
"Bawa dia cepat pak! dia tidak lagi gila, seratus persen dia berbohong!" ungkap Rico pada beberapa polisi.
Alfa berteriak, jika ia tidak bersalah. Menatap wajah Hanum dan hampir terkena ludahnya. Hanum tak menyangka, jika Rico sudah mengetahuinya dan membantunya dari jeratan Alfa.
"Rico, aku minta maaf! aku bersalah, tangan kamu terluka, berdarah darah! semua salah aku, aku minta maaf!" huhuhu, isak tangis Hanum.
"Jangan nangis lagi, sakit goresan cutter ini, tidak sebanding jika aku melihatmu terluka lagi."
"Rico.." hening Hanum memeluk Rico.
Hanum langsung menarik tangan Rico. Hanum berusaha membawanya ke dalam mobil. Kotak p3k kebetulan selalu ada di bagasi, Hanum memapah Rico dengan sedikit menahan sakit kakinya yang terkena balok kayu.
Rico yakin Hanum terluka, tapi melihat wanitanya kini baik baik saja ia sudah cukup senang. Hingga sampai di dalam mobil, Hanum mencuci goresan tangan telapak tangan Rico.
Mulai dari mengompres dan mengobati tetesan obat merah, lalu memberi perban dan perekat.
"Sudah beres, apa masih sakit?" tanya Hanum.
"Sakit ini, tidak sebanding jika kamu tak mempercayai ketulusan aku Hanum. Aku bahkan rela mati dan terluka. Asalkan kamu baik baik saja."
"Rico, maaf ...!" spontan Hanum memeluk Rico.
Hanum memeluk erat Rico, hanya mereka berdua di dalam mobil saat itu. Hanum mencurahkan isi hatinya, ia melakukan itu karena ancaman Alfa yang akan menyakiti keluarganya juga dirinya lelah atas sikap Alfa. Tapi lagi lagi Hanum meminta maaf atas khilafnya yang berkomplot menukar data di ruangan meeting.
"Flashdisk, aku bahkan tidak mengerti isinya. Tapi itu belum sempat aku berikan pada Alfa! jadi aku minta maaf atas semuanya Rico!"
Rico sebenarnya berdegup kencang, soal data yang Hanum tukar. Tidak sebanding dan hanya data usang yang tidak terpakai, bahkan hanya data film kartun animasi kesukaannya saja. Tapi karena ia ingin membuat Hanum jera, maka ia berusaha tetap membuat Hanum seperti ini memohon. Jujur Rico sudah mengetahui sebelum dirinya menemukan ponsel Hanum, pesan itu masih terlihat jelas di layar tanpa kode kunci ponsel.
"Aku maafkan, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?" mendongak wajah Rico.
Rico menelan saliva, karena Hanum masih mode memeluknya dengan tidak sadar. Membuat sesuatu terasa sempit, sehingga Rico berbisik dan menggigit telinga Hanum.
"Menikah denganku!"
"Rico, tapi aku ..."
"Jika kamu menolak, maka aku akan biarkan polisi juga mengintrogasi dirimu yang berkomplot dengan Alfa." alibi Rico.
"Kamu mau aku bertanggung jawab, aku akan menyerahkan diri Rico. Aku sebaiknya menyusul ke kantor polisi."
Salah sasaran. Rico lagi lagi salah ucap. Lalu ia menahan Hanum yang ingin pergi.
"Maksudmu ..?"
Hanum terdiam wajahnya mendekat ke arah Rico. Hanum terkesima kala jakung Rico terlihat gagah. Bibirnya semakin dekat, dan Rico lagi lagi meminta dirinya untuk diam sejenak.
"Rico kamu mau apa?" gugup Hanum.
Rico memencet tombol body mesin, terlihat kaca menutup dengan berubah menjadi warna hitam pekat. Kursi Hanum segera berubah mundur empat puluh derajat, tangan Hanum memegang bahu Rico dengan sedikit menahan dan gelap.
"Jika kamu belum siap aku lamar, maka izinkan aku menyentuh ini sebagai ganti permohonan maaf." jari telunjuk menyentuh bibir Hanum.
"Rico, itu tidak mungkin aku .." Hanum menolak.
Rico yang sadar, ia segera kembali duduk dengan lurus ke arah jalan. Rico mengiyakan dan mengerti sikap Hanum yang masih trauma pernikahan.
"Baiklah aku paham, masih ada nama Alfa dihatimu Hanum."
"Rico aku bukan menolakmu, aku hanya takut kamu salah memilih pendamping hidup, apa aku bisa menjadi istri terbaikmu?"
"Han! aku hanya butuh kejujuran, jangan melibatkan nyawa dalam bahaya. Aku akan antar kamu pulang sekarang! Aauwww." Rico menahan sakit.
Hanum yang tidak tega, ia segera menarik baju Rico dan merangkul tengku lehernya. Rico dibuat gugup, karena ia memang tidak benar benar meminta sesuatu pada Hanum dengan kesempatan.
"Kamu mau apa Hanum, kita pulang saja!"
"Dari yang aku kenal, aku tidak pandai mengisi semua pikiran pria sebaik dirimu. Maka bimbinglah aku Rico. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu." bisik Hanum.
Seolah mendapat sinyal, raut wajah Rico senyum sumringah, ia mendekat dan menempel pada bibir Hanum. Hanum yang kaget, mereka saling diam menatap masih mode menempel, Hanum menutup mata dan menarik kemeja Rico hingga dirinya berada sejajar dan miring menikmati dua ranum yang saling menempel.
Hanum kembali dengan kaku, Rico sadar Hanum bukan tipe wanita yang lihai. Maka Rico mengatur ritme dan mengajari Hanum dengan gerakan lincahnya. Hanum yang terbuai, ia meminta Rico menghentikannya dan mereka sama sama mengatur nafas.
\*\*\*
YAHOO YAHOO! SEMOGA KALIAN BUKA BAB INI PAS UDAH BUKA PUASA YA!
Maaf udah ke atur duluan, niat mau setting jam malah lost.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Happy Reading Senin jariyah, tinggalkan jejak dan vote yang setiap senin masuk akun.
Dukung Hanum ya all!