
"Mas, aku dimana?" tanya Hanum.
"Istirahat lah sayang! maafkan mas terlambat, tadi mas suruh supir jemput kamu. Tapi begitu ponsel kamu ga aktif. Mas cepat cepat cari kamu, kenapa kamu pingsan. Apa ada seseorang sebelum mas datang?"
Hanum menggeleng ia yakin, hanya halusinasi wajah pria yang dekat padanya. Mungkin saja itu adalah mas Rico.
"Vitaminnya minum dulu sayang! mas ambilkan air putihnya."
Rico dengan telaten merawat Hanum. Setelah Hanum minum air putih, ia segera duduk dan memeluk sang suami.
"Mas, maaf aku ngerepotin kamu ya?"
"Ga sayang, mas yang harusnya minta maaf. Mas juga telat jemput kamu, harusnya usg pertama mas temani."
"Gak apa mas, gimana dikantor? masih ada masalah. Mas, aku sempat dengar. Mas harusnya terbuka sama Hanum, supaya kita berjuang bersama sama!"
"Makasih ya! mas yakin semua akan baik baik saja. Marco pusat ingin diambil ahli sayang, sementara itu adalah kaki berdirinya market Marco. Mas masih mencoba menghubungi pemiliknya. Tapi belum juga mas temui, Erwin mengurusnya masih lambat. Mas harus turun tangan, supaya papa ga sampe tau masalah ini."
"Mas, aku harus bantu apa. Supaya kamu selesain masalahnya?"
"Bantu dengan doa sayang! mas hanya butuh dukungan kamu saja."
"Mas, aku akan mendoakan kamu dan mendampingi mas Rico, sampai akhir nafas aku berhenti. Keadan sulit dan senang, aku akan selalu di samping kamu mas." senyum Hanum.
Rico memeluk erat istrinya, benar kata orang tersayang membuat hati dan pikiran tenang. Hanum dan calon buah hatinya, memberinya semangat. Sehingga ia bersyukur dengan pujian, semoga kedepannya selalu baik baik saja.
Tak lama, Hanum dan Rico kedatangan tamu. Yakni Lisa dan Fawaz. Serta sang mama datang ketempat Hanum tinggal. Rasa bahagia sakit dan lemas Hanum, kini sedikit tenang. Adanya kedatangan keluarga membuat Hanum melebarkan senyuman.
Rico yang berbincang dengan sang mama serta Fawaz. Sementara Lisa yang mendekat ke arah Hanum.
"Kakak ikut bahagia loh, Han. Selamat kamu udah duluan mau punya debay." ucap Lisa.
"Kakak juga, Hanum dengar kakak mual mual ya?" guman Hanum.
Ssssttt!! bisik Lisa, ia juga memberitahukan pada Hanum untuk tidak berbicara lebih awal pada Fawaz.
"Kaka ga hamil, ada kemungkinan enggak. Kakak belum tau, kenapa. Tapi dokter kakak bilang, kemungkinan kecil kakak hamil."
Mendengar hal itu, Hanum menyandarkan duduknya dengan tegap, lalu mendengarkan Lisa bicara serius dengan tatapan sedih.
Waktu itu kakak menatap Fawaz, ada rasa sedih. Kakak ga tau, harus jawab apa. Sebab kakak tidaklah hamil! Jika saat ini Fawaz bersikukuh agar kakak masuk ke rumah sakit. Fawaz akan tau kenapa kakak sebenarnya.
"Kak, apa sangat serius? siapa tau diagnosa salah."
"Kakak masih coba, nanti kalau kamu cek kandungan. Kita bareng bareng ya. Siapa tau nular kehamilan kamu ke kakak." senyum Lisa, ia berusaha menyumpatkan kesedihannya.
"Iy kak, Hanum doakan hal buruk tidak menimpa kita semua, termasuk kakak."
"Amiin." balas Lisa.
Lisa pun ikut mengambil air minum, ia menyalakan mesin air hangat. Dengan banyak pikiran, Fawaz datang mengejutkan.
"Sayang, hei kenapa diam?" Fawaz melambai tapak tangan ke sudut wajah sang istri.
"Ah! yank, aku hanya mikirin sesuatu aja. Sepertinya tamu bulanan lancar honey, maaf membuat harapan palsu."
Mendengar pernyataan itu, Fawaz memeluk Lisa. Meski ia mengharap jika ia akan mendapati keturunan dari istri yang ia cintai.
"Baiklah kita akan pulang kerumah sayang, setelah kita temui Hanum dan Rico, kita antar mama pulang. Kamu ga perlu memikirkan. Kehamilan itu semua datangnya dari tuhan."
Lisa senyum mengangguk. Fawaz tak ingin membuat Lisa bersedih. Dengan perdebatan apapun untuk mengajaknya ke rumah sakit, ia pun menurutinya.
Hingga sang mama datang, ia memberi pelukan hangat pada Hanum. Lisa dan Fawaz ikut menghampiri Hanum yang masih berbaring di temani suami.
"Apa masih lemas nak?" tanya mama.
"Cuma sedikit mual, pusing aja mah. Maafin Hanum mah! harusnya Hanum yang kunjungi mama."
"Ga apa sayang, mama ada Lisa dan Fawaz. Mereka siaga antar jemput mama. Ya kan nak?" tawa pecah semuanya.
Tak lama Rico menatap ponselnya berdering, dari raut wajahnya. Hanum yakin jika sang suami saat ini sedang tidak baik baik saja.
"Mas, apa ada masalah?" bisik Hanum, menatap dalam.
Tbc.
Slow up, makasih buat dukungannya untuk Hanum.
By the way.
Mohon maaf lahir bathin, untuk yang menjalankan. Semangat hari kemenangan. Author mohon maaf, kalau ada salah ya!