BAD WIFE

BAD WIFE
HIJRAH HANUM



Pagi ini Hanum terlihat happy? hari ketiga mas Rico yang mengabarkan dirinya, meski sebentar itu adalah membuat hatinya semakin rindu. Tapi ia menyesali ketika nomor tak di kenal, dan menghubunginya tapi Hanum abaikan. Hingga kilat sesal, ia membuka pesan itu adalah Alfa.


'Hanum, aku tahu kamu happy. Selamat berbahagia, Rico memang pria tepat untukmu. Bisakah kita bertemu, kebetulan aku berada di cluster perumahan dekat rumahmu.'


Hanum meletakkan ponselnya di nakas meja. Lalu ia membuka jendela balkon dengan hembusan pagi yang amat segar.


Semburat cahaya ilahi membuyarkan khayalku. Itulah secoret masa lalu. Aku bersyukur Allah Swt, begitu cepat menyadarkanku untuk menjemput hidayah.


Karena ketakutan terbesarku, yaitu meninggal dengan membawa setumpuk dosa. Kini aku berbeda. Aku bukanlah Hanum yang dulu. Banyak lentera baru yang menjadi cahaya semangatku.


Cukup masa laluku tak usah terulang dan biarlah semua kisah, kusimpan dalam sejarah hidup yang akan menjadi guru untuk memberi pembelajaran.


Ketika di awal hijrahku banyak orang yang mencaci. Tapi, untuk ini aku menjadi tuli. Tidak kuhiraukan karena hijrahku hanya untuk-Nya bukan untuk mengharapkan sanjungan siapapun. Lebih baik memiliki masa lalu yang kelam dibanding masa depanku yang kelam. Bismillah, kini aku hijrah. Kutinggalkan masa lampauku untuk menuju masa yang lebih baik.


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Hijrahlah karena Allah Swt, biarpun orang menghujanimu dengan hinaan maupun cacian, tapi imanmu tetap kokoh. Karena setiap amal tergantung niat.


Semangat, untuk siapa pun yang pernah merasakan kekecewaan sepertiku. Yakinlah, Allah Swt, Maha Mengetahui atas segala yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena Dialah Penulis skenario terindah lebih dari yang aku harapkan. Kuncinya adalah yakin atas segala ketentuan-Nya.


TING!


Nazim, membalas pesanku melalui WhatsApp


"Serius pria masa lalumu ada di dekat rumah ini? mbak akan datang, agar tidak ada fitnah! tetap abaikan ya Hanum! jangan biarakan masa lalu kembali mengusik. Kita jadi Studi Kampus hari ini kan?"


Tling!


"Iya mbak. Hanum tahu diri, tidak mungkin Hanum menghianati suami, demi sejenis tanah basah, Hanum harus melepaskan emas murni yang tiada tara indahnya.' ujar Hanum membalas pesan.


Terbesit Hanum, kembali kenangan bersamanya.


Dulu aku tidak sekalipun mengindahkannya.


Tidak sengaja aku terlalu jauh menjamahnya. Jauh sekali.


Menelusuri jalan menuju semestanya hingga aku tersesat dalam ilusiku.


Aku tak ingin pulang, tapi aku sadar itu bukanlah semesta milikku dan aku harus kembali pada semesta diri.


Yaa Allah Swt, ini salahku.


Kenapa aku berani melintasi batas pada waktu yang tak semestinya, padahal aku tahu Engkau menentang.


Rindu-rindu kini menenggelamkan pikiranku.


Memang sudah sepantasnya aku harus memikul semua rasa rindu ini, sendiri.


Dia tak peduli. Bahkan, baginya aku adalah orang asing. Kini aku bersama rindu, rindu yang menggebu menanti mas Rico, suamiku kembali pulang dengan selamat.


"Aku meridhoi setiap langkahmu mas! Hanum hanya berdoa, semoga langkah mas Rico selalu dijaga, dalam lindungannya."


***


Resto Kampus.


“Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu rumah Allah Swt, seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut sebut oleh Allah kepada para malaikat dihadapan-Nya.”


“MasyaAllah!” ucapku mendengar ucapan dari mbak Nazim.


“Teman-teman yang salihah, jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian nanti, maka tolonglah bicara pada Allah bahwa kami pernah hijrah bersama-sama dan saling mengingatkan untuk selalu taat pada-Nya. Ajak aku ke surga bersama kalian, ya.” ucap Nazim.


Kalimat yang mampu menggetarkan hati, betapa malunya Hanum, karena seorang Nazim yang salihah meminta tolong kepada seorang pendosa, seperti aku. Di sinilah terlihat tidak ada yang merasa dirinya paling baik.


"Kenapa kamu sebut sebagai pendosa Han?"


"Mbak, karena Hanum wanita yang tidak baik. Bukankah pernah gagal dalam rumah tangga, dibenci sang pencipta. Hanum juga mengabaikan papa semasa akhirnya, Hanum berdosa tidak disampingnya. Itu penyesalan Hanum, pantas lah masa lalu Hanum, selalu bicara perangau Hanum, serta fisik Hanum sangat jelek dan buruk."


"Tidak! itu bukan salahmu, sekarang kamu mempunyai imam yang baik kan."


"Alhamdulillah, insyallah Hanum selalu bersyukur." senyumnya.


Ketika kamu berada di tempat yang baik, maka kamu pun akan bertemu dengan orang yang baik. Begitu pun ketika kamu memperbaiki dirimu insyaAllah akan bertemu dengan seseorang yang baik pula. Nasihat Nazim, adalah hal yang mampu membuat Hanum tenang.


Aku duduk menunggu pesanan datang.


“Hanum...”


“Eh, Sari.” Dia duduk di sebelahku.


“Belum pulang? Habis ngapain, Han?"


"Tadi aku abis mentoring dulu, Sari."


“Hanum, aku senang deh sama kamu, cantik. Tapi saran aja Han, dari aku, kerudung kamu terlalu panjang.”


“Memang kenapa kalo kerudungku panjang,?”


“Jadi terlihat seperti ibu-ibu. Hehe…”


“Oh, enggak apa-apa Sar, kan ibu rumah tangga. Hehe…” kata-katanya tajam memang, tapi aku mencoba untuk sabar menyikapinya.


“Hehe… iya juga, ya.” Wajahnya merah.


“Kerudung panjang bukanlah tabir kecantikanmu, tapi untuk menjaganya.”


“Hanum, aku jadi ingin belajar sepertimu.”


“Boleh, kita bareng-bareng belajar karena aku masih sangat fakir ilmu.” Ucapku.


Pesananku sudah tiba. Semangkuk sop daging sapi, sepiring nasi, dan segelas es jeruk lemon. Aku mengambil sendok dan garpu.


"Sari, aku makan duluan."


"Oke, aku nyusul. Pesananku belum jadi."


Baru saja aku akan melahapnya. Tiba-tiba ponselku berdering.


Aku menaruh sendok dan garpu di piring. Mataku menatap layar ponsel. Mulutku membulat, ternyata yang meneleponku adalah Alfa, Ada apa dia menelponku?


“Aku terima telepon dulu ya, Sari.”


Sebetulnya aku sangat illfeel mendengar kalimat tadi. Aku langsung mematikan telepon. Dengan perasaan yang masih kesal hatiku sulit untuk berhenti menggerutu.


Ponselku bergetar kembali, tanpa berpikir panjang aku langsung me-reject-nya. Alfa meneleponku terus menerus, tentunya membuat risih.


TING!


TING!


Alfa mengirimku pesan sebanyak puluhan kali. Aku melihat pesannya.


Hanum.


Hanum.


Sombong!


Pesan terakhirnya.


Terpaksa aku memblokir nomornya, serta dengan sigap ponsel di trun off. Terasa seperti diteror. Aku rasa cinta tak bisa dipaksakan sesuai keinginannya. Apalagi aku merasakan kebahagiaan setelah berhijrah, bukan karena mas Rico yang menyuruhku.


Meski seorang suami harusnya memerintah, tapi Hanum melakukan itu demi menjaga dirinya dari hal buruk, juga menjaga api dari pandangan orang lain yang melihat Hanum terlihat cantik.


Kadarnya, Hanum hanya menampilkan tubuhnya, helai rambutnya di kamar saja bersama Rico, meski setelah keluar dari kamar ia akan berhias dan berkerudung dengan menjaga marwah suami.


"Mas, kepulangan kamu dari Hongkong, rasanya menunggu empat hari berasa bertahun tahun." lirih Hanum.


"Han, lama ya nunggu mbak! maaf ya!"


"Ga apa mbak, ayo makan dulu kita sebelum pulang." ucap Hanum, dan Nazim pun menurut ramah.


"Ok, thanks."


Tbc.