
Hanum yang telah berendam dalam bathtub, ia segera merelaksasi otak dalam pikirannya. Lagi lagi ia selalu kesal mengingat nama Rico yang masih saja membuat hatinya membara. Belum lagi beberapa sakit hatinya melihat Rico dengan Caty yang mungkin saat ini sedang bermanja.
Hanum kembali memikirkan ketenangan, sejenak untuk tidak mengingat nama Rico. Kedua matanya ditutup dengan bulatan buah hijau, lalu menderu nafas dalam dalam agar konsentrasinya kembali fokus.
Lagi lagi Hanum mengingat kata kata Rico semalam. Meski tak terjadi sesuatu, tapi jelas terngiang membuat Hanum sedikit mual saat mengingatnya.
“Tak ada satu kekuasaan pun di alam ini yang mampu merampas kebahagiaanku. Karena kebahagiaan ini, memancar dari rengkuhan dua jiwa yang dipadukan oleh saling pengertian, dan dipayungi oleh cinta kasih dan itu hanya kamu Hanum."
Euhm! Hanum lagi lagi membuka kedua mentimun dikelopak matanya, ia kembali memutar cara agar dirinya tak lagi memikirkan Rico. Jelas masih terasa sentuhan ranum Rico dan eratan tangannya yang membubuhi kata kata manis untuknya tadi malam.
"Gak, ini pasti salah. Kenapa burung berkicau itu masih saja, masih saja mengingat Rico sih." gerutu Hanum, ia kembali memejamkan mata dan mencoba rileks.
'Cintaku padamu, wahai kekasih, akan tetap ada hingga akhir hidupku, dan setelah mati Tangan Tuhan akan mempersatukan kita kembali. Percayalah aku hanya ingin kita selalu bersama. Apa kamu tidak ingin kita cepat bersatu?'
Uhuk uhuk! Hanum kembali terbatuk, ia segera mengecilkan keran dan segera membilas seluruh tubuhnya. Mungkin saat ini pikirannya masih saja terkontaminasi Rico, sehingga Hanum cepat cepat selesai dari berendam. Ia berusaha untuk tidur saja saat ini, mungkin dengan itu ia tak lagi mengingat Rico yang saat ini di paris.
Hanum masih jelas, meregangkan kedua tangannya. Lalu dengan sadar, ia memilih daster mini untuk ia kenakan. Setelah memakai lotion dan ia berencana mogok untuk tidak ikut turun ke bawah, karena harinya saat ini tidak bersahabat akan acuh sikap Rico.
"Lisa dan Fawaz, semoga mereka bahagia. Tapi mereka bahagia, kenapa aku cemburu ya. Dasar Rico menyebalkan, jika aku melihatmu datang aku akan memaki maki dan marah padamu." gerutu Hanum.
Setelah Hanum menepuk selimut kasur, tiba saja suara ketukan pintu membuat Hanum terlonjak menoleh.
Took took!
"Han, kamu di dalam?"
Krek! "Ada apa kak? Apa acaranya sudah selesai?" tanya Hanum berusaha menguap.
"Kamu gimana sih? Ini kotak gaun yang kamu kenakan. Kakak tunggu di bawah. Agak cepat ya!"
"Kak, udahlah. Aku lemes hari ini, aku malas turun. Sampaikan salam aku aja sama yang lain, aku lagi ga enak badan." jelas Hanum.
"Kamu gimana sih, dua keluarga udah nunggu kamu selama sejam loh. Emang Rico ga bilang?"
Lisa menggeleng kepalanya, ia mendorong tubuh Hanum dan segera menutup lagi pintu kamar Hanum.
"Baiklah! Kalau gitu, sekarang kamu ikut kaka! Biar kakak poles dan pakai gaun yang sudah disiapkan."
Hanum masih menolak, tapi cekatan tangan Lisa membuat Hanum tak berdaya. Belum lagi saat ini Hanum malas berdebat jika itu dengan kakaknya sendiri.
"Beres, ayo sekarang kita turun!" senyum Lisa.
Empat orang pria keluar dari dalam mobil dan menghampiri rumah Hanum. Terlihat dari pintu transparan Hanum.
"Ckckck ... coba lihat siapa yang ada di sini?" ucap salah seorang dari keempat pria yang baru menghampiri kediaman Hanum.
Sementara Hanum masih dalam anak tangga, ia menurun dengan perlahan. Entah ada rasa deguban apa yang membuat hati Hanum terasa sangat tidak percaya.
"Rico." lirih Hanum.
Hanum masih terdiam, dengan jelas Rico berdiri dengan sebuah rompi dan setelan jas, lalu kedua tangan mengapit pada saku celana. Berdiri ketika Hanum turun dari anak tangga, dengan genggaman satu kotak ditangan Rico yang menatapnya dalam, meski jaraknya lumayan jauh.
Rico berjalan menghampiri Hanum, dalam senyuman lebar. Ia masih tak percaya aura Hanum saat ini sangat cantik. Rico meraih tangan Hanum dari tangan Lisa dan tepat sejajar mereka saling menatap.
"Rico, bukankah kamu ke paris?"
"Nyatanya aku berada disini untukmu Hanum. will you marry me Hanum Saraswati, maukah kamu mengarungi hidup bersamaku! bersamaku hidup selamanya, mengarungi rumah tangga dan memiliki suara tawa penerus kita?"
Hanum masih melihat suara tepukan suara tangan dan sorak kata Terima. Tapi dalam hati Hanum, ia memejamkan mata masih teringat jelas saat ia menerima pernikahan bersama Alfa, hidupnya semakin kacau dan takut untuk menyelami lagi rumah tangga untuk kedua kalinya.
'Rico, apa dia pria terakhir untukku. Apa yang harus aku lakukan, kamu begitu sempurna untukku Rico.' batin Hanum.
"Tak ada yang lebih indah daripada hari hari yang dinaungi cinta. Dan tak ada yang lebih menyakitkan, daripada malam malam penuh ketakutan, karena itu aku memberi kejutan, melamarmu hari ini Hanum. Aku takut kehilangan dirimu, karna aku yakin kamu pilihan terbaik yang ditakdirkan untuk hidup bersamaku. Hanum will you marry me, jadilah nyonya Rico!" lirih Rico menyodorkan sebuah cincin dalam kotak indah.