hanum yang sedang duduk.


Hal itu juga membuat Leo senyum, kala ia baru tiba. Apakah sentilan ucapannya membuat Ghina sadar, syukurlah semoga itu bisa menjadi pribadinya lebih baik untuk kebaikan Ghina.


"Gitu dong! adik kakak yang baik." ujar Leo, tak lama Ghani ikut senyum. Ia menepuk bahu Leo, dan mengulurkan tangan pada Ghina.


"Janji, kita selalu rukun. Demi Bunda dan Papa. Demi kebaikan kita semua tentram! kakak Leo janji, akan membuat kalian bahagia dan membuat kalian lebih dewasa lagi. Jika kalian bertingkah anak kecil. Bisa bisa kakak tidak bisa menikah karena kalian." ujar Leo, membuat ruang teras tertawa.


Hanum dan Rico saling menatap, ia senang akhirnya kesalahpahaman mereka, kecemburuan anak kandung mereka terselesaikan.


"Mas, semoga kita tiada nanti. Mereka tetap saling suport begini ya." ujar Hanum membuat tatapan sendu Rico turut bahagia.


"Pasti sayang." senyum Rico, ia ikut memeluk kedua putranya yang saling menguatkan. Dan Ghina memeluk Bunda Hanum dengan wajah ceria.


"Baiklah, papa akan mengurus semuanya untuk Ghina dan Leo di rumah almarhum eyang Mark. Dan kamu Ghani, belajar lebih banyak dari Leo. Kamu harus bisa ikuti jejak kakakmu Leo, dalam bisnis market kita." jelas Rico, membuat anggukan Leo dan Ghani paham.


**End**


ENDINGNYA HAPPY YA ALL!


Yuks mampir kelanjutan terbaru.


"Bukan Istri Simpanan!" masuk tap Love ya!


Kisah Ghani, ada dijudul " Pernikahan Yang Tertukar."