BAD WIFE

BAD WIFE
KESAL



Hanum telah mendarat dari awak pesawat, ia mengekor langkah Alfa. Hingga dimana, ia merasa terkejut akan sikap pria yang lebih dulu turun. Ramah pada seluruh pramugari, tapi tidak dengannya. Hal yang membuat jengkel Hanum adalah menahan lapar. Bagaimana tidak, ia sudah bersusah payah untuk tidak makan adalah hal tersulit bagi Hanum.


'Jika bobotku turun satu kilo saja, aku pasti akan mati.'


'Berjalan lemah sekali, seperti orang mau mati saja. Kehilangan satu atau dua kilogram tidak akan membuatnya mati.'


Itu adalah perasaan batin Hanum dan Alfa berbicara. Tidak ada yang mendengar mereka berbicara dengan pas. Tapi dengan tautan mata yang tajam, sudah cukup bagi mereka.


"Kau taruh saja kopermu di bagian belakang!" ungkap Alfa saat lebih dulu masuk kedalam mobil.


Sementara Hanum, ia masih melirik beberapa kota luar yang tak pernah ia injak.


Sebenarnya Alfa ingin sekali Hanum menolaknya kemarin saat menikah, tapi wanita itu tidak melakukan perlawanan hanya diam saja. Ini membuat hati Alfa kesal sangat ketika dia kembali ke dalam kamar hotelnya.


"Eeeeh, aku tidak punya kekuatan untuk bertanya seperti ini kemarin. Aku heran kenapa kau melakukan itu? Kau tidak menyukaiku! Tapi kenapa kau malah mau menikah denganku?" ucap Hanum jujur yang tak bisa dipercaya oleh Alfa, sehingga dia mengepal tangannya erat erat, menahan rasa kesalnya.


"Geser dudukmu! aku tidak suka kau di sampingku!"


"Lah, kita kan penumpang jadi memang seharusnya bersama di belakang kan?"


Alfa diam, ia malas lagi lagi menjawab pertanyaan Hanum saat ini. Namun berkali kali Hanum sangat cerewet dengan banyak pertanyaan yang membuat mata Alfa lelah.


"Kau mau tau jawabannya?"


Akhirnya Alfa mengutarakan kata kata itu dan tentu saja Hanum mengangguk.


"Dari seluruh wanita di dunia ini, kau adalah wanita yang paling tidak aku sukai! Sudah jelek, gendut, berisik pula! Kau pikir dirimu menarik gitu sampai aku harus menikah denganmu?"


Gleuuk! terdiam kembali Hanum, tapi ia berusaha untuk tegar tak sakit hati di depan pria ini.


"Justru karena aku tahu kau tak menyukaiku, aku tidak mengerti kenapa kau mau menikah denganku?" Hanum tak tahan dengan semua hinaan Alfa sehingga dia tak bisa menahan dirinya untuk bicara melakukan perlawanan.


"Bodoh! harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri kenapa kau mau menikah denganku!" Alfa tersenyum getir lalu dia menyondongkan tubuhnya ke arah Hanum.


"Kemarin di acara itu kenapa kau tidak menolakku kalau kau tidak menyukaiku?"


Alfa kembali bertanya dengan suaranya yang terdengar serak dan menekan pada Hanum. Tentu saja kata kata itu sangat berpengaruh pada Hanum dan membuat otaknya yang malas berpikir itu mencoba mencari jawaban.


"Tapi kau yang sudah berkata lebih dulu padaku kalau kau ingin menikah denganku, jadi aku yakin isi pikiranmu denganku sama!" Hanum berdalih.


"Haah bulsyiet." kesal Alfa yang tau bukan itu jawaban Hanum.


"Terus kau ngarep gitu jadi istriku karena aku tidak menolakmu? Kau pikir kau cantik gitu sehingga aku mau menikah denganmu dan rela tinggal seumur hidup dengan wanita gendut macam dirimu?" tambah Alfa.


"Kau ..!" Hanum menggelengkan kepalanya,


'Udah tahu nggak suka kenapa masih nikah!" protes di bibir Hanum.


'Duh, itu mulut apa petasan sih kenapa kata katanya nyamber aja kayak gitu?' batin Hanum dalam hati yang tidak dilepaskannya.


"Kenapa kau tidak menolak? Kau bisa mengatakan pada orang tuamu kalau kau tidak mencintaiku! Usiamu masih muda, kau juga bisa beralasan lainnya." Alfa kembali tersenyum getir.


Alfa memutar balikkan pembicaraan dan kembali menyalahkan Hanum. Tapi gadis itu tetap tidak mau kalah.


"Aku tidak ada niat seperti itu! Tapi harusnya kau bisa bilang pada orang tuamu. Kenapa kau tidak bilang pada mereka kalau kau tidak mencintaiku? Kenapa harus menerima perjodohan yang mereka tawarkan kepadamu? Dan kau tau alasanku adalah, karna kau menyentuhku aku takut, itu sama saja menutup aibku."


"Hoooh! good, kau juga harus tutup mata dan telinga. Tidak boleh menjelekan keburukan atau kebiasaanku sepertk tadi! Mengerti gendut!" sentag Alfa.


Hingga Hanum menyerang lagi yang membuat Alfa menatapnya dan tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Hanya itu yang dilakukan Alfa tanpa bicara apapun, hanya membuang wajahnya ke arah jendela.


"Hei, kenapa kau diam? Kenapa tidak bicara padaku?"


"Aku pun menikah denganmu karena aku tidak berani menolak! Sepertinya papa dan mama aku juga menginginkan itu," hingga Hanum kembali bicara seperti ini setelah dia beberapa saat diam dan memikirkan alasannya juga kenapa tidak menolak Alfa.


"Hah!" Alfa tersenyum kecut, "tapi jangan kau pikir aku akan mencintaimu ya! Kita menikah bukan berarti aku harus meladeni dirimu seperti kau adalah istriku. Aku hanya memenuhi kewajiban dan hakku. Jadi jangan bermimpi macam macam."


Uhuuuk! Uhuuuk. Sentag Hanum terbatuk, memikirkannya saja ia sudah bingung untuk tidak memikirkan satu ranjang. Melihat prilaku Alfa saja, ia sudah malas dan muak.


Alfa sudah ingin menyandarkan kepalanya lagi dan tidur. Tapi Hanum mengganggu saat Alfa memejamkan matanya.


"Aku juga tidak pernah kepikiran ke situ!" lirih Hanum.


"Ssssh!" Alfa berdecak dan menatap Hanum,


"Kau tahu tidak sih kalau kau berisik sekali? Aku baru mau tidur kau sudah memanggilku lagi! Bisa gila aku lama lama terganggu terus seperti ini!" ucap Alfa menatap Hanum kesal.


"Ah, maaf lah kalau aku mengganggumu, habis kita kan lagi bicara dan belum sampai ujungnya!"


Hingga beberapa saat Hanum telah sampai. Ia bingung kota mana yang Alfa tunjukan. Tapi saat Alfa masih mendengkur lelah dalam tidurnya, Hanum menelan saliva takut untuk membangunkan.


"Al- fa, ba- ngun!" menyentuh mantel Alfa.


Beberapa kali Hanum membangunkan, tetap saja tidak bangun. Sehingga ia menepuk bagian punggung tangan membuat Alfa terkejut sakit.


Hey! Bangun Alfa!!


"Auuw, sakit bodoh! kau mengagetkan ku saja. Ada apa?" kesal Alfa menatap tajam, terlihat matanya merah masih mengantuk.


"Kita sudah sampai sepertinya! aku tidak tau jalan, kau yang ajak kita ke sini kan?" bela Hanum agar Alfa tidak marah.


"Dasar gendut! kau bisa bangunkan aku pelan. Jika tanganku merah, kau harus bertanggung jawab!" oceh Alfa dan turun lebih dulu.


"Ya ampun, apa aku kekencangan ya. Perasan tadi aku ga keras deh." lirihnya.


Hanum masih melihat Alfa yang kesakitan, mengambil kopernya. Begitupun Hanum mengambil koper berwarna pinknya. Hingga tak sadar, seorang wanita datang dengan tubuh langsing membuat pandangan mata Hanum tertegun.


"Hello darling! sudah sampai, lelah ya?" ucap seorang wanita cantik dan seksi.


Hal itu membuat tamparan bagi Hanum, tak percaya akan sikap Alfa yang lagi lagi membuat hatinya semakin down.


To Be Continue!!