BAD WIFE

BAD WIFE
BAYI LUCU



Lisa yang saat ini sedang video jarak jauh bersama sang mama, dari ponselnya. Membuat semua tatapan sumringah bahagia pada dua keluarga.


"Mama, Hanum anaknya gimana?"


"Lis, mama seneng deh. Maaf ya, pesta kamu mama berhalangan hadir. Karena Hanum diluar prediksi. Bayi Hanum perempuan dan laki laki."


"Ah, benarkah. Gemesh sekali, akhirnya mama punya cucu sepasang dari Hanum."


Panggilan Video pun berakhir cukup lama mereka bercerita, mama Rita ke ruang bayi mengekor suster membantu mengurus data yang diperlukan. Sementara Rico masih mengecup jemari Hanum dengan tatapan penuh cinta.


"Sayang, terimakasih sudah melahirkan kedua bayi kita."


"Mas, Hanum ga nyangka kita diberikan bayi kembar. Sekaligus, Hanum merasa kita sudah lengkap."


"Ya, sabar ya sayang. Mas akan terus menemanimu, setelah itu mas akan mengadzani anak kita."


"Iy mas."


Saat ini Hanum sudah berada di ruang berbeda, kamar vvip. Terlihat dua box bayi, suster antar ke dalam ruangannya. Dan Rico yang sedang mengelus rambut Hanum segera menatap manik manik matanya pada kedua anaknya.


"Mas adzani dulu ya."


"Iy mas."


Rico meraih bayi perempuan itu, mungucapkan kalimat Tuhan, dan melantunkan adzan.


Selamat pagi bu Hanum, pak Rico. Silahkan bayinya boleh di adzani, dan salah satu bu Hanum boleh menstimulasi memberikan asinya lagi.


"Iy dok, makasih. Makasih sudah membantu proses saya melahirkan." senyumnya, rasa sakit terobati melihat bayinya yang imut telah lahir.


"Sudah tugas saya bu Hanum."


Hanum menatap kedua mata bayi yang masih tertutup, berusaha membuka tapi sedikit sulit. Bibirnya yang membuka begitu saja, membuat mata Hanum dan meraih tangan mungilnya dengan mengecup berkali kali.


"Sayang, mama dan papa akan berikan nama kamu. Kita tunggu papa, mengadzani kakakmu ya?!" ujar Hanum pada bayi laki laki.


Rico kembali mengadzani bayi laki laki saat ini, setelah bayi perempuannya ia taruh di box dan Hanum memberikan bayi satunya lagi asi. Lalu Rico kembali melantunkan adzan.


Setelah selesai, mereka sama sama menggendong, Rico membantu Hanum menyusui kedua anak kembarnya. Tak lama mama datang membuat tatapan gembira dan menegur Hanum dan Rico.


"Cucu oma lucunya. Eh iya Hanum dan Rico. Kamu udah berikan nama untuk mereka nak?"


"Iy mas, namanya siapa? aku terserah mas aja. Aku belum sempat loh cari namanya."


"Ghani dan Ghina, karena mereka kembar. Gimana menurut kamu Han? gimana mah?"


"Eh cocok, sehati oma juga sempet mau kasih saran nama bayi perempuan Ghina, eh kembar cocok deh namanya ini. Ghani si handsome cucu oma yang semuanya cantik dan ganteng."


"Iy udah mas, benar Ghani dan Ghina." senyum Hanum mengelus pipi salah satu bayinya.


NOTE : Skip kisah Hanum, sambil menunggu kisahnya lagi. Sebab Hanum masih dalam proses pemulihan persalinan. Jadi Author bakal lanjut kisah Lisa, dan ada bumbu Hanum Rico juga yang terus hadir.


- Ending Keluarga Bahagia Hanum dengan berbagai konflik -


***


KISAH BAHTERA LISA.


Lisa kembali menatap layar ponselnya, ia saat ini memakai piyama bertali satu. Sementara Fawaz di sampingnya sedang meletakkan arloji.


“Ada apa Anda menelepon saya, Pak Ray?” Lisa menerima panggilan suara itu dengan enggan. Meskipun tidak suka, tetapi Lisa harus menerimanya. Barangkali saja ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan oleh Ray kepadanya tentang pekerjaan.


“Bagaimana hari ini? Apa kau sudah pindah rumah? Apa kau mengalami kesulitan saat memindahkan barang barangmu?”


Namun, ternyata laki laki itu meneleponnya hanya untuk menanyakan hal pribadi. Lisa begitu enggan menjawabnya. Ia mendesahkan napasnya, kemudian berkata,


“Ya, saya sudah pindah rumah dan sama sekali tidak mengalami kesulitan karena banyak yang membantu saya di sini, Pak.”


“Syukurlah jika ada yang membantumu. Karena saya sejak pagi tadi kepikiran takut tidak ada yang membantumu, kamu juga tidak mau menerima bantuan dari saya,” ujarnya.


“Kantor jadi sepi karena kamu tidak masuk bekerja hari ini, Lisa.” tambahnya.


Ah! dasar Ray gila, apa dia pikun hari ini adalah hari jadi pernikahanku. Gila, baiknya aku cepat cepat mematikan ponsel dan beralasan saja.


"Baik pak, terimakasih ya pak." ujar Lisa menutup ponsel.


"Siapa yank?"


"Pak Ray, dia itu aneh ya. Atasan yang aneh, semua berkata begitu. Apa hobinya mengurusi orang." sebal Lisa menaruh ponselnya, ia bergegas ke ranjang kasur.


Raut wajah Lisa semakin ditekuk saat ada nama Ray terselip dalam percakapannya tadi. Lalu Fawaz mencoba mendekat dan mengelus perut Lisa saat ini.


"Apa sudah seharusnya kamu berhenti dari pekerjaanmu Lisa, aku takut kamu terlalu capek."


"Yank, aku ga apa apa. Aku ga bisa kalau ga ada kegiatan terus, meski aku tahu kalau aku tidak kekurangan. Please! kamu masih tetap ijinkan aku kerja ya."


Fawaz sudah menaruh curiga jika atasan Lisa, yang bernama Ray menaruh hati pada istrinya. Tapi tak ingin menambah pertikaian kala dirinya sudah baik baik saja pada Lisa. Sehingga Fawaz melupakan pikiran buruknya.


Tlith! dering ponsel Lisa.


Lisa mengambil ponsel, tapi Fawaz segera meraih lebih dulu dan membuka pesannya.


Tbc.


Mampir next novel temen litersi Author ya! sambil menunggu crazy up lagi.