
"Han, kak Lisa mau kasih tau kamu. Jhoni mertuamu mendengar kamu didalam tadi." bisik Lisa.
Hanum terdiam, ia lalu gugup ketika jelas papa mertuanya telah tiba di rumah sakit. Kemudian mama mertuanya juga baru tiba dengan menyapa Hanum.
"Hanum, bagaimana kondisi Alfa?"
"Baik mah, mungkin Alfa akan semakin sehat karna melihat senyum mama." jelasnya.
Maria kedalam, menemui Alfa. Sehingga saat itu Hanum terdiam dan Jhoni menatapnya.
"Hanum, kita bertemu nanti. Papa ingin mengetahui semuanya!"
Hanum mengangguk, lalu melihat papa mertuanya meminta ia menunggu di kantin. Hal itu juga membuat Lisa meminta sang adik menuruti dan berkata yang sebenarnya.
"Kak, aku bingung. Aku jujur aja, atau bagaimana?"
"Han, saran kakak beritau semuanya! soal hati kedepannya tidak akan ada yang tau. Ka Lisa tunggu di luar, karna kaka harus kirim pesanan milik seseorang."
BEBERAPA PULUH MENIT DI KANTIN.
"Hanum, katakan semuanya. Bagus saja Maria tidak mendengar, jika tidak .."
"Maafin Hanum pah, tapi Hanum dan Alfa sudah seharusnya. Karna Hanum tidak bisa menyembunyikan lebih lama."
"Kenapa kamu ingin berpisah dari Alfa?" tegas Jhoni.
Sedikit lama Hanum tak menjawab, sehingga papa mertuanya menghembuskan nafas dalam dalam. "Papa tau, Alfa tidak memberikan nafkah batin, tetapi dia mencukupimu dengan inves kan?"
"Maksud papa? Hah! lagi lagi kartu black. Pah! Hanum akan jujur tapi dengan dua permintaan!"
"Berpisah tapi banyak sekali permintaanmu Hanum, kamu tau jika kamu keluar dari keluarga Jhonson. Kamu akan kesulitan, apalagi jika sampai mama mertua dan mama kamu tau alasannya! pikirkan baik baik, bagaimana dengan mendiang papamu!" cetus Jhoni.
Apa maksudnya, bukankah papa sudah menepati janji. Kenapa papa mertua Hanum seperti menyulitkan Hanum. Benak Hanum.
"Pertama Hanum ingin tau Maoren. Kedua perpisahan Hanum memang salah menerima Alfa, karna sebuah tanggung jawab. Dan kartu black, Hanum tidak merasakan bahkan menggunakannya. Papa bisa bertanya langsung pada putra papa!"
"Hah! omong kosong, apa maksud kamu Hanum?"
"Papa jawab dulu siapa Maoren. Agar Hanum bisa menjelaskan semuanya!"
Jhoni melipat jemarinya, menyandarkan punggung pada kursi. Lalu mendengus nafas panjang sambil berkata. "Dia hanya wanita murahan, yang di singkirkan dari kehidupan Alfa."
Hanum terkejut, menyelipkan poni ke samping telinganya, mendengar penjelasan papa mertuanya itu baik baik.
FLASHBACK MAOREN.
PRAANG!
Maoren tengah marah karena Jhoni tak mengijinkannya pulang ke rumah orang tuanya. Ia juga marah karena Jhoni tak memberikan black card miliknya. Ia menghela napas sejenak, dan menatap pintu kamar tempat dimana Maoren ada di dalamnya dengan perasaan kesal.
"Bercerai pun aku tak mampu."
Jhoni kesal saat mengingat perjanjian pernikahan antara Maoren dan dirinya. Meski keduanya menikah karena dasar perasaan cinta, namun ada satu perjanjian yang membuat Jhoni berpikir dua kali untuk menceraikan istrinya. Karena isi perjanjian itu adalah, Maoren akan mendapatkan setengah harta yang dimilikinya jika keduanya bercerai.
Bukan berarti Jhoni tidak tahu diri atau gila harta. Wasiat sang ayahlah yang membuatnya enggan untuk mengorbankan setengah hartanya. Karena bagaimana pun juga, kekayaan yang didapatnya selama ini adalah hasil jerih payah sang ayah. Sang ayah memulai semuanya dari nol. Dan segala penderitaan yang di alami sang ayah pun, Jhoni saksikan secara langsung.
"Benar aku juga lebih baik aku menemui Alfa di klub." cetus Maoren pergi meninggalkan Jhoni.
Tanpa berpamitan, Jhoni keluar rumah dengan mobil sport miliknya. Ia mengemudikan mobil mengikuti mobil Maoren yang lebih dulu. Ia hendak menemui satu satunya teman yang selalu mengerti tentang dirinya. Lalu mencari tau, siapa teman baik Maoren yang namanya mirip dengan putranya.
'Persetan dengan Maoren! Aku tidak akan pulang malam ini! jika dia terus meminta Harta dan bercerai dariku, karna aku tak mau menceraikan Maria.' batin Jhoni.
Mobil mewah berwarna hitam milik Jhoni membelah jalanan ramai perkotaan. Deru suara mobilnya yang sudah seperti mobil balap di dalam tournament membuat banyak mata takjub melihatnya. Bagaimana tidak? Mobil itu adalah mobil termahal di dunia. Dengan menjual mobil itu, bisa membeli beberapa blok rumah di area perumahan elite.
Dan mobil kesayangan milik Jhoni itu menunjukkan bagaimana kehidupan glamour lelaki berusia 49 tahun itu selama ini. Maka tak aneh jika wanita dengan kecantikan sempurna seperti Maoren tergila gila padanya. Namun, kegilaan itu hanya bersifat sementara. Karena pada kenyataannya, wanita itu kini tak begitu peduli dengan suaminya.
"Wah, si brengsek itu sudah bermain lebih dulu!" ujar Jhoni.
Jhoni tersenyum saat melihat Alfa, dia adalah putranya, bagaimana bisa putranya berada di tempat yang sering ia jumpai.
Alfa melambaikan tangannya sembari tersenyum. Lalu dengan perlahan ia turut memarkirkan mobil bernilai triliunan rupiah itu di samping mobil sang papa.
"Hei, Brengsek pulanglah! Bisa bisanya kamu berada disini!" teriaknya saat membuka kaca mobilnya.
"Stop pah! aku ingin menemui gadisku, jangan halangi aku. Papa juga untuk apa berada di sini!"
Gugup Jhoni, yang menjelaskan jika dirinya mencari Alfa untuk pulang. Tak begitu lama Maoren datang dengan pakaian mini rok dan manset hitam perpaduan warna bercampur gold. Hal itu juga membuat Jhoni dan Alfa menoleh terdiam membisu.
"Lama sekali kau Alfa?" protes Maoren. Beruntung berlian mahal itu masih di sini.
Berlian mahal yang Alfa maksud adalah seorang wanita malam yang terkenal dengan fisiknya yang sempurna. Bahkan wanita itu tidak mudah dibeli dengan sembarang pria. Kecuali pria itu mampu membayarnya dengan harga yang terlampau mahal.
"Kau bertemu dengan wanita ini Alfa?" cetus Jhoni dengan rahang mengeras.
"Hei, jangan samakan dia dengan wanita malam seribu pria. Dia ibarat berlian langka yang tak banyak orang berani menjamahnya Pah. Jadi pulanglah dari pada ikut campur urusanku!"
Sontag hal itu membuat Maoren senyum, karna dua pria yang berhubungan darah itu merebutkannya. Jhoni yang tau jika istri sirihnya itu sedang bermain api dan membuatnya marah. Maka hal yang harus ia lakukan adalah menyingkirkannya.
Satu alis Jhoni terangkat. Ia merasa tertantang setelah mendengar perkataan putranya tentang wanita malam yang bernama Maoren itu.
Wanita itu berbeda dengan wanita malam pada umumnya. Pakaiannya tak senorak wanita ****** di pinggir jalan. Ia mengenakan gaun berwarna putih, dengan belahan panjang di kedua kakinya yang tinggi, saat Alfa bertemu dengannya.
Hal itu juga membuat Jhoni ingin tertawa, karna dirinyalah yang mengangkat wanita culun bernama Maoren jadi terkenal dan cantik, tapi bisa bisanya ia mencabik hatinya saat ini.
Alfa memang jatuh hati pada wanita bernama Maoren. Wajahnya pun mungil, dengan dua bola mata kecoklatan yang semakin menambah kesan ayunya. Di tambah belahan depan yang sempurna bagi kaum hawa.
Dan itulah penjelasan Jhoni pada Hanum.
"Begitulah, apa kamu akan bercerai dari Alfa. Tapi keluarga Jhonson tidak akan bisa membuat kamu bahagia!"
Hanum tertegun ancaman pria di depannya. Tidak ada yang layak bagi Hanum untuk mempertahankan Alfa, terlebih masa lalu papa mertuanya itu.
"Hanum tetap akan bercerai, dan akan menerima keburukan yang papa inginkan. Hanum juga akan menyimpan masalah ini rapat rapat. Jadi Hanum minta jangan libatkan mama dan ka Lisa!" pamit Hanum.
Hanum berdiri, ia pamit dengan berlinang air mata. Namun langkahnya dihentikan seseorang.
To Be continue!!
Yuks jejak! Happy Reading All.