BAD WIFE

BAD WIFE
JANGAN PERCAYA



Dewi dan Vita yang ingin menjelaskan suatu hal yang mereka dengar, terhenti ketika pak Rico datang. Hanum sedikit menoleh dan terdiam, tak ingin membuat tatapan yang lain melihat dirinya tidak baik baik saja.


"Pak! saya permisi." ucap Dewi dan Vita bersamaan, dan saling menyenggol sikut, kembali bekerja.


"Han, kamu kenapa ga tunggu aku. Aku tadi pagi ke rumah jemput kamu, kita bisa bareng?"


"Rico, sebaiknya kita ga usah bertemu. Aku juga ga yakin dengan pernikahan kita, apa akan lanjut atau tidak."


"Maksud kamu apa Han?"


Tahu kala Rico menatap suasana karyawan lain menatap mereka, dan membuat terpancing keributan. Ia segera berbisik dan mendekat Hanum dengan romantis.


"Tunggu aku pulang ya! di sini ramai sayang!" bisik Rico, membuat Hanum tak menjawab.


Hanya senyum menyempit, dan Rico sadar jika Hanum tidak baik baik saja.


Hanum segera menahan nafas, lalu ia segera ke ruang hrd memberi surat cutinya pada Adelia.


Took Took! ketukan pintu.


"Masuk aja!"


"Permisi, aku datang mau antar surat ini."


"Haaah! ternyata calon kakak ipar yang ga di inginkan datang, sudah terlanjur masuk. Kalau ada keperluan, silahkan pergi dari ruangan ini!" ketus Adelia memutar bangku roda.


"Maaf jika kehadiranku membuat kamu merasa risih, apa salahku sama kamu Adelia. Aku tidak pernah membuat salah dan menyakitimu. Jika aku punya salah aku minta maaf!"


"Ga ada maaf, buat wanita kaya kamu Hanum. Kamu ga cukup sempurna jadi kakak ipar bagi keluarga Mark. Harusnya kak Rico dapetin sekelas wanita seperti Caty, atau Meri dari keluarga dari italia. Kamu tau kan bisnis Marco sudah menyebar internasional, ikatan cinta itu ga penting. Yang penting itu makmur dan keluarga seimbang dan setara." jelas Adelia.


Adelia melempar buku dengan keras ke meja, lalu ia mengambil tas dan pergi dari ruangan kerja nya.


"Kalau sudah selesai, pergilah dari ruanganku! Aku ga suka toxic di ruanganku lama lama."


Hanum terdiam tetap menampilkan senyum. Ia masih menimbang perkataan Adelia yang sangat benar. Pikirannya sangat buntu, Hanum ingin sekali bersandar pada pundak sang papa. Andai saja mamanya bisa di ajak berdiskusi. Lisa juga saat ini tidak mungkin, ia ikut suaminya ke ternate dan masih dalam honeymoon.


"Huuft! apakah ini ujian aku yang akan segera menikah. Atau ini awal dari sifat busuk calon suamiku. Ya rabb, beri aku petunjuk mu. Jangan biarkan aku memaki orang yang tidak bersalah karena penatnya pikiran dan hatiku saat ini." gumam Hanum, ia segera pergi.


Dewi dan Vita tercengang, kala ingin meneruskan ucapannya sebelum tadi pak Rico datang. Tapi Hanum sudah berlari terburu buru dengan wajah yang berbeda.


"Dew, itu Hanum kaya mau nangis ya. Dari ruangan bu Adel."


"Udah ah! lanjut kerjanya, si biang kerok bu Adel itu harusnya di pecat. Biar ga jadi toxic."


"Gimana mau di pecat, orang dia keluarga pak Rico. Tau gak sih, kabarnya dia itu anak pungut bibi pa Rico. Tapi bu Adel, taunya dia sepupu yang naik pangkat jadi adik kandung." cetus Vita gemas kesal.


Dewi terdiam, ia menginjak kaki Vita untuk kembali bekerja. Lalu dengan tatapan diam, hormat kala bu Adel datang dari arah belakang mereka.


"Ba-baik bu. Maaf kami akan bekerja lagi." ucap Dewi dan Vita bersamaan.


Berbeda hal dengan Hanum.


Hanum yang kini sudah berada dalam taksi, tanpa arah tujuan. Ia meminta berhenti di depan halte. Hanum memberikan beberapa lembar uang, lalu ia naik ke anak tangga halte busway yang menjulang. Lalu menatap di tengah tengah Halte, agar dirinya yang menangis tidak terdengar seseorang.


Hanum memakai masker, ia kembali menutup wajahnya dan duduk berjongkok, masih menatap kendaraan di bawahnya yang bersimpangan.


"Kenapa, aku lagi lagi merasakan sakit?" lirih Hanum.


Sementara Rico, ia sudah menanyakan pada beberapa karyawan. Apakah ada yang melihat Hanum, tapi jawabannya tidak. Hingga ada seseorang yang bicara jika ia naik taksi belum lama.


Rico segera bergegas, menyusuri jalan. Dua putaran ia lewati hampir lelah mencari tak ketemu, hingga ia berhenti dengan putus asa.


"Ya Rabb, apa yang terjadi. Kenapa aku baru tau soal Meri. Dan itu dari mulut Nazim. Han, kamu dimana sih. Ya rabb, tunjukan keberadaan Hanum, dia harus tau yang sebenarnya." pinta Rico yang bersimpuh, menutup wajah dan tak sengaja ia melirik ke arah tangga atas.


Rico memperhatikan tanpa kedip, dan benar saja baju yang mirip dan dari jauh ia yakin itu adalah Hanum.


"Terimakasih ya Rabb, akhirnya aku temukan Hanum." bahagia Rico.


Rico segera mencari parkir untuk mobilnya, karena di ibu kota tidak bisa sembarang memarkir. Ia segera menuju cafe kecil, lalu menitipkan pada juru parkir. Rico segera berlari dengan berpuluh menit menghampiri Hanum.


Hingga tiba Rico segera menatap Hanum yang masih saja menangis.


"Hanum, akhirnya aku cari kamu kemana mana aku temui. Kenapa ga bilang, ga tunggu aku?" tanya Rico, membuatnya terdiam malu.


"Maaf, mas siapa ya?" tanya wanita itu.


"Upps! maaf. Saya salah orang, saya pikir tadi di sini kekasih saya. Maaf ya mbak!" ucap Rico dengan wajah cemas, karena tak menemukan Hanum.


"Mas cari wanita yang bajunya mirip saya?" ucap wanita itu.


"Hah, berarti saya ga salah lihat. Kemana mbak?"


"Ke arah sana, dia masuk gang sebrang itu! Baru aja, saya juga ga tau kenapa bajunya sama. Hehee."


"Makasih infonya. Ini buat mbak." balas Rico memberikan beberapa lembar dari dompetnya.


Hah! apa ini? tercengang wanita itu.


"Sebagai ucapan terimakasih." teriak Rico, menyusuri tangga dan pergi.


Tbc.