BAD WIFE

BAD WIFE
BERTEMU HANUM



Beberapa minggu kemudian, Hanum terkejut bukan main. Terlebih lagi Rico yang hanya meminta orang yang pernah mengusik Hanum, untuk tidak mengganggu hubungannya. Namun berakhir tidak sesuai.


"Mas, apa hukum akan menyeret nama baik mas?"


"Tidak sayang, mas tidak terlibat. Erwin bicara jika ia dibawa Peter kekasihnya. Mas tidak tau, jika akan terjadi luka fisik dan batin. Maafkan mas! mas benar benar tidak tau, soal kepribadian Peter."


"Sudah terjadi mas, setelah meeting mas. Kita temui saja Peter. Bukankah memaafkan masa lalu aku itu lebih penting, aku yakin Irene tidak bermaksud mencelakai aku."


"Sayang tapi Erwin bilang, ia punya bukti dari Peter, jika kecelakaan sebelum kita menikah, bukan hanya Adelia saja, tapi campur tangan Irene." jelas Rico.


"Mas, aku tau isu Peter. Dulu ia pernah akan dijodohkan dengan aku, tapi mendiang ayah tak jadi. Membatalkan dan memilih Alfa, konon ia hiper segala hal, terlebih kasar dan selalu memukul jika tidak di turuti. Itu yang aku dengar dari mama Meriam." jelas Hanum.


"Lalu mas harus apa?"


"Beri Irene kesempatan, tolong dia dari Peter! aku mohon mas, aku ingin Irene sendiri yang bicara jika dia adalah penyebab dirinya terserempet motor."


Rico sangat khawatir, ia merasa berhadapan dengan Peter adalah mustahil. Jika penjelasan Hanum saja, membuat ia sendiri tidak yakin. Bagaimana sang papa tau, jika ia harus mengorbankan nama Mark untuk berurusan dengan keluarga Jhonson yang selalu bermasalah.


"Mas akan bicara dengan Erwin, mas akan cari cara, sekedar nego bertemu irene sekali saja. Tapi setelah kamu dengar penjelasannya. Apapun itu, kita tidak lagi ikut campur sayang!" jelas Rico. Hanum senyum memeluk tanda setuju.


"Makasih mas."


Keesokan harinya, setelah Hanum dan Rico dari market Marco. Ini pertamakalinya Hanum melihat pria bernama Peter. Sebelumnya hanya melalui katanya saja, belum pernah bertemu sekali pun. Benar saja wajah bengis pria bertubuh besar dan tinggi seperti suaminya. Terkesan menakutkan bagai monster.


"Itu namanya Peter, kamu yakin dia sayang?"


"Aku ga pernah bertemu mas. Hanya tau ceritanya saja."


"Baiklah, aku dan Erwin akan menjagamu. Bicaralah pada Irene sayang!"


Hanum berdiri dan senyum pada Peter. "Hay! aku Hanum, aku bisa bicara pada Irene sekarang?"


"Heuumh! baiklah, dua puluh menit saja. Cepatlah!" ucap Peter yang langsung menghampiri Erwin dan mengambil emas batangan satu tas.


"Irene, ini aku Hanum. Apa yang terjadi?” Hanum langsung mencengkram kedua bahu Irene yang terikat dalam mobil.


"Pergilah! sekali pun aku berkata jujur, kamu pasti tidak akan percaya. Aku benar dalang semua itu, aku benci kamu Hanum. Aku benci juga Alfa yang mengejar kamu dan mengekor kehidupanmu!" jelas Irene.


“Kamu bercanda kan?” tanyanya tidak percaya dengan apa yang Irene ucapkan.


“Hanum, aku nggak bercanda,” ucap Irene yang memberi petunjuk pada sebuah kamera diatas dashboard.


“Bohong! Katakan padaku Ren, apa yang terjadi, kamu diancam? Kamu dipaksa sama dia? Bilang yang sebenarnya irene, aku bisa menyelamatkanmu kalau kamu mau bilang semua ke aku,” ucap Hanum.


Irene menelan salivanya. Insting Hanum benar benar tajam. Namun ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya saat ini.


“Kamu salah paham, Hanum. Aku sama sekali nggak diancam, nggak ada yang memaksaku,” alibi Irene.


Hanum mengusap wajahnya. Ia tidak percaya semua itu. “Irene, setelah selama ini kamu mengejar Alfa dan menuduhku telah merebutnya. Sedikit pun aku nggak ada benci padamu?” lirih Hanum, tapi Irene tetap bungkam.


“Maafkan aku Irene, jika semua hidupmu hancur, aku akan menggantinya dengan apapun!" jawab Hanum. Air matanya menetes, ia tidak sanggup melihat wanita tertindas. Bahkan lebam di pipi dan bibir Irene nampak jelas ia tersiksa.


"Jika kamu mau tukar posisimu, apa kamu bersedia?" cetus Irene.


"Apa? kamu ingin jadi aku, itu tidak mungkin. Aku bisa membantumu dengan cara lain?"


Hal itu membuat Hanum menggeleng kepala, lalu pergi menghampiri suaminya dan merengkut pada tangan Rico.


"Sudah sayang?"


"Sudah mas, Irene mengatakan semuanya memang dia. Meski aku sulit percaya."


"Sudahlah sayang. Kita pulang! Erwin, selesaikan semuanya, urus kepergian wanita itu dengan aman tanpa kasar!" bisik Rico.


Sementara itu di rumah Rico. Hanum dan Rico bertemu Mark. Hanum menyalam sopan pada papa mertuanya. Lalu ia ikut memotong buah di dapur bersama asisten rumah tangga.


"Biar saya bantu ya, bi?"


"Ga usah non! biarkan bibi saja." senyumnya, tapi Hanum tetap membantu. Jujur saja ia penat dengan masalah pertemuan dirinya dengan Irene.


'Kenapa Irene mau balas dendam dengan Alfa, padahal aku saja telah membuat pelajaran padanya. Tapi kenapa Irene bilang, jika saat ini Alfa menyesal dan ingin bertemu denganku. Maka dari itu ia mengekor kemanapun aku pergi?' batin.


"Auuw." jari Hanum teriris, sehingga bibi memberikan p3k. Dan meminta Hanum untuk menunggu saja, biar dia yang memotong.


"Bibi juga bilang apa, biar bibi aja yang potong Non!"


"Maaf, tadi Hanum hanya sedang memikirkan hal penat bi. Jadi ga konsen." jelas Hanum, agar sang bibi tidak merasa bersalah.


Ruang Tamu.


“Semua akan selesai Pah! Adelia akan keluar dari penjara sebelum persidangan itu dan semua akan baik baik saja,” ucap Rico. Ia tengah duduk berdua.


“Bagaimana bisa kamu sepercaya diri itu?” tanya Mark.


“Membebaskan Adelia itu memanglah sangat mudah, tapi nama baik keluarga kita dan tanggapan orang orang setelahnya, bagaimana bisa kamu yakin semua akan selesai dan baik baik saja?” tambah Mark.


"Adelia pasti akan sadar pah! semua Hanum yang minta, Hanum yakin jika Adelia sudah bisa merenung dan pasti akan memperbaiki dirinya lebih baik. Jika Adelia masih di penjara, maka Hanum merasa bersalah." terang Rico memberi pengertian.


"Tapi anak itu keras kepala, sifat irinya masih saja seperti dulu."


“Rico sudah memiliki rencana yang bagus Pah, kalau dia dinikahi, wanita itu dan berlagak baik di hadapan media, maka nama baik keluarga kita memang akan kembali baik dan jadi perbincangan yang penuh pujian,” jelas Rico.


“Tepat sekali, tapi dengan siapa?" sambung Mark.


"Dengan Erwin pah! maaf Hanum ikut bicara, jika tidak sopan. Hanum mengajukan pada Rico, karena melihat catatan Erwin yang selaku peduli pada Adelia. Hanum yakin, Adelia akan dibimbing kelak."


“Apa kalian yakin?"


"Kita coba saja ajukan syaratnya, Rico yakin. Adelia akan mendapatkan kasih sayang dan semakin jadi perempuan baik." terang Rico.


Papa tidak yakin? Bagaimana kalau Adelia itu ngelunjak dan mencoba membuat Erwin tidak jujur pada kita kelak.


"Erwin akan selalu setia pada papa, dengan begitu Adelia akan tertampar. Dia hanyalah anak angkat yang harus balas budi dengan menjaga nama baik keluarga. Jika Adelia seperti itu terus, maka market Marco akan hancur perlahan pah." jelas Rico.


Hanum yang masih memperhatikan papa mertua dan suaminya bicara serius. Ia segera menatap seseorang yang tiba saja datang.


Tbc.


Jejak Yuks!!