
"Hanum, tubuhmu kurus sekali. Setelah ini tante cek ya! keliatan kurang gizi. Tubuh wajah kamu pucet, apa kamu sedang tertekan atau masalah sayang?"
"Aku, ga ada tante. Mungkin benar kelelahan. Akhir akhir ini Hanum sering aktifitas di luar."
"Kamu kerja, sayang sekali kalau saran sih. Jangan kerja yang berat!"
Hanum hanya mengangguk, dengan begitu ia segera menurut. Setelah sarapan bersama dan beberapa saat tante Felecia mengambil peralatan dokter.
"Kamu rebahan di sofa dulu ya!"
"Baik tante!"
Skrining glukosa, Tes streptokokus, Tes non-stres. Tes stres kontraksi setelah delapan minggu ke atas! kelak kamu berkunjung dua minggu sekali ya Hanum! jelas Felicia yang seorang dokter kandungan.
Hanum sedikit kagum, pantas saja Fawaz mengikuti jejak ibunda nya yang notabane seorang dokter.
"Tante, apa menjadi dokter semenyenangkan itu? wajah tante selalu bahagia terlihat."
"Haaah, semua balik ke cita cita Hanum. Terlebih menjadi dokter sama seperti hal. Keluarga mau sakit, maka ia segera ditangani dengan yang cepat. Hal itu pun Hanum mengangguk dan mengerti.
"Fawaz dines pagi ya tante? Hanum tak melihatnya pagi ini?"
"Owh. Fawaz, dia pagi pagi sekali. Padahal harusnya hari ini tuh, jadwal nya masuk siang." jelasnya.
Mendengar Hal itu pun sangat khawatir bagi Hanum saat ini. Fawaz pernah ingin memancing keributan dan menghajar Alfa. Tapi Hanum ingat lagi, jika Fawaz seorang pria yang bertanggung jawab dan tidak gegabah.
"Tekanan darah kamu stabil, hanya saja kamu perlu cek lab Hanum!"
"Baik Tante. Hanum segera berkunjung beberapa minggu lagi." tak lupa Hanum berterimakasih pada ibunda Fawaz.
Tapi lagi lagi Hanum memutar mata, mencari keberadaan Fawaz. Seolah dirinya tak enak jika masih belama lama di kediaman sahabatnya itu. Sehingga pikiran Hanum kembali pada tujuan awal yang ia curigai.
'Apa dia menemui Alfa? tidak, aku pasti salah menerka.' ujar Hanum.
SEMENTARA DENGAN LISA.
Lisa yang kembali pulang dari bali. Ia segera menghubungi Hanum dan khawatir keadaannya. Hingga dimana wajahnya bingung ketika teman Lisa meminta adiknya bernama Hanum kapan bersedia bekerja, melalui sambungan telepon.
'Tunggu! ini pasti berita bagus.'
Lisa menscrool dan singkat gambar. Sehingga ia kirimkan pada Hanum. Lisa yakin jika sang adik nanti bekerja. Hidupnya tidak akan semumet yang selalu tertekan apalagi memikirkan Alfa.
Lisa melambai pada temannya itu, tapi ia kecewa pada pria gebetannya itu ternyata telah memiliki istri. Sehingga saat kemarin ia project bareng, Lisa kecewa dan kembali patah hati. Itulah kenapa ia enggan untuk menikah. Jika ia sudah menikah, ia tidak ingin cintanya serumit Hanum saat mengetahui pria nya itu menipu kebaikannya.
Saat itu Lisa ingin antri mengambil koper, tapi saat anak kecil berlarian, menyentuh tabrak bahunya. Mau tidak mau minumannya terlempar kesebelah wanita lain.
"Aduuh!"
"Aah! maafkan saya mbak. Saya ga sengaja." pinta Lisa.
Dan saat menoleh, Lisa terkejut karna wanita itu adalah istri dari Rehan. Pria yang sempat ia sukai. Pria yang sempat datang merayunya, di gathering dance Hanum.
"Sluuurb!" menoleh.
"Auuuuuwh. Banyak sekali disini."
"Aduh, maaf ya mbak sekali lagi!" pinta Lisa. Sehingga wanita itu mengangguk.
"Lo tau gak sih, kalau dia ini .." tajam Rara ingin menjelaskan tapi terhenti.
"Udah ya, ga usah di perpanjang!! kedip Alea pada Rara. Karna teman sebelahnya itu tak suka, tak menerima kala Lisa menjatuhkan kopi.
"Al, lo itu istri pimpinan pemilik BE. Jaga image wibawa!" ucap Rara.
"Apa gunanya, mau gue marah atau enggak. Ga bikin baju gue bersih lagi kan? Udah terjadi. I'm serious, don't bother!" ungkap Alea menatap Rara.
Alea menghampiri wanita yang mungkin bagi Alea tak sengaja, terkena minuman kaleng. Mengenai dress kuning dan terlihat noda membekas, meski entah sulit atau tidak. Yang jelas, Alea ingin menghampirinya.
"Mbak, maafin saya ya!" pinta Lisa saat ia telah mengambil tisue basah dari tasnya.
"Hadeuh, belum selesai buat video klip udah ada yang buat masalah." celetug Rara bertolak pinggang.
Tapi Lisa, ia sedikit tak asing dengan dua wanita yang ia sebut Alea dan Rara. Belum lagi Lisa tau, ia sempat melihat Rehan memperkenalkan istrinya dibanyak tamu yang datang. Namun saat Lisa terlanjut kecewa ia lebih memilih pulang ke ibu kota lebih dulu.
"Siapa nama kamu?"
"Nama saya Lisa, mbak! menunduk. Tapi mbak, sumpah saya berani sumpah demi apapun. Saya gak sengaja, saya akan bertanggung jawab. Saya mohon, Mbak maafin saya, saya berani bersumpah akan melakukan apapun."
"Kamu serius, mau lakuin apapun?" tanya Alea.
Lisa mengangguk, hingga di mana ia tetap menunduk tak berani menatap. Sindirian pedas orang lain sepertinya mencemoohkan. Hingga di mana Alea meminta data kepada Rara.
"Ra, nama oca batalkan ya?"
"Benar, ia tereleminasi dalam perjanjian aturan."
"Masukan nama dia aja, siapa tadi nama kamu?"
"Panggil saja Lisa!"
"Oke, aku memasukan nama kamu untuk berikutnya hadir." memberikan kartu klip.
Lisa terdiam, kala dua wanita itu malah memberikannya hadiah. Hanya saja Lisa memang mengikuti ajang bakat keartisannya dalam selebgram yang followernya cukup lumayan. Tapi saat melihat wanita tadi, Lisa yakin jika dua wanita tadi akan menjebak Lisa, agar ia tau siapa wanita yang dekat dengan Rehan.
'Tidak! aku harus berpura pura sakit. Atau aku gagalkan saja jelek saat bakat ya?' benak Lisa sedikit memikirkan, karna ia tak ingin terjebak pada pria yang telah beristri.
Lisa pun menghubungi Hanum, tapi saat ini sulit sekali. Ia yang khawatir, segera menghubungi nomor Fawaz yang semalam dihubungi. Ingin menanyakan keadaan Hanum, dan ada masalah apa yang terjadi pada adiknya itu.
***
Sementara Hanum yang sedang menatap jendela. Saat ini ia sangat lemas, ingin pulang tapi kaki dan seluruh tubuhnya sedikit lemas. Seolah ia juga tak punya daya jika bertemu Alfa dan Irene.
Hanum duduk menatap jendela, yang terhubung alu lalang jalanan. Sambil memikirkan bayangan Alfa dan kelakuan sikap Alfa padanya.
'Kalian sadar gak sih? apa letak salah kalian?'
'Apa, kita buat salah? Sejak semalam kamu dikamar aja. Apa kami buat salah?'
'Alfa! jika kamu tidak bisa menuruti permintaanku. Maka aku tidak peduli atas mama kita syok apapun. Aku sudah cukup kehilangan pria yang bijak. Papaku, dan jika aku harus kehilangan mamaku dan dirimu atau dibenci pun. Aku ga peduli, jadi jaga sikapmu untuk tidak bermesraan di depan rumah. Juga bercinta di ruang tv di saat ada aku!'
'Hahahaa, perjanjian omong kosong apa itu.' cibir Alfa bertolak pinggang.
Itu adalah bayangan hanum saat ini.
"Nak, jika kamu masih sekecil ini. Apa kamu bisa mengerti dan merasakan apa yang mama ingin lakukan. Apa mama harus tetap diam diam menutupi kehamilan, dan bercerai dari ayah biologismu?" tanya Hanum sambil mengusap perutnya yang masih rata.
To Be Continue!!
SAMBIL TUNGGU HANUM. YUKS MAMPIR LITERSI TEMEN AUTHOR YA!!