BAD WIFE

BAD WIFE
THE CRUELEST



Sinta yang kini berada di hotel yang sama dengan Lisa. Ia mencoba menenangkan dan membantu Lisa, mulai dari asupan makanan dan pikirannya agar tidak banyak melamun. Terlebih Lisa dan Sinta sedang terjalin kontrak selama dua bulan ke depan.


"Lis, usia kandungan kamu nanti tujuh bulan, kamu jadi cuti ya?"


"Kayaknya aku resign. Aku mau lahiran dikampung halaman almarhum papa. Tempatnya terpencil, dan aku mau hidup sama anak aku aja. Aku ga mau tinggal di ibu kota, sungguh ini buat aku takut dan trauma. Aku ga ada niat mau cari bapak baru nantinya, aku mau fokus sama anak ini aja. Sin, gimana rasanya kamu jadi aku?" tanya Lisa, mode mengembang air matanya menatap.


"Yes! gue paham, gue aja yang dikhianati sama Leo, dia udah campakin gue setelah manis gue hilang. Gue ga berniat menjalin hubungan serius, dan kalau gue ada di posisi lo juga, belum tentu semua orang sanggup. Bahkan sory nih! ada aja yang bunuh diri, dan gue harap lo sabar terus ingat gusti allah swt ya Lis!"


"Iy, thanks ya Sinta."


Lisa mengelap air matanya lagi lagi, lalu merapihkan barang barang baju dari kopernya. Sinta membantu dan melihat kotak merah jatuh membuat tatapan Sinta bingung. Lisa juga ikut bingung dan mulai mengingat ngingat.


"Kotak apaan ini Lis?"


"Itu, bentar. Oh, hampir lupa. Gue nemuin itu di tempat kerjanya mas Fawaz. Gue ga ngerti itu benda apaan." asal Lisa, yang melanjutkan merapihkan pakaiannya.


"Astagfirullah. Lisa, ini gue pernah liat ini sama kaya uyut gue kena sihir, istilah guna guna. Ini isinya ujung keris kecil, buku tulisan aneh, sama minyak kecil ini ada bubuk. Tunggu kok kaya kopi ya?" Sinta mencium aroma isi dari kertas bertulisan aneh, dan ada serbuk kopi serta helaian rambut.


"Lisa, kita cek apa ini helain rambut suami lo. Gue cari info deh, soal pemutus ginian. Bisa aja kan, ini rambut Fawaz laki lo, kalau gini bisa aja suami lo ga sadar. Mungkin dibikin lupa dan ga inget sama lo, kesel aja bawaannya liat lo."


"Aduh, Sinta. Jangan mistis gini dong, gue ngeri jadinya."


"Lis, percaya kali ini sama gue. Oke!"


"Bi inah juga bilang serupa, apa lo percaya hal gitu gituan. Ini zaman modern loh Sin?"


"Ya ampun, model kaya lo gini mudah kena gangguan sihir. Rumah lo kudu di ruqiah, dan ini kudu cari orang yang ngerti. Istilah pemutus buat laki lo sadar, masalah kebenaran atau enggaknya kan, balik lagi ke hati lo."


"Entahlah Sin, jujur gue udah ga berharap sama Fawaz. Kalau pun iya, itu udah bukan jalan dan hak gue untuk mempertahankan, sekali dilukai dia bakal seperti itu kan. Ini ga bisa hati gue masih ga bisa nerima."


"Gue paham, tapi sebelum makin jauh. Lo percaya ya sama gue. Gue bantu lo, gue care sama lo, Lisa. Gue kasian setidaknya lo pikiran anak lo nanti, kalau dia cowo dia ga butuh wali bapak biologisnya, tapi kalau cewe?"


Pelukan Sinta, membuat Lisa kembali mengucur air mata. Lisa bingung ada di posisinya saat ini. Mungkin di luar sana ada yang bernasib sama, ada juga yang lebih dari ujian ini. Bagai kertas yang telah di sobek, sulit untuk kembali. Luka dan ingatan kata kata serta sikap mas Fawaz akhir akhir ini, membuat Lisa takut dan trauma untuk kembali.


"Percaya sama gue ya Lis, cewe itu udah paling kejam hancurin rumah tangga orang. Dia udah rebut milik lo, apalagi sekarang pak Ray libatin kita dalam ajang sesi permintaan koleganya yang rekrut kita pernah di bidang vloger. However, kita. Eeeh, intinya elo Lisa, satu manajemen dan bakal terus natap si Nestia, calon pengganti lo." Sinta emosi, ia meminta Lisa berpikir secara real.


"Ok! kali ini gue percaya sama lo Sinta, selesai dari kontrak berakhir kerja kita. Kita temui orang yang menurut lo pinter, atau nanti gue bantu hubungi bi Inah."


"Trus gue harus bilang korban, soal anak gue nanti. Gue udah putusin, gue ga akan buka aib bapaknya nanti. Dan gue tetap bakal puji kebaikan, kelebihan bapaknya. Masalah ini kan, memang konflik antara orangtuanya. And, semoga gue kuat hadapinya, kelak anak gue memahami."


Lisa kembali menghapus air mata, terus terang ia bercerita panjang bersama Sinta dengan banyak menguras segalanya. Belum lagi ia menatap pesan, jika Rico dan mama Felicia sudah berada di kediamannya, tapi Lisa sedang tak ada di rumah.


"Kenapa, ada masalah lagi?" tanya Sinta, saat Lisa menatap layar ponselnya.


"Rico, suami Hanum. Dan mama mertua gue dateng, gue ga bisa terlalu banyak yang hadir di saat masalah gue kaya gini. Jelasinnya aja bingung kalau mas Fawaz benar benar kena guna guna, tau kan dia orang luar, mana percaya sama hal mistis gini."


"Benar juga sih, lo tenang aja. Sekarang waktunya istirahat, besok kita udah stay kerja lagi. Nih susu dan sandwich jangan lupa dimakan dulu!"


Lisa mengangguk, setelah ia membalas pesan singkat.


***


RUANG KOLEGA.


Setelah beberapa dekade. Kamu harus mempunyai banyak intrik Nes!!


"Hadeuh. Trus gue harus lakuin apalagi? Secara kalau gue ke paris selama seminggu. Bisa gak ya .. secara Honey gue tau sendiri."


"Nestia. Elo itu udah jadi ambas brand terkenal dibanding orang lama yang lagi hamil itu. Sekarang lo kudu bersiap. Besok kita harus mulai pengenalan iklan. Jangan lupa ya, udah teken kontrak loh!" sindir Putrina menatap wajah Lisa dan Sinta, yang bersebrangan.


Sementara Lisa, ia tetap tenang. Ia berusaha untuk menahan kesabaran, melatih emosinya demi janin dalam kandungannya tetap baik baik saja. Ia yakin, jika wanita yang sudah merebut suaminya adalah wanita yang jelas tidak baik. Hanya ingin bahagia diatas penderitaan wanita lain, tanpa mau berproses.


Setidaknya Lisa juga sadar diri, ia terlalu ingin bekerja dan sibuk di luar. Kala suaminya seorang dokter yang jarang ada waktu, tapi sebuah sikap yang Lisa ambil, malah membuat boomerang wanita itu masuk kehidupan rumah tangganya. Bahkan Lisa sadar diri, keinginan mas Fawaz yang ingin ditemani, ia tolak karena yang Lisa takut istrinya berpengaruh buruk sebagai profesi seorang dokter.


Tapi kini benar kejadian, malah berujung petaka dan semua itu salah, banyak beberapa andil yang Lisa harus disalahkan. Meski bagi Lisa mas Fawaz salah dan keterlaluan.


'Mungkin kalau aku terus mendampingi mas Fawaz, wanita bernama Nestia itu tidak akan masuk.' batin Lisa menatap Nestia yang sedang tertawa bahagia, seolah mengolok olok menatapnya.


Tak lama setelah sesi wawancara berakhir, Lisa terdiam kala melihat seorang pria datang dan itu membuat Lisa tidak bisa menahan air mata yang mengembang, di wajah dan sekitar mata yang merah jambu.


Tbc.