
"Kak, maafin Hanum ya!"
"Udah, kakak yang salah. Terlalu mikir keras soal om Sony. Tapi kakak ga habis pikir sama jalan kamu deh. Kok bisa sih, di otak kamu itu kenapa Han. Ga bisa jadi pelajaran yang udah udah." ujar Lisa.
"Soal apa kak?"
"Jangan sembunyi, di rumah sakit ini ada Irene kan? kok bisa kamu minta tolong suami kamu, buat nolong penyakitnya dia."
"Kak, soal itu hanya .."
"Hanya peduli simpati, terlalu baik boleh. Tapi ga gini caranya! ingat, Hanum suami kamu besok akan sidang bertemu Alfa. Mending kamu dukung temani Rico, dari pada kamu ke rumah sakit jenguk wanita licik."
"Kak, udah dong marahnya. Hanum hanya ga mau terus larut, ada saatnya mereka akan sadar kalau kita ga perlu mereka jadikan musuh."
"Baik boleh, terlalu baik takutnya kamu sering di tikam Hanum." jelas Lisa, dan saat itu mereka sampai di ruangan bangsal Irene di rawat.
"Saya mohon maaf. Awal Operasi sedikit pendarahaan hingga begitu lama. Tapi kini kondisi pasein telah stabil. Kami akan mengupayakan semaksimal mungkin. Kami berusaha agar kangker yang telah diambil tidak terjaring dan berkembang lagi. Itupun ada pola yang harus nyonya Irene lakukan. Operasi berjalan dengan Lancar." dokter menjelaskan pada seorang pria.
Lisa mendekat, Hanum menepuk bahu Erwin. Lalu menanyakan apa Irene bisa sembuh. Erwin berkata, ia hanya menjalankan tugas. Tapi melihat sisi balik Irene ia sangat tragis dan tertekan.
"Bu Hanum, saya akan ke ruangan dokter. Maaf saya tidak bisa mengantar ibu. Karena setelah ini saya harus mengurus berkas market untuk sidang esok."
"Gak apa, ada kak Lisa. Baiklah, saya kemari hanya ingin lihat saja kondisi Irene." senyum Hanum, tapi Lisa tak menampik saat ini sangat sebal.
"Bisa ikut keruangan saya sebentar!" titah dokter, dan Hanum meminta Erwin yang mengurusnya.
Tiba saja senyuman kabar baik, jadi menyempit akan senyuman kembali khawatir.
"Bu Hanum ga perlu risau, saya yakin ini hanya akan membahas pola hidup Irene dan kelanjutan therapy saja. Tidak perlu menatap tajam seperti ingin memakan sesuatu!" tutur Erwin.
"Ah, benarkah. Maaf hahaha."
"Benar bu Hanum, jika bu Hanum ingin menjenguk bu Irene, silahkan!" ujar dokter.
"Makasih dok, saya permisi kalau begitu."
***
Berbeda jauh, Rico yang pergi ke suatu tempat melacak dan menemukan seseorang dengan tak sabar dan terkejut.
"Adelia dari mana saja. Kakak telah lama menunggu kamu. Sudah berapa lama kamu pergi, kamu lupa putramu selalu panggil kamu. Bibi Dena juga sering sakit sakitan!"
"Untuk apa kak Rico cari aku, tempat terpencil darimana kak Rico bisa temukan aku." tangis Adelia.
"Kak Rico dan papa, masih menganggap kamu keluarga! maka dari itu, pulanglah! Lion juga tak mau tinggal dengan kami. Masih mencari kamu, untuk apa kamu terus saja mengumpat. Kita sudah bisa kembali seperti dulu, rumah dulu bisa kita tempati lagi." jelas Rico.
"Itu untuk anak kandung, bukan seperti Adelia. Lagi pula aku penyebab market kakak dan papa hancur. Jadi pergilah kalian!" teriak Adelia.
"Tuntutan penjara, kakak pastikan kamu bisa bebas. Asalkan kamu minta maaf sama Hanum dan papa. Beri kesaksian jika kamu adalah orang yang membantu Alfa memanipulasi tanah pusat. Kak Rico mohon! kakak janji akan membuat kamu keluar menjadi tahanan wajib lapor saja."
"Uuuueeeek!" muntah Adelia, dan saat itu juga Rico meminta asistennya membawa paksa Adelia yang terlihat lemah. Menuju mobil, meski awalnya menolak.
Tapi kini Adelia pasrah diam dan menangis seolah menyesal. Kali ini ia harus kembali malu dan berada di penjara.
Hingga dalam perjalanan, Rico memberi kabar pada Hanum. Jika ia akan sampai rumah pagi pagi sekali. Dan meminta Hanum untuk mengunci rumah dan tak menunggunya pulang, jika mengantuk.
'Sayang, mas akan sampai rumah dengan terlambat. Mas minta maaf, kamu tidur duluan ya! jangan lupa minum susu dan vitamin yang udah mas siapkan!' pesan dari Rico.
Hanum yang memakai piyama dress mini, ia senyum mengusap perutnya. Sehingga Hanum merasa bahagia dan berbicara pada bayi dalam perutnya saat ini.
"Sayang, kamu tau gak. Dady adalah seorang papa, dan papa kamu adalah pria yang patut dibanggakan. Kamu harus bangga nak, memiliki papa seperti papa Rico. Papa biologismu. Ah mama jadi ga sabar menunggu kamu lahir kedunia." senyum Hanum, sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Memejamkan mata dan menaruh alat music khusus bayi masih dalam kandungan, tak lupa ia menempelkan di perut agar rileks dan tenang.
Tbc.
Yuks! mampir lagi, jejaknya sambil nunggu Hanum. Mampir novel litersi temen Author.