BAD WIFE

BAD WIFE
HALAMAN KEDUA



Hanum, setelah menidurkan seluruh bayinya. Ia berkabar dengan ponselnya, ketika Rico sudah berada di sebuah bandara transit menuju Hongkong.


"Sayang, mas kembali terbang. Setelah sampai, mas akan kabari kamu ya." ucap Rico, dan Hanum tersenyum, dalam sambungan ponsel.


"Iy mas, mas hati hati. Hanum juga akan istirahat, setelah sedikit membaca buku kak Lisa."


"Oh, benarkah? jangan terlalu larut ya sayang. Mas akan terus merindukanmu. Mmmmuaaach." kecup Rico dalam sun jauh.


Hanum kembali ke kamar, ia menatap Leo yang telah tertidur menemaninya, lalu Hanum duduk bersadar di sofa, menerangkan cahaya lampu tidur. Hingga kini Hanum membuka lembaran halaman kedua yang terakhir ia baca.


Hal dua, Diary Lisa.


Tidak menyangka, jodoh ku adalah mas Fawaz! dan bodohnya aku baru sadar, jika ia adalah mahasiswa kedokteran dalam acara bantuan amal, saat itu aku masih mengenakan seragam sekolah. Sayangnya sosok Fawaz memakai seragam kebesarannya dengan tampilan yang sangat muda dan baby face, sehingga aku merasa bersalah karena baru mengingatnya.


Jadi tragedi kecelakaaan di paris, pertemuan bukan pertamaku. Saat mobilnya menyerempet, tapi ini adalah pertemuan kedua.


Lisa menarik nafas! lalu ia kembali menulis kisahnya, selain dari kegiatan vlogernya. Berharap setelah tiada, akan ada penerbit yang mau menerbitkan kisahnya dengan seorang pria bernama Fawaz, bagi Lisa ia adalah pria sempurna yang ia kenal. Yang jika diberi judul, Jodoh tak kemana.


Saat itu hari berganti. Ini hari pertama MOS dimulai, kakak OSIS menyuruh kami untuk memperkenalkan diri di depan teman teman. Dan saat itu, seolah kelas senyap akan suara. Kedua bola mataku mencuri pandangan ke kanan maupun kiri, berharap ada yang memberanikan diri karena jika tidak sanksi akan dilemparkan oleh kakak OSIS.


Aku rasa kursi yang mereka duduki terlalu nyaman. Menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian akhirnya aku bangkit dari kursi dan meja barisan kedua.


Malu, tegang, rasanya ingin kembali ke tempat dudukku. Tapi ternyata kakak OSIS tidak segalak yang aku pikirkan. Aku mencoba untuk bersikap manis tapi bukan sok cantik.


Berdiri di hadapan teman baru sambil merapikan kerudung.


“Assalamualaikum.” Lisa.


“Wa’alaikumusalam.” jawab Sinta si gadis berkerudung.


Semuanya menjawab salam dariku, aku melihat ada yang aneh dengan tingkah laki laki yang belum aku ketahui namanya. Dia yang kemarin kulihat di balik pintu, hatiku kesal karena dia seperti menertawakan aku dan mataku langsung memandangnya dengan sinis.


Lagi lagi kelakuan laki laki itu, ia mengangkat tangan kanannya. Mataku membulat dan pipiku memerah. Apa yang akan dia lakukan, dalam hatiku berdoa semoga dia tidak bertingkah yang aneh aneh.


“Boleh minta nomornya, gak?” ucap laki-laki itu bibirnya dilipat karena menahan tawa dan matanya menatap tajam pada Lisa.


“Huuu…”


“Cie…” sorak dari teman sekelas memecah ketegangan menjadi riuh.


“Kasih nomor sedot WC aja, Lis.” ucap temanku namanya Sinta yang sekelas denganku sejak Smp.


“Hahaha…” mereka menertawakan yang di ucapkan.


Wajahku bertambah merah, bukan karena salah tingkah. Tapi, aku sangat kesal dengan laki laki itu. Pikiranku langsung mencap dirinya laki laki yang genit dan pastinya tidak baik. Dari dulu aku tidak suka dengan laki-laki yang seperti itu. Tanpa basa basi aku langsung mengakhiri dan kembali ke tempat duduk dengan memasang wajah yang kesal.


Sinta, teman sebangku tertawa begitu puas, walau suaranya tidak keras. Dia adalah teman satu kelas dari bangku Smp hingga kini mereka berada di Smk.


Saat aku pergi ke toilet. Sinta menyikutku, dirinya masih tertawa kecil.


Tidak lama, laki laki tengil itu melangkah melewati mejaku, kemudian menganggukan kepala kepada kakak OSIS cantik bernama kak Tasyi, dia melontarkan senyuman seolah ingin mendapatkan perhatian dari pria itu.


Tapi sayangnya aku sangat terpesona, kala seorang pria yang baru saja tiba, memakai kemeja kotak kotak dan jas putih ala dokter magang pada sekolah tertentu.


"Aih, siapa ya dia?" lirih Lisa.


"Ganteng Lis, wah kaya begitu model yang kudu dicari." sindir Sinta, membuat tatapan laki laki yang menyukai Lisa terdiam, di ruang BK, Lisa saat itu.


“Udah waktunya istirahat. Gak bosen belajar terus?” ucap laki laki berseragam putih abu abu, dia berdiri di belakang mejaku sambil tertawa.


"Sirik aja sih, ga liat apa. Lagi merhatiin dokter uks disekolah yang handsome." lirih Lisa.


"Dih, gitu doang juga bisa. Gantengan juga Ay lah,"


"Narsis abis." cibir Lisa.


Sinta dan Lisa hanya menarik nafas. Ia masih memperhatikan pria di sebrang, yang membawa kotak p3k ke ruang uks.


Tak lama Sinta menarik Lisa, karena jadwal istirahat telah habis. Hal itu juga membuat Lisa menurut dan kembali belajar di kelasnya.


Aku fokus mengerjakan tugas yang baru saja diberikan Ibu Cary. Menghiraukan dia yang berdiri di depan mejaku.


“Biologi, lah beneran hari ini ya?”


“Iya, seperti biasa pelajaran yang aku suka." senyum Lisa.


"Hehehe…” ucap Sinta bingung, sambil merapikan kerudung putih. Jujur ia tak menyukai biologi.


“Kamu tau gak, Sinta? Biologi itu obat tidur buatku. Faktanya bukunya yang tebal tebal itu dapat menghilangkan insomnia seseorang.”


“Haha… Itu hanya mitos, karena seseorangnya hanya kamu. Aku enggak!” kesal Sinta berlalu merapihkan buku dengan malas.


Guru kembali datang, pelajaran seperti biasa. Dan guru kami bu Cathy, mempersilahkan masuk seorang pria. Ia mengenalkan akan ada dokter magang, yang di tugaskan di ruang uks.


"Kenalkan saya adalah dr. Fawaz, masih dalam tahap magang. Senang bisa bertemu dengan kalian, jika ada yang terluka silahkan ke ruang uks. Jika mengalami keluhan sakit, datang segera ya!" ucap Fawaz.


Fa-Wa-Z. "Haah, seneng deh. Bakal gue tandain dia jodoh gue." bisik Lisa pada Sinta, dengan tawa girangnya, menoleh ke arah Sinta yang wajah bingung.


***


Perlahan, Hanum menutup buku Lisa. Ia sudah mengantuk, entah kenapa Hanum baru sadari, jika Lisa bertemu dengan Fawaz lebih dulu dan mereka hanya sekilas saja.


"Jadi Fawaz, sebelum satu sekolah denganku. Ia sudah bertemu dengan Fawaz? Haah, ini lucu. Seolah dunia memang sempit, kalian memang jodoh." lirih Hanum, ia menutup buku dan memejamkan mata.


Tbc.