BAD WIFE

BAD WIFE
PENYESALAN ALFA



"Eh, pa suparman. Jaketnya sudah dibetulkan ya?" ucap mama Rita.


Rico terdiam, ia mengenali jaket kulit mahal yang ia beli dengan antri, tapi melihat dengan dekat. Bagaimana bisa, jaket itu dijahit dengan tangan yang terlihat jelas. Ingin rasanya menghukum Hanum diatas ranjang, itu jika setelah resmi.


'Sabar Rico, masih 28 hari lagi, aku harus bersabar menahan gejolak emosi ini pada Hanum.' batin Rico.


Hanum pun kembali, dan dengan santainya ia segera meraih tas dan memeluk sang mama dari belakang.


"Mama, Hanum pamit ya! mama baik baik dirumah!"


"Kamu juga Han, oh iya mama denger soal Alfa. Kemarin sore Johnny datang meminta maaf, atas kelakuan putranya. Mama sih maafin, tapi mama bilang soal itu harusnya ketemu kamu. Gimanapun kamu yang dirugikan."


"Tumben, mereka datang minta maaf. Ada apa sebenarnya. Mah?"


"Biar Rico yang jelasin, gimanapun kamu harus pikirkan hati Rico, ok! Mama mau kedalam dulu, ambil uang buat pak Suparman."


Hanum terdiam, lalu meraih jaket dari tangan mama. Hanum menoleh ke arah Rico kala tatapan Rico menatap bagai pisau, dan mengeluarkan giginya dengan gemas.


"Mah, mama temuin ini dimana?"


"Kenapa, punya kamu. Mama temuin ini lagi dicakar cakar kucing, mama ambil tanya Lisa bukan. Ya udah, kebetulan ada pak Suparman."


"Pak, ini uangnya cukup kan. Makasih ya! Mama, jaketnya Hanum perbaiki dulu ya. Hanum bersyukur sudah mama temuin, Hanum bakal servis ini jaketnya. Hanum yakin pemiliknya bakal marah, kalau tau lihat kondisi jaket ini. Hanum berangkat ya mah, sekali lagi makasih. Mmmmuah." lirih Hanum, masih melirik ketakutan pada tatapan Rico.


Di dalam mobil, perjalanan mereka menempuh selama empat puluh menit. Hanum tertegun karena itu bukan arah pekerjaannya.


"Rico, kamu mau bawa aku kemana?"


"Rumah sakit jiwa, kita jenguk Alfa dulu. Bagaimanapun dia itu tetap keluarga. Kondisinya benar benar tidak baik, apa kamu tau soal depresi berat Alfa?"


"Depresi, tapi dia tidak terlihat Depresi Rico, bagaimana bisa?"


"Aku minta kamu bicara baik baik, temui dia. Kita akan menikah, aku berharap dia bisa menerima, karena dia selalu panggil nama kamu terus Hanum. Aku tidak mau, setelah kita menikah Alfa masih terus mengganggu kehidupan kita nanti."


Hanum terdiam, mungkin selagi ia bersiap ganti baju. Mama sudah menjelaskan semuanya pada Rico, Hanum masih meremas jaket kulit. Dan baru sadar ia menatap Rico dengan perasaan bersalah.


"Eheum. Rico, jaketnya setengah rusak. Aku minta maaf!"


"Sudah terjadi Han, biarkan jaket itu di belakang jok. Soal hukuman, aku akan mempertimbangkan yang baik. Dan itu pastinya menguntungkan bagiku."


"Maksudmu?"


Hanum turun dari mobil, kala Rico merengkuh tangan Hanum dan berjalan bersama. Lalu tak sedikit seorang perawat menyambut datangnya mereka. Sepertinya Rico sudah ada janji temu, maka dari itu ia langsung ke bangsal ruang jingga.


"Ruang jingga no 719. Pasien Alfa." ucap perawat.


"Terimakasih." suara serak Rico.


Hanum berdebar kala sudah sampai ruangan 719. Mengingat nomor itu selalu dengan angka tujuh, belum lagi ia menatap Rico sesaat ijin masuk, Rico tersenyum dan bicara ia akan menunggunya di luar. Dibalik pintu transparan ia bisa melihat Hanum dan Alfa jika terjadi sesuatu tak di inginkan, meski tak tahu mereka sedang bicara apa.


"Alfa! Aku Hanum, aku datang khusus menemuimu."


Alfa yang menunduk, lalu mendongak wajahnya senyum lebar dan tertawa kala melihat Hanum mendekat.


"Hahaha, benarkah kamu itu Hanum, kamu datang untuk menemuiku khusus?" masih mode tertawa lebar mendekati Hanum.


Aroma tidak sedap, sepertinya Alfa belum lama memuntahkan makanan dirumah sakit ini. Hanum mundur dan tak tahan, akan sikap Alfa yang tertawa gila seperti bukan dirinya.


"Stop ditempatmu Alfa! Jangan lagi mendekat, aku kemari karena kemauan calon suamiku. Marco Abraham atau mungkin kamu biasa memanggilnya Rico."


"Rico, hah. Hahaha, lagi lagi dia unggul, kenapa harus dia Hanum. Kenapa, apa sulit membuatmu bisa mengerti jika aku ingin kembali. Sulit bagimu, kamu yang memulai menolakku. Maka aku mencelakaimu, itu karena kamu Hanum. Karena kamu." teriak Alfa, lalu kembali tertawa keras, belum lagi ia terkadang kembali meminta maaf dan memohon.


Hanum kembali mundur, ia lalu kembali menoleh pada tatapan Alfa yang kembali tajam padanya.


"Aku kemari hanya ingin mengabarkan kabar bahagia ku, agar kamu paham! Jangan lagi mengusik kehidupanku Alfa." cetus Hanum, lalu ia pergi meninggalkan Alfa seorang diri.


Alfa terdiam melihat Hanum pergi, dengan menampik senyuman seperti orang gila. Mungkin sudah cukup baginya ia tertekan, bahkan sang papa sangat tak peduli pada hati putranya.


"Mengapa sulit bagiku bersamanya Tuhan, mengapa rasa cinta ini begitu kuat padanya? mengapa rasa tertinggal begitu dalam, sehingga aku harus berpura pura gila demi ingin melihatnya benar benar bahagia." lirih Alfa menetes air mata.


Mungkin sebagian orang sangat aneh jika pria meneteskan air mata. Hanum sangat jelas kala Alfa mengatakan sesuatu. Dan itu adalah perasaan terberat Hanum untuk mengatakan suatu hal lagi pada Alfa.


'Alfa, aku tidak tau apa itu dari hati tulus kejujuranmu, yang jelas aku tidak pernah menyesal, pernah jatuh hati padamu. Semoga kelak ada bidadari terbaik yang bisa, membuat kamu kembali kejalan yang penuh warna.' deru batin Hanum.


"Ric, aku sudah selesai. Kita pergi sekarang, kamu pasti terlambat." senyum Hanum.


"Tunggu Hanum!" sentag Rico, ia memeluk Hanum, seperti tau perasaan Hanum saat ini.


"Katakan, apa dia menyakitimu?" tanya Rico.