BAD WIFE

BAD WIFE
MASA KELAM



"Erwin. Kamu kenapa ada di sini?"


"Betul, pak Rico setelah meeting merasa khawatir karena lokasinya bu Hanum, berada di rumah sakit. Sehingga cepat datang ke sini." jelasnya.


Benar Rico datang dengan menatap panik, Hanum tidak tahu jika mas Rico mengawasi juga dengan gps yang terdeteksi dari ponselnya.


"Mas, kenapa aku ga tahu?" mendongak, kala Rico memeluk.


"Sudah banyak rintangan yang kita hadapi, sudah banyak yang kamu hadapi dan alami. Maka setelah market Marco benar benar kembali, mas akan melindungi kamu berusaha meminta bantuan untuk menjagamu. Mas ga mau kamu di sentuh oleh orang yang sudah jahat denganmu!"


"Mas, tapi Hanum baik baik saja. Ini berlebihan loh."


"Mas, akan kacau jika kamu terjadi sesuatu. Kamu tau, kemungkinan market kembali lusa. Dan mas akan banyak meninggalkanmu. Tapi mas janji, di saat kamu melahirkan mas akan tetap jadi suami siaga." tersipu Hanum.


Irene yang masih menutupi wajahnya dengan rambut, ia benar benar malu. Tertekan ketika wanita yang ia jahati dahulu begitu bahagia. Sehingga Hanum juga sadar, kala seorang wanita yang duduk di bangku taman, akan pergi.


"Jangan pergi!" teriak Hanum, sehingga Irene membungkuk menutupi dirinya.


"Sayang siapa dia?"


"Mas, aku minta maaf. Tapi bisakah kamu membantunya, bukankah memaafkan kesalahan dahulu adalah hal terindah agar hati kita tidak berlarut dalam luka?"


"Sayang, apa dulu. Mas ga ngerti, coba pelan pelan kamu jelasin sama mas!" gemas Rico, seolah seluruh supir dan asistennya tak dia anggap.


Huuuh! anak buah tak ada, sedangkan bos manja manja di depan para jomblo. Deru Erwin, menatap yang lainnya.


Hanum menjelaskan, ia adalah Irene. Dari pertama bertemu dan irene bicara jika ia sedang sakit, dengan begitu Rico yang melirik, ia meminta Erwin untuk membantunya.


"Erwin, bawa dia! cari toko baju terdekat. Agar dia membersihkan diri. Lalu bawa segera ke rumah sakit!" titah Rico.


"Mas, makasih ya."


Tidaak! aku tidak akan pergi dengan anda. Histeris Iren, namun Hanum menjelaskan dan berkata dengan lembut semua yang mereka lakukan tulus. Agar Irene bisa mempunyai semangat kehidupan untuk sembuh.


Sehingga beberapa saat kemudian, barulah Irene yang malu dan berterimakasih berulang kali ia ikut ke mobil taksi bersama Erwin.


***


Rumah sakit pribadi.


Erwin saat ini menunggu pemeriksaan, memastikan jika wanita bernama Irene itu benar benar sakit atau berbohong. Sementara Hanum di lantai berbeda ia dengan Rico sedang melakukan usg, di temani mama Rita juga yang hadir menemani.


"Mah, maaf ya quality time nya jadi ke rumah sakit dulu!" ucap Hanum.


"Gak apa Han, lagian karena Lisa lagi ga ada di rumah kita jadi keliling ibu kota deh." tawa pecah.


Sementara Rico bak pengawal yang menjaga istri dan mama mertuanya. Dengan gentle dan Cool, itu membuat Hanum risih ketika suster menatap mas Rico dengan tatapan mempesona.


"Mah, jika anak Hanum laki laki. Pasti mirip mas Rico yang suka tebar pesona."


"Sabar Han! sudah resiko punya suami guanteng. Hehehe." goda mama.


Lalu Hanum menuju apartemen. Dan Rico bicara jika Erwin sudah menempatkan Irene di tempat semestinya. Rico juga bilang, jika ia sangat bangga akan ketulusan kebaikan sang istri yang mudah memaafkan di masa lalu.


DI BERBEDA TEMPAT.


Erwin yang sedang memberikan minuman jahe, mengatakan agar Irene mau meminumnya. Serta herbal yang baru saja ia beli. Erwin bicara jika dulu ia sempat di diagnosa hiv, padahal ia tidak campur sembarang bermain pada setiap wanita.


"Katakanlah apa yang membuat kamu tertekan Ren!" ucap santai Erwin.


"Aku ini wanita bodoh yang sering berganti pasangan, huuuh.. terlebih aku di tolong oleh wanita yang sering aku jahati hanya karena cinta besarku pada Alfa Jhonson." menghela nafas, menutup wajahnya.


Benar, Erwin juga pernah mempunyai calon pengantin wanita. Ia pernah beberapa kali tidur dan ingin menikahinya, tapi saat akad di mulai, tubuhnya kejang dan dingin sehingga di larikan ke rumah sakit. Begitu tertampar kala wanita yang ia cinta meninggal dunia, dan mengatakan jika kekasihnya itu seorang wanita panggilan diam diam.


Satu jam lebih Erwin menceritakan masa lalunya. "Ren, percayalah aku di tolong keluarga Mark dari hidup yang terpuruk. Tidak ada salahnya merubah dirimu jadi lebih baik. Selagi diberi kesempatan!"


"Benar, aku sangat beruntung mengenal Hanum! dan beberapa waktu lalu aku pergi menemui ayah angkat ku!"


Erwin mendengarkan ketika Irene menceritakan kejadian pahit, sebelum ia tinggal di jalanan dengan kelaparan dan menahan sakit.


Langit yang sudah berubah gelap tidak mengendurkan tekad irene. Bahkan saat kilat dan guntur mulai terdengar, gadis itu tetap berada di sana. Rintik hujan mulai jatuh saat sebuah lampu mobil menyorotnya dari kejauhan, perlahan mendekat. Mobil itu berhenti, satu karena jalan masuknya Irene halangi, dua karena gerbang rumah itu memang masih tertutup rapat.


“Mau apa kamu ke sini?” adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut pria di hadapannya begitu turun dari mobil.


Rahang Irene mengeras, menatap tajam pria yang sudah tidak ingin lagi dipanggilnya ayah, meski nama pria itu jelas masih menjadi bagian dalam namanya hingga detik ini.


“Setelah belasan tahun tidak bertemu, itu yang anda katakan pertama kali?”


“Jangan buang buang waktu! Katakan saja apa mau kamu? Kalau kamu ke sini untuk merusak dan membuat keluarga saya ribut karena ini, sebaiknya cepat pergi dari sini!"


Menggertakan gigi penuh amarah, Irene mengatasinya dengan dengusan yang keluar untuk meredakan emosi. Kalau memang pria itu memintanya untuk mengatakan apa maksud kedatangannya tanpa basa basi, baiklah, karena memang itu yang Irene inginkan.


“Pinjamkan saya uang. Lima ratus juta.”


Bola mata gelap milik pria di hadapannya membesar, “Kamu gila? Untuk apa kamu butuh uang sebanyak itu, hah? Tahu diri saja kalau kalian tidak mampu! Jangan mengikuti gaya hidup macam macam!”


Gila? Kalau bisa rasanya Irene ingin sekali mengatakan bahwa lawan bicaranya inilah yang gila! Apa orang itu pikir Irene akan mengemis meminta uang sebanyak itu hanya karena ingin mengikuti gaya hidup orang orang? Kesimpulan bodoh dari mana yang dia ambil?!


“Saya benar benar butuh.” Sekali lagi Irene meminta, masih berusaha meski harus merendahkan dirinya di depan orang itu. Sudah Irene katakan, bukan? Dia akan berusaha meski harus menggunakan cara apa pun untuk kesembuhan penyakitnya.


“Kamu kira, dengan kamu datang ke sini dan mengganggu keluarga saya, saya akan memberimu uang, begitu? Kami tidak bisa diperas dengan cara macam ini. Kalau kamu butuh uang, kerja keras! Jangan jadi pengemis memalukan, macam sudah lupa kamu sudah membuat nama keluarga buruk. Dasar anak gila, jual dirimu apa sudah tidak laku. Kemana pria bernama Alfa yang katanya membuat kamu bahagia dan bergelimang?


Petir dan kilat menyambar, gemuruh derasnya hujan menambah kelam suasana malam itu. Irene yang tinggal sendirian di jalan, beberapa kali terkaget. Aktifitasnya yang sedang bersantai melepas penat di depan ruko beberapa kali terganggu karena suara gemuruh di luar sana. Ia juga menitipkan adiknya di panti, seberusaha mungkin agar adiknya tidak merasakan penderitaan hidup di pinggiran jalan.


Hal itu juga membuat Erwin iba kasihan pada wanita di depannya yang sangat cantik, dan imut di bagian tipis bibirnya.


Tbc.


Ada yang kepo, semoga suka dan mampir nih jangan bosen kalau Author bakal rekomendasiin novel keren temen litersi Author.