
"Ayo mah! Lisa antar. Ingat kesehatan mama saat ini. Mama juga belum makan apapun!"
"Mama masih ingin bersama papamu Lisa papamu begitu cepat meninggalkan kita. Tanpa sepatah kata pun pamit." sesenggukan.
Sruugh! terlihat Lisa menghapus air mata dan menyeka hidung sang mama. Membuang sisa di dalam tisue hingga memeluk sang mama yang masih menyentuh papan nisan. Hanum tau perjalanan sulit saat papa menikahi sang mama, tidak banyak sang papa selalu bercerita jika sang mama adalah gadis yang ia cintai dan ia bahagiakan seumur hidupnya.
Jelas saat ini Hanum masih mengguyur air mawar dan menaburkan bunga. Papa nya sosok pria yang tak pernah merasakan sakit apalagi menyakiti membuat anak dan wanitanya menangis. Keluarga mereka begitu hangat tak pernah ada rumor retak atau kemarahan yang membludak. Sesekali mama sering mengomel kebiasaan papa yang suka menaruh handuk sembarang dan lupa menaruh sesuatu, tetap saja sang papa tersenyum jika itu adalah ocehan mama.
Bahkan menyalahkan dengan sikap Lisa yang sering jarang dirumah, memberitau pada Lisa agar bergaul tak salah arah. Lisa mengomel dan marah marah karna papa berlebihan. Tapi papa selalu tertawa dan senyum merangkul menyemangati kesuksesan sang anak. Mungkin saat ini Lisa menyesal, tapi gunanya untuk apa.
"Mah! papa sudah tenang! untuk itu Hanum minta mama pulang dengan ka Lisa ya! Hanum akan menyusul. Hanum dan Lisa udah kehilangan malaikat baik. Jangan ditambah dengan mama yang terus begini.
"Hanum benar mah! tugas kita saat ini mendoakan papa. Lisa janji akan selalu temani mama di rumah. Jika kita seperti ini, itu akan membuat papa lebih sedih. Lisa yakin saat ini papa melihat kita yang kehilangannya." menghapus air mata yang menetes jatuh ke pipi.
Lisa menyembunyikan air mata yang terus saja seperti sang mama tak ada henti hentinya. Mungkin inilah rasa kehilangan orangtua. Andai penyesalan di awal. Mungkin Lisa merencanakan momen di akhir tanpa rasa ketakutan dan kebingungan ketika papa tak ada, atau sebuah momen kenangan bagi keluarga mereka.
Mode anggukan sang mama! Lisa meminta Hanum segera pulang. Namun meski kedua mertua Hanum saat ini menyemangati agar dirinya tabah, sabar dan percaya pencipta mengambil tanpa ada suatu alasan.
"Hanum Tante pulang dulu ya! sampai bertemu lagi dirumah!" ucap Maria.
"Hanum, percayalah ada kesedihan untuk menggantikan kebahagiaan. Kamu gadis baik, tetaplah berjuang nak! mendoakan untuk papamu adalah yang terbaik!"
"Terimakasih Om. Tante."
Hanum hanya seorang diri, semua orang telah berlalu menyisakan dirinya. Alfa mendekat dan menaburkan bunga merah serta air mawar. Tak lupa mendoakan agar papa mertuanya itu di tempatkan di sisinya.
Bahkan, bagi Hanum tidak logis untuk meminta bercerai dari Alfa. Karna Hanum sudah tak tahan, tidak baik ketika tanah masih basah harus di tambah sebuah konfliknya.
"Hanum ayo kita pulang! sudah hampir malam, takutnya hujan."
"Ya! mungkin, dari itu ayo kita pulang. Kamu harus jaga kesehatan. Jika kau sakit maka aku yang akan disalahkan oleh mamaku. Kau tau semenjak adanya kamu, aku anaknya tapi seperti di anak tirikan." jelasnya.
Hanum hanya menggeleng kepala, bisa bisanya mulut Alfa tak pernah di saring. Di banding mengotori perdebatan di pusara sang papa. Ia lebih baik berdiri dan pergi untuk pulang.
"Tunggu aku!" pinta Alfa, namun Hanum kembali menghiraukan sorotan Alfa.
Hingga di parkiran pemakaman Heaven Memorial Park. Hanum kembali mencari mobil yang Lisa parkir tadi. Benar saja ia pulang dengan mobil tadi, sementara adanya Alfa jadi Lisa meninggalkannya.
'Haah! aku harus mencari taksi. Tapi harus berpuluh meter aku keluar. Bersama Alfa mana mungkin.' gumam Hanum.
Tapi seolah ada yang lupa, Hanum menjatuhkan dompetnya. Mungkin tertinggal saat ia meletakkan keranjang bunga. Hingga dimana ia kembali dan melihat seorang wanita berdiri di dekat pohon yang tidak terlalu besar.
Ya! dia itu adalah Irene dan Alfa. Mereka lagi lagi berdua di saat keluarga mereka tak ada. Bagai bermain kucing kucingan. Hanum menahan sesak dan fokus mencari dompetnya, ia tak memperdulikan dua sejoli yang bermanja. Wanita itu bergelendot di pangkuan lengan Alfa. Sementara Alfa menatapnya dengan tatapan asing.
"Kau kesini, untuk apa?"
"Yang pasti bukan menemui kalian. Dompetku tertinggal." Ketus Hanum dan pergi.
Hingga beberapa langkah, seseorang menghentikannya. Hanum terkejut dan menatap panjang dengan haru. Rindu adalah sebuah obat penawar, dia yang baru saja tiba dan datang menyapa adalah sosok kedua seperti papa yang menenangkan yang hilang dan kembali.
"Hanum! aku turut berduka cita. Kamu yang sabar ya! Aku sangat mengerti ada di posisimu saat ini!" lirih pria itu.
Tentu saja membuat tangan Alfa melepas eratan tangan irene. Ia maju empat langkah dan bersejajar di samping Hanum.
To Be Continue!!
Ayo tebak siapa dia? Jejak yuks. Semoga satu lagi meluncur dengan lancar reveiwnya ya.