
"Rita, kamu benar Rita kelas Ipa di Amsterdam kan?"
"Ah! kamu Sony, benar Sony anak kimia kan?"
"Ya, benar. Bagaimana Armand, aku minta maaf tidak bisa datang ke pernikahan kalian dua puluh tahun lalu, itu sangat membuat aku menyesal." jelasnya.
"Aku tau, penelitianmu sangat jelas Son. Tidak apa, aah iya. Kenalkan ini anak sulung ku Lisa. Dan itu Hanum si bungsu."
"Benar, Lisa nama yang bagus, perpaduan antara dirimu dan Armand. Dan ini bungsu, pasti Armand sekali. Bagaimana, apa perjalanan kalian terganggu. Maaf karena mobilku sedikit mogok."
Lisa dan Hanum saling menatap, ia merasa ada konspirasi dahulu antara mamanya dan pria di depannya ini.
"Kak, ada bau bau aneh gak?" bisik Hanum.
"Heuuumph! jika itu masa lalu mama, kita harus singkirkan, tidak boleh ada yang menggantikan papa Han!"
"Betul itu kak." sinis Hanum.
"Mama, ayo kita harus berangkat!" serentak Hanum dan Lisa.
Rita segera pamit, sehingga mereka pergi menuju makam Chemistery. Di sepanjang perjalanan sang mama selalu saja menceritakan dirinya sekolah dahulu, dan mengatakan jika pria tadi itu teman baik sang mama. Setelah itu bertemu sang papa.
"Dulu, papa dan paman Jhony itu kakak kelas, kita ketemu bersama. Tapi saat itu mama dan Sony, pria yang tadi kamu lihat. Dia pindah, kamu tau pria tadi sangat genius. Tidak ada yang mengalahkan satu sekolah di atas rata rata. Kuliah saja bisa 4,0. Bayangkan, mama saja yang 3.6 masih sejajar di antara mahasiswa lain."
"Tapi mama itu kan jurusan akuntan, perekonomian bangsa. Tidak sejajar dengan kimia." cetus Lisa.
"Kak, udah ah. Mama, bentar lagi sampai. Hanum nanti mampir ke toko bunga itu aja ya! mama jangan lupa air mawarnya di tas itu!" potong Hanum, mencairkan susasana yang tegang di wajah Lisa.
"Ya sayang, ga berasa mama ngoceh taunya udah sampai aja. Habis mama jadi inget jaman dulu, mama lupa lagi ga minta nomornya. Om Sony itu baik, teman baik mama, dah lama juga soalnya."
'Hadeuh, bagus deh ga sempat minta nomornya. Buat apa coba, malesin aja.' batin Lisa.
"Ya udah mah, kapan kapan juga bakal ketemu kalau udah waktunya."
"Hanum." teriak Lisa menyadarkan, membuat mulut Hanum terkunci, mengerjapkan mata berulang kali.
Hingga beberapa saat sampailah Hanum dan Lisa di pemakaman. Hanum dan Lisa mendampingi sang mama yang bercucuran air mata. Sudah lama sekali sang mama merindukan suaminya. Hal itu jelas dan sangat jelas bagi Hanum yang merasakan sang mama merasa kesepian. Belum lagi kala Lisa dan Hanum sudah bersuami.
Hal seperti biasa, mendoakan dan menaburkan air mawar serta taburan bunga di makam, yang Hanum dan Lisa ikut menaburkan, tak lupa memeluk sang mama untuk menguatkan.
"Mas Armand, kelak aku menunggu waktunya tiba. Kamu menjemputku, aku berharap kita bisa berkumpul. Aku rindu sekali, huhuhu."
"Maah." serentak Lisa dan Hanum ikut memeluk sang mama.
Sementara di ujung pohon, terlihat seorang pria tinggi besar. Sony! ya, dia Sony teman baik Rita saat kecil. Mengejar dunia angkasa, membuat mereka berpisah dan merelakan Rita menikah dengan seseorang. Tapi pertemuan kali ini tanpa sengaja, membuat hati Sony sang bujang lapuk kembali tergoyah ketika kembali bertemu.
"Jadi, suamimu. Armand telah tiada, pantas aku tak melihatnya tadi." deru Sony ia kembali pergi kembali ke mobilnya. Karena saat tadi ia berusaha mengejar mobil Rita dengan taksi.
"Pak jalan, sekarang!" titah Sony dan berlalu.
Lisa dan Hanum kembali ke mobil setelah selesai beberapa jam. Sehingga mereka kembali ke villa Feli dengan waktu menjelang sore. Terlihat Rico dan Fawaz yang baru saja tiba dengan mobil lain.
"Mama." Rico dan Fawaz hormat menyalami sang mertua.
Begitupun Hanum yang menyium punggung sang suami dan pundak telapak tangannya.
"Mas."
"Sayang, maafkan mas. Mas ga sempat jemput kamu. Gimana lancar tadi?"
"Lancar mas, meski tadi sedikit terganggu ada sesuatu. Tapi semua baik baik aja kok. Nanti Hanum mau bicara sama mas."
Hanum yang merasa aneh pada satu mobil biru, membuat matanya kembali tertuju ketika sebuah mobil datang dari arah pagar.
"Eh, tante Felicia kedatangan tamu?" tanya Hanum.
"Enggak deh, siapa ya. Perasaan kita ga ada janji temu kan. Ya kan Fawaz?" tanya balik Felicia pada putranya.
"Benar mah. Kita lihat siapa yang datang."
Hanum dan Rico menatap suaminya, ia berbisik pada suaminya dengan lembut, tapi Rico malah merapatkan pipinya merubah jadi bibir, sehingga ranum mereka menempel dengan manis di bibir Hanum.
"Mas." tertegun Hanum.
"Kamu terlalu serius sayang, ada apa sih pake bisik bisik."
Tbc.