
Sinta ingin sekali bertanya pada Hanum, tapi ia tak jadi hubungi Hanum malam malam, guna menanyakan siapa itu wanita bernama Nestia. Karena ia hampir mengingat nama itu tidak asing, dan setelah membaca perlahan Sinta ingat dia adalah madu Lisa saat ia tengah mengandung.
Ingatan Sinta saat itu!!
"Hati hati. Maksudnya?" lirik Lisa.
"Hati hati lama lama, lo terpikat Lisa! hahaha." goda Sinta.
Lisa menaruh sendok garpu, dan minum masih mode melotot yang kebingungan.
Lisa pun memukul halus Sinta dengan, buku menu yang di sedikan di cafe itu. Hingga nomor meja mereka paling aktif dan berisik.
Untung saja, mereka memesan di outdoor. Sehingga tak bising dan mengganggu orang lain yang berkunjung.
Tanpa Lisa sadari. Seseorang mengikuti dan mendengarkan pembicaraan mereka. Pergi begitu saja dan berlalu dengan blazer kulit coklat tua melewatinya, lengkap dengan topi dan kacamata. Berjalan dengan slow tanpa mencurigakan.
BERLANJUT MALL.
Nestia berada dalam sebuah Mall. Kali ini ia menatap Lisa yang sedang berada di sebuah toko seorang diri, tak ada temannya yang bernama Sinta. Nestia berusaha membuat Lisa malu, sehingga ia menonton dari kejauhan tersenyum puas, semoga saja Lisa tidak bersama teman yang solidnya, karena Nestia selalu lihat Lisa selalu bersama sama dengan wanita bernama Sinta.
"Mbak. Boleh saya lihat baju model ini?" tanya Lisa.
"Boleh. Sebentar saya ambilkan, size ukuran berapa ya nona?" tanya pelayan.
"Mungkin size S."
Saat pelayan itu sedang mencari, tak lama seseorang menyenggol bahunya.
"Uuuupsss. Sorry!"
Air minum berwarna oren itu tumpah, Soft drink yang di sengaja untuk menyenggol Lisa. Kali ini benar benar membuat Lisa menarik nafas. Lalu menatap seorang tersebut dengan tatapan berbeda.
"Lain kali mbak hati hati ya! Saya harus ada pertemuan saat ini, bagaimana ini?" jelas Nestia.
"Kamu, bukankah kamu yang harusnya minta maaf, numpahin sengaja ke baju aku?" menatap tajam Lisa.
"Hahaaahaaa ... Pertemuan kali ini, sorry untuk mbak seorang wanita yang sedang mengandung anak haram, apa pantas. Lagi pula fashion di toko ini mahal loh. Kamu sanggup membelinya. Kalau sanggup sekalian beli aja!" ucap Nestia mempermalukan Lisa.
Lisa yang begitu terkejut. Ia langsung menahan amarah. Hal itu membuat dirinya tak mungkin membeli baju di fashion tersebut. Ia hanya ingin melihat dan akan membelinya setelah mendapat bonus dari pekerjaannya.
"Kenapa. Kok marah, silahkan beli. Tuh lihat deh, si pelayan udah ambilin. Mbak sekalian bungkus aja. Maklum nona hamil anak haram ini sepertinya sedang melihat lihat tidak beli!"
Lisa kembali berdiri, ia menatap wanita itu dan apa maksud pembicaraannya menyinggung. Hingga Lisa ingin meraih baju wanita yang menghinanya. Tapi ia berlalu, see good bye pada Lisa, dengan tatapan tertawa jahat.
"Dasar gila. Kau wanita gilaaaa .." teriak Lisa.
"Nona. Bagaimana dengan ini?" tanya pelayan.
"Eeeemh. Bagaimana ya, bisa saya akan mencari kemeja bahan lain. Bolehkan!" pinta Lisa.
Lisa tak sanggup untuk saat ini. Sehingga tak lama Nestia datang dan menambah hidupnya sial di sore hari.
PROOOOK .. PROOOOK.
"Lisa .. Lisa. Bilang saja kamu ga sanggup beli. Ya kan? Kamu mau lihat lihat di toko ini. Coba jika kamu punya, bisakah kamu membeli baju ini sekarang juga!"
"Nestia, tidak cukupkah perlakuanmu ini?" terkejut Lisa.
Lisa menatap tas dan isi dompetnya. Ia saat ini memang tak membawa kartu debit yang biasa ia bawa, ia melihat kemeja itu karena ingin memberikan kado untuk Sinta di hari ulang tahunnya lusa.
"Nestia. Apa maksud kamu, aku memang ingin melihat lihat untuk memberikan kado. Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Ka-muuu. Ciieh, kita ga akrab. Lagi pula, aku hanya bicara sesuai realita kan?"
Pelayan, bungkuskan ini satu ya!! titah Nestia dengan sombong.
Tak menunggu lama, pelayan itu langsung membungkuskan pesanan Nestia, yang hanya ingin membuat Lisa malu. Lisa berdiri seorang dengan wajah bingung, ia kini di abaikan oleh pelayan toko.
Nestia menyukai hal pemandangan yang membuat Lisa sedikit terhina satu langkah. Lalu ketika pelayan itu memberikan paper bag berwarna putih pada Nestia. Ia mengucapkan terimakasih dan meminta untuk kembali.
"Pelayan. Bedakan pembeli sultan dan pengemis Jangan buang waktu anda!" teriak Nestia dan melirik Lisa.
Lisa berjalan, meninggalkan lokasi. Sementara lisa bertanya pada pelayan itu. Tapi pelayan itu menghiraukan dan menatap tak suka akan waktunya yang terbuang, karena dianggap hanya melihat lihat saja tidak jadi beli.
"Mbak. Apa masih ada model itu, apa saya bisa dp. Lusa saya akan kembali membawa sisa uangnya!"
"Mohon maaf. Model itu hanya satu, dan nona tadi telah membeli satu satunya barang kami. indent dan hanya beberapa saja!" ucap pelayan? menunjuk ke arah wanita bernama Nestia.
Lisa pun keluar dari toko fashion itu. Ia terlihat sedih, hingga berpapasan dengan Nestia lagi, yang seolah menghalangi ia untuk keluar dari lantai ground menuju loby.
"Nestia, apa maumu? Kamu tidak bisa berdiri disana. Banyak yang ingin lewat."
Nestia berbalik dan menertawakan Lisa. Ia tertawa puas dan mengelilingi Lisa yang menatap sedih.
"Lalu apa mau mu Nestia. Apa salahku membuatmu terhina? bukankah kamu sudah mengambil semua yang menjadi milikku?"
PLUGH.
Nestia memberikan baju hadiah di kotak itu, untuk Lisa.
"Aku ga tega. Silahkan kamu ambil, ternyata warna dan ukurannya tidak sesuai. Nih buat kamu, kalau ga ambil, aku akan halangi kamu untuk lewat sini!"
Lisa terdiam. Ia ragu ragu mengambil paperbag itu. Tapi wajah Nestia meyakinkan agar Lisa mengambilnya dengan cepat.
"Ambil. Klo enggak, aku teriak nih!" pinta Nestia.
Lisa mau tak mau, tanpa berkata ia pun ingin mengambilnya. Tanpa sadar sedang di permainkan.
"Kenapa kamu sebaik ini .. ?"
PLUUUUUGH ... KOTAK PAPER BAG TERJATUH.
Saat, Lisa ingin menggapai tali paper bag itu. Nestia menjatuhkan nya dengan sengaja.
"Uuppps. Jatuuuh deh. Gimana dong?" ucap Nestia.
"Aku ambilin lagi deh. Bentar ya Lisa!" senyum miring Nestia kembali berkata.
Lisa terdiam, tatapan orang lain yang lewat membuat dirinya terdiam kaku. Nestia membuka paper bag. Kotak dalam pita itu dibuka, lalu mengambil sebuah kemeja putih terusan bergaris biru abu.
"Nih. Kamu mau inikan?" menyodorkan kemeja yang Lisa inginkan.
"Nestia. Maksud kamu apa sih?" tanya Lisa.
"Cepaaatlah. Kamu mau ini kan, masukin ke tas. Aku teriak nih Satu ... dua .. ti ."
Lisa terdiam, saat kembali ingin meraihnya. Lalu ia terkejut saat kemeja hampir ia ambil. Kemeja itu sengaja di jatuhkan kembali oleh Nestia. Hingga berada di atas lantai di tengah mereka yang sedang berdiri.
SREEEEEEUGH .. SREEEGUUUH!!
Nestia menginjak kemeja itu di depan Lisa. Tanpa sadar beberapa orang melihat aksi mereka berdua. Hingga di mana Lisa mundur satu langkah menepi di batas balkon Mall.
"Nestia. Kamu melakukan ini hanya untuk mempermalukan aku?" syok Lisa.
"Hahaaa.. Menurutmu. Apa aku akan sebaik yang kamu kira. Aku harus mengasih fashion ternama ini, ingat satu kemeja ini lima juta loh!"
"Tapi .. Kalau kamu ga mau memberi. Tidak perlu merusak dan mengotorinya di depan umum Nestia!"
Kemeja itu pun di lempar ke wajah Lisa dan terlihat kotor bekas injakan sepatu heels Nestia. Nestia tersenyum puas, lalu Lisa mengambil dan menatap kemeja robek itu akibat heels yang Nestia kenakan.
Tanpa sadar Lisa yang maju menghampiri Nestia karena kesal. Ia mendorong Nestia dan tepat sekali Fawaz menopang tubuh Nestia yang hampir jatuh, hingga jatuh kepelukan Fawaz.
Aaaaghk!! teriak Nestia.
"Mas Fawaz," Lisa menatap kaget.
"Apa apaan ini?" teriak Fawaz.
"Honey. Tolong aku, Aku tak sengaja membeli fashion ini. Tapi Lisa memaksa untuknya, lalu ia mengambil dan membuat kemeja itu rusak. Lihat kotor dan robek!" rengek Nestia cari muka.
Hooooh. Lisa menatap senyum kesal, jika saja bukan di area umum. Sudah pasti Ia menampar Nestia. Dengan maju satu langkah, ia meminta Nestia untuk jujur.
"Nestia bukan hanya licik, kamu berwajah dua. Katakan yang sebenarnya!"
"Auuw. Honey, dia meremuk bahuku. Aku sudah jujur padamu tadi." Nestia memohon Fawaz membelanya.
Fawaz menepis tangan Lisa yang menempel pada bahu Nestia.
Lisa tak percaya. Ia hanya menyentuh bahu Nestia agar ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi langkah Fawaz mendorong Lisa dan membuat dirinya hampir terpental jatuh.
Fawaz maju satu langkah dan membuat Lisa terdiam sipu begitu saja, kala tubuh Lisa hampir jatuh dan tertopang oleh pria bernama Ray!
"Jangan jadi pecundang bro! yang kau dorong ini, wanita hamil!" ucap Ray tajam, ia menahan tubuh Lisa, karena saat itu Ray tak sengaja ingin membeli sesuatu juga.
"Pak Ray." lirih Lisa, ia takut salah paham dan semakin rumit masalahnya.
"Fawaz, jelaskan semuanya! kita perlu bahas semuanya, sampai ke akar akar. Aku sudah menyimpan video kalian. Ingat siapa aku kan?"
"Rico, dan Ray. Kalian bisa bersama begini? kenapa bisa?" lirih Fawaz dengan wajah pucat.
"Ikut aku!! tinggalkan wanita lebah, disini! aku telah mencarimu sudah berhari hari!" kesal Rico.
Ray menolong Lisa, dan mengajak Lisa untuk ikut pulang bersamanya. Karena ada Sinta juga tak jauh dari lokasi, hal itu membuat Fawaz tak suka melihat Lisa dekat dengan Ray.
Tbc.