BAD WIFE

BAD WIFE
BERMAIN API



Management Baru.


Rak berkas menumpuk di balik meja nomor tujuh. Lisa menginput data perbankan sebagai karyawan biasa, hal itu tidaklah mudah bagi dirinya yang saat ini.


"Lis, lo kok nikah diem diem aja. Pake dadakan lagi?" tanya Sinta, ia adalah teman vloger yang kini mempunyai pekerjaan sampingan perbankan, dan kini satu management.


"Udah deh. Sebagai sahabat, jangan ungkit bahas ini lagi. Nanti gue pasti cerita kok, kerjaan banyak banget nih. Tiga hari tumpukan berkas hitam tujuh begini bikin jari sama otak keriting aja. Hoooh ..." lelah Lisa, menatap layar monitor.


"Jiaaahaaahaa .. alamat lembur dong. Itu karma udah bikin gue ga bisa dateng ke acara nikah lo. Karma sama sahabat tuh Lis. Rasaaain." ungkap senyum Sinta.


Lisa hanya menggeleng kepala. Ia bahkan tak menyangka jika sahabat baiknya itu, selalu mendukung dan tak pernah marah berlebih. Sinta seorang admint di dunia perbankan, begitu juga Lisa yang merangkap karyawan biasa menjadi supervisor wanita termuda. Ia menyukai sekali pekerjaannya. Karena itu ia memilih bekerja dibanding memikirkan isu tentang suaminya di luar sana yang membuatnya penat.


Lisa mengenal Sinta saat lima tahun lalu, masih sama sama menyedihkan saat berjuang hidup merintis vlogernya dahulu.


Hanya mengenal Sinta yang tertutup awalnya. Tapi ia yang sering di sapa Sinta. Dia care dan solid membuat mereka bersahabat hingga kini. Bertemu mas Fawaz dan mendukungnya adalah awal ia jatuh cinta.


"Udaah aaakh. Kerjaain lagi berkas dari Pak Ray. Yang ada nanti ga kelar kelar nih!" pinta Lisa pada sinta.


Di suatu malam. Jamuan makan bersama di rumah keluarga kecilnya. Lisa meletakkan tas hitam selempangnya ke sembarang tempat. Berbaring di kasur sebentar. Lalu ia segera mencari ponsel.


Tak satupun Fawaz suaminya mengabarinya. Ia menikah telah berjalan dua tahun, tapi bertemu dan bertatap hanya satu atau dua kali dalam seminggu bahkan lebih. Hingga ia di ijinkan masih bekerja hingga kini. Profesi Fawaz membuat Lisa bimbang.


"Aku yakin. Almarhum Papa akan bahagia. Aku pasti yakin mas Fawaz hanya cinta sama aku. Aku akan menunggu, bahkan tipekal pria seperti Mas Fawaz yang sibuk bekerja. Mana mungkin mempunyai kekasih diluar sana, bahkan isu pasein vvip itu tidak benar." benak Lisa.


Lisa menuruni anak tangga. Lalu ia menatap meja makan malam telah tersaji dengan cepat. Bi inah asisten rumah kepercayaan menghampirinya.


"Nyah. Eeeuum .. tadi tuan Fawaz bilang, kalau ..," sedikit gugup menatap.


Lisa diam terpaku. Meletakkan gelas bening air mineral dan tersenyum pada bi inah.


"Baiklah bi. Tidak apa apa! saya sudah terbiasa. Bi inah makan dengan saya yah. Mau yah bi? Saya tidak suka makan sendirian. Mau yah!"


"Tapi nyah .. anu, saya .."


Lisa memegang tangan bi inah dan mendorong kursi. Meminta duduk dan makan bersama dengan ramah. Hal itu di lakukan tidak satu kali, sebelum Lisa menikah pun Lisa sangatlah santun pada yang lebih tua saat bertamu. Terlebih mama mertua Lisa kini sudah menetap di luar negeri bersama tuan Mark karena kerabat jauh yang memintanya. Sementara Hanum dan Rico sibuk di luar kota daerah S, membuat Lisa sulit bertemu Hanum.


"Nyah. Seperti almarhum, tapi berbeda dengan ... Aaakh! Silahkan di makan Nyah. Bismillah."


"Seperti apa bi?"


"Itu .. Euuukhm." bi Inah kebingungan dan gugup.


"Ya sudah, Eeeuum .. tidak penting kalau sulit bicara bi. Kalau gitu kita makan dan satu lagi, kalau kita berdua. Bi inah panggil aku nama saja ya!"


Hoo walah non, mana bisa di katakan seperti itu jika ada Den Fawaz. Benak bi Inah ikut menyantap makan, hanya mereka berdua di tengah malam.


Lisa menyuap dengan senyuman. Tapi jauh dari hatinya sangat terpukul, hal seperti biasa adalah Fawaz tak pernah menemaninya lagi makan atau sekedar mengobrol. Jika bertemu hanya saling menatap dan satu patah dua patah berbicara.


***


Beberapa saat kemudian, ketika esok di kantor.


"Lo lagi mikirin apa sih Lisa?" tanya Sinta.


"Bukan apa apa. Ada saatnya gue bakal cerita, yang jelas untuk saat ini. Lo sahabat gue yang setia, yang selalu jaga rahasia gue kan?"


"Heuuumh.. ia deh, gue tau. Lo menikah tapi masih sering kaya lajang ya. Sabar ya, meski gue ga tau Fawaz suami idaman lo yang setia, tipekal cowo idaman banget. Tapi itu menurut lo kan Lis, secara gue belum pernah kenal." Sinta mengaduk sedotan jus jambu, sambil bersedih.


"Maksud gue, lo harus percaya sama isu yang beredar!"


"Yaah .. kok ngambek lagi sih Lis. Eeehh ia.. tadi mau ngomongin apa sih. Kok di kantor pada rame?"


Lisa mengambil tas dan membawa tumpukan report untuk di berikan pada atasan. Setelah selesai ia segera bergegas dan mampir ke toilet. Wajahnya yang lembab sedikit mengantuk, ia berusaha membawa sabun wajah untuk mencuci muka dan berwudhu.


"Aakh! seperti ini jadi seger kembali kan." senyum Lisa menatap cermin.


Di balik Lisa yang mengambil Tissue sekedar mengeringkan wajahnya. Ia menatap karyawan berbeda lantai dan hanya sekilas mengenal sedang berghibah ria nan manja.


Lo tau kan. Bentar lagi bakal ada kenaikan pangkat kerja, gue harus totalitas nih. Cuuus kejar target cus!!


Eeekh .. Eeeekh .. ada juga berita hot tau. Mau tau gak .. penasaran gak.. ciyeee pasti penasaran dong?!


Lisa menggeleng kepala, melirik masih menatap cermin. Ia mengambil pouch make up setelah memoles sedikit make up dan lipgloss pada bibirnya tipis tipis. Lalu melangkah hingga ingin membuka pintu keluar.


Tiba saja Putrina menubruknya dan menyambung, pada dua rekannya yang dari tadi berghibah di samping Lisa.


"Uuupss .. sorry mbak. Ga sengaja!" Putrina pada Lisa.


"Oh, ok ga masalah. Aku bisa bersihkan lagi." ucap Lisa.


Adaa apa sih? tanya dua rekan kerjanya.


Lisa pun mengambil tas pouch yang terjatuh. Menepuk nepuk rok hitamnya yang sedikit basah dan mengambil tissue. Sehingga ia kembali membersihkan agar tidak terlihat kotor.


Lo semua harus tau ya. Lo bakal patah hati tau? Ternyata sohib pak bos muda kita. Pak Fawaz tempo lalu datang, udah nikah loh.


Haaaah ..serius lo Ra. Waaah .. patah hati berjamaah ini sih. Gue ga yakin soalnya dia kan ga pernah ada isu gitu kan?


Lisa terdiam kecut. Entah mengapa wanita di sampingnya itu, merasa sedang membicarakan dirinya. Ia pernah dengar, jika Fawaz sangat terkenal di kalangan perusahaaan. Bahkan menjadi manager Asean yang selalu sibuk pergi keluar kota membuat dirinya tak bisa saling meluangkan waktu, di luar profesi seorang dokter bahkan profesi cabang usahanya mirip Rico.


Lisa ingin sekali bertanya pada rekan kerja seprofesinya itu. Tapi tiba saja ia tak jadi saat Putrina berkata dengan tegas.


"Tapi doi itu model. Lo tau kan, gimana rasanya jadi ines itu loh .. " menunjuk foto.


Nestia model Asia itu? Waaah super serasi banget itu sih.. Aaakh .. patah hati deh kita!


Lisa kembali sedikit lega. Mungkin yang di maksud adalah Fawaz berbeda. Sehingga ia pergi meninggalkan tempat itu dan kembali bekerja. Tapi Lisa terdiam, mengingat pasein vvip yang dibicarakan rumah sakit itu adalah samar.


***


DI RUMAH LAIN.


"Yank. Kapan kita umumin kabar bahagia kita ini?" tanya Nestia pada Fawaz.


"Sabar Nes. Kita baru menikah, kamu kan tau kesulitan aku. Yang jelas aku cuma love sama kamu. Oke, jangan pikirin Lisa dia itu istri yang ga patut di tiru, kerja terus ga mau ikut aku!"


Nestia tersenyum manis, ia mengaduk kopi dan memberikan suatu bumbu agar Fawaz tetap berada di sisinya.


'Aku pastikan kamu hanya memilih aku Fawaz!' batin Nestia.


TBC.


Yuks sambil tunggu, kelanjutannya!! mampir juga ke novel temen litersi Author.