BAD WIFE

BAD WIFE
KEADILAN WANITAKU



"Pagi pagi sekali, kamu mau kemana?"


"Aku akan mengunjungi mama dan Lisa. Aku rindu, sudah berbulan bulan aku tidak tau kabarnya. Bahkan jarak kita hanya berkisar dua jam."


"Jika bertemu Alfa bagaimana?"


"Rico, aku tidak ingin bahas itu. Tapi setelah melihat keadaan baik baik saja. Aku akan bekerja lagi."


Sudut mata Hanum terlihat sedih, Rico bingung. Sebenarnya apa yang dirasakan wanita itu. Bukankah dirinya sudah cukup memberi jalan. Atau benar jika Hanum ada hati dengan Alfa.


"Apa kamu menyukainya?"


Sontag membuat Hanum berbalik, ia senyum dan mengatakan kelegaan hati Rico.


"Aku sudah lelah dengan cinta, kehidupan asmara ku sangat tidak baik, dan aku tidak berencana untuk merajut kasih dengan siapapun. Hanya saja ada satu alasan, kenapa aku bingung saat ini. Aku janji akan mengumpulkam hutang saya pada anda pak Rico!" pamit Hanum.


Rico terdiam, raut wajah Hanum kembali kaku. Bahkan saat ini ia memanggil dengan baku, sudah meminta panggil nama. Tapi masih saja sering ceplos yang tak ingin Rico dengar.


"Haah, sulitkah mendapat perhatian dari wanita yang terluka oleh pria jahat. Pria tidak semua sama seperti Alfa, Hanum." lirih Rico kecut.


"Tapi pria gengsi dan tidak romantis juga tidak di sukai banyak wanita Ric." cetus Erwin dari belakang Rico.


Rico menoleh, ia segera menunjukan dua jari sebagai peringatan. Agar Erwin tidak ikut campur urusan asmaranya.


"Hhah! kau lagi, kau urus papa mandi! dia kesulitan jika tidak ada kau Erwin!" ketus Rico berlalu pergi.


Sementara Erwin gelak tawa, melihat anak majikannya sedang jatuh cinta. Hanya seorang Erwin yang tidak sopan pada majikan, tapi tidak dipecat.


Beberapa jam kemudian.


Hanum telah melihat villa Feli. Tapi tidak ada tanda kehidupan. Hanum segera berbalik arah, karna ia sudah akan bekerja di market Marco. Jujur saja ia selalu melihat keadaan Lisa dan Mama dari jauh. Sampai waktunya benar benar pas. Hanum tidak ingin kedatangannya merubah mood Fawaz, karna tujuan dia belum berhasil melihat Lisa dan Fawaz akrab.


Taksi berhenti, Hanum masuk dan segera berangkat bekerja. Namun cekatan tangan seseorang membuat hati Hanum salah tingkah dan tidak karuan.


"Hanum. Kamu masih disini? syukurlah kamu masih hidup."


Hanum terdiam, dengan dekapan tiba tiba, yang di halang oleh jaket tebal. Membuat Hanum mendorong tubuh Alfa.


“Alfa! Cukup! Aku muak sama kamu! Sampai kapan kamu mau terus menghantui aku dan mengatakan kalau aku sedang ditekan, diancam dan sebagainya. Kamu nggak ngerti arti perasaan ya?!” bentak Hanum pada Alfa.


“Kamu nggak paham kalau aku nggak memilih kamu!” Alfa menunjuk hati Hanum tajam dengan telunjuknya.


"Akhirnya aku tidak sia sia datang pagi ini, ke villa Feli." lirih Alfa.


“Aku tidak akan memilih kamu! Bukan kamu! Stop menghantui aku seperti ini! Kamu sudah benar benar keterlaluan dan membuatku risih!” bentak Hanum. Suaranya bahkan gemetar menyampaikan semua itu.


Alfa ternganga melihat respon dan reaksi Hanum yang begitu emosi pada dirinya. Ia bahkan terdiam dan terpaku. Tidak pernah Hanum semarah ini padanya bahkan merasa risih karena dirinya.


“Aku mohon Alfa, kalau kamu nggak bisa menjaga jarak dan menghargai hubunganku dengan seseorang, aku mohon… please… jangan temui aku lagi!” Hanum menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajah dan memohon pada Alfa.


“Han, kamu bercanda kan?” Nada suara Alfa ikut melemah.


Hanum menggeleng. “Nggak Alfa, aku nggak bercanda, please jauhi aku! kamu terlalu buruk untukku dan hubunganku dengan kehidupanku semakin sulit, karena kamu sama sekali nggak bisa menghargai dan mengerti. Aku muak sama kamu yang selalu menuduh dan berpikiran yang bukan bukan, kamu lupa sekasar apa kamu padaku?" lirih Hanum.


“Tapi aku yakin Han… ada sesuatu…”


Hanum mulai menangis di tengah suara tegasnya. Terpaksa ia harus melakukannya karena ia tidak ingin Alfa dalam masalah.


Setelah tadi malam Alfa sudah memperingatinya. Hanum juga harus tegas pada Alfa agar laki laki itu tetap pergi dari kehidupannya. Hanum tidak ingin lagi takut, karna Alfa bukan lagi saingannya saat ini.


“Aku mohon kamu pergi!” lanjut Hanum. Ia menunjuk pintu rumahnya.


“Han…” Alfa masih mencoba tenang.


“Pergi Alfa! Pergi!” pekik Hanum.


"Kamu mau aku sebarkan video itu, ingat mama Rita ada di dalam. Kamu bisa pergi bekerja, tapi setelah ini kamu akan lihat mama kesayanganmu pergi menyusul papamu?"


Hanum kembali melihat wajah dua Alfa. Ia mulai menarik kerah baju Alfa dengan emosi tersulut.


"Sebelum kamu sebar video itu, aku sudah mempublikasikan siapa Irene dan Maoren. Beritamu pasti akan naik! perusahaanmu akan bangkrut dalam sekejap. Ambil saja semua harta yang kamu dan papamu inginkan. Tidak akan abadi bukan?" senyum lebar Hanum menatap Alfa.


Alfa pun tersinggung setelah jelas jelas dan terang terangan diusir oleh Hanum.


“Kalau kamu tidak berada di bawah ancaman atau permainan, berarti benar, kamu menerima Rico karena dia orang terpandang, kaya raya, dan kamu rela membebaskan video 501?"


Plak!


Hanum menampar wajah Alfa. Ia mengacungkan telunjuknya tajam ke arah Alfa.


“Apapun yang kau bilang terserah! Pergi dari hadapanku sekarang juga!” pekik Hanum. Air matanya menetes.


"Tunggu saja, aku akan membuat kamu menyesal Hanum!" Alfa menunjuk wajah Hanum.


Tidak lama setelah Alfa pergi, Rico pun sudah kembali datang kehadapan Hanum.


“Ada apa ini?” tanyanya lembut, pada Hanum yang duduk berjongkok.


Rico langsung mengusap wajah Hanum, ia mengatakan untuk tenang. Rico sangat membuat Hanum nyaman, sikapnya kadang bagai atasan dan bos. Tapi di luar bagai sahabat yang Hanum rasakan, ketika dulu bersama Fawaz saling melindungi.


“Tadi Alfa, datang, dia…” Hanum bingung menjelaskannya dari mana.


Rico menatap Hanum. Rico duduk di sebelah Hanum, kala mobilnya sejajar saat ia berdiri. Membawa Hanum dari tatapan orang atau keramaian.


“Jadi dia masih datang?” tanya Rico dengan suara pelan namun mengerikan.


“Please, aku mohon, jangan lakukan apapun padanya. Aku mohon!" isak Hanum pelan. Ia menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon pada Rico.


"Kenapa begitu?" tanya Rico.


“Aku sudah mengusirnya dan menjauhkannya dariku, aku yakin dia tidak akan mencari tahu apapun lagi, aku sudah meyakinkannya, aku mohon!"


Rico melihat manat manat wajah wanita yang sembab itu, yang memohon demi laki laki lain di hadapannya. Tiba-tiba ia terdiam, ia yakin jika Hanum masih ada yang di sembunyikan darinya.


"Han, jujur padaku. Apalagi yang ia minta, apa masih ada yang kamu sembunyikan dariku? selain uang kerugian?" cecar Rico, membuat Hanum terdiam.


To be continue!!


Happy Reading All - Semoga Entun ga gangguan lagi, reveiw lama.