
"Kau apa harus sekasar ini padaku?"
"Aku sudah peringatkan, jangan macam macam padaku Hanum!"
"Kau ingin menunggu misimu berhasil, soal apa. Warisan atau jangan jangan kau bukan anak kandung Jhonson?" bentak Hanum.
Plaaak! tamparan mendarat, membuat Hanum terdiam pasi. Senyum miring dan menyentuh pipinya ' Tidak ku sangka, pria semacam dirimu bisa terlahir dari kedua orangtua baik baik. Kau menamparku, Alfa?'
"Han, itu tidak sengaja. Maafkan aku!"
Ceglek!
ALFA? HANUM? APA YANG KALIAN LAKUKAN?
Hanum mendorong dada Alfa menjauh dan mengais-ngais untuk menutupi rasa sakitnya, ia segera menahan dan membuka pintu lebih lebar. Alfa lebih panik, ia takut saat pertengkaran tadi sang mama mendengarnya.
Di depan pintu sana, perempuan paruh baya menutup mulutnya tak percaya melihat pemandangan kamar Alfa yang berantakan.
"Sebentar Mah, aku bisa jelasin ...." Alfa yang sudah terkejut sang Mama menatap tajam.
Sebuah tamparan menghentikan penjelasan Alfa. Lelaki itu tercenung merasakan pipi kirinya kebas.
"Sejak kapan Mamah ngajarin kamu jadi lelaki sebrengsek ini?" teriak Maria menatap putra sulungnya dengan mata berkaca kaca.
Tanpa penjelasan, Hanum tau jika saat tadi mereka beradu perdebatan. Bahkan Alfa menampar, mama mertuanya melihatnya. Sehingga Maria membalas pada putranya tadi.
"Mamah!" teriak Alfa panik ketika Maria terjatuh menghantam daun pintu. Perempuan itu jatuh pingsan dengan kedua tangan menekan dada. Penyakit jantung yang dideritanya selama ini membuat beliau tak kuasa menahan sadar saat putra kesayangannya membuat dia kecewa.
DI RUMAH SAKIT.
Ketika pintu UGD dikuak dari dalam, Alfa langsung menyerbu cepat.
"Ibu baik baik saja Paman, sekarang beliau sudah boleh dipindah ke ruang inap untuk istirahat." ujar Fawaz. Ia cepat segera menangani saat di hubungi Jhoni.
Syukurlah! itu dalam hati Hanum. Ia yang sedang duduk mencoba kuat menahan perutnya. Sementara Lisa dan mamanya memang telah pulang lebih dulu sebelum mama mertuanya itu jatuh. Hanum mengabarkan hanya lewat pesan pada Lisa, ia juga memintanya esok saja menjenguk.
Alfa menyusul sang papa masuk kedalam. Sementara Hanum masih terdiam. Ia mencoba berdiri dengan menekan perut, hingga saat itu tatapan dokter Fawaz meminta salah satu suster mengikutinya karna khawatir.
"Keadaan mama gimana sekarang?"
"Lebih baik," jawab Maria tanpa ekspresi. Tatapannya mencari keberadaan Hanum. Lalu Jhoni mendekat, meraih tangannya untuk tidak banyak memikirkan hal lain.
"Kau, keluarlah! Papa akan memberi perhitungan padamu jika kau bersalah Alfa!" tekan Jhoni.
Sehingga Alfa menurut keluar, lalu ia menatap Hanum sudah tak ada. Pria itu mencari keberadaan Hanum, apa ia melakukan visum untuk bisa berpisah. Jika ya! maka tidak ada jalan lain itu akan membuat sang mama lebih drop.
"Jangan banyak berfikir lain! kamu harus sembuh sayang!" lirih Jhoni menatap istrinya yang terbaring menguatkan. Sementara Maria masih terdiam dan mengalir air mata tak berkata sepatah katapun. Kejadian yang ia lihat, membuat hatinya syok dan merasa bersalah pada gadis bernama Hanum.
Beberapa saat perawat datang tuk memeriksa Maria.
"Lebih baik pasien dibiarkan istirahat dulu Pak," kata perawat tersebut memberikan hasil pemeriksaan.
Karena tak mau membebani dengan masalah lain, akhirnya Jhoni keluar. Setelah mengusap rambut dan mengecup kening istrinya.
"Sembuhlah!" bisiknya dengan bulat mata penuh harap.
'Gue tetep enggak mau pernikahan ini berlanjut, hamil ataupun enggak setelah ini. Gue berharap yang terbaik.' batin Hanum yang masih di dalam ruangan dokter kandungan.
"Lain kali dijaga ya bu! tekanan apa yang ibu rasakan, kenapa bisa sekeras ini. Saat hamil trimester awal, ketakutan memang selalu muncul itu hal lumrah. Tapi ini seperti berbeda, apa ibu jatuh?" tanya dokter.
Hanum menggeleng, ia tak menyebut kenapa ia bisa merasakan sakit yang luar biasa. Tapi benar saja kandungannya benar benar baik. Ia saja tidak apa apa. Pikiran Hanum merasa aneh, kenapa bayi hasil kejadian 501 selalu baik baiķ saja. Bahkan ia berharap Hanum keguguran itu adalah hati jahat Hanum saat membenci Alfa.
"Baik dokter. Terimakasih, akhir akhir ini saya memang memiliki tekanan berat."
"Jangan dong! saat sang ibu menangis, kesal atau kesakitan. Meski ia masih dalam janin akan merasakan!" ujar Dokter Stevani.
Hanum kini keluar dari ruangan dokter. Sesaat ia kembali duduk menunggu resep obat. Hanum juga terkejut saat Alfa datang dan mencarinya.
"Han, kamu ga apa apa. Soal itu maafin ya!"
"Udahlah Alfa! mending lo urus irene sana, gue cuma istri ktp lo aja. Ga usah sebaik ini, terlalu sering lo lakuin!"
"Jadi lo enggak peduli sama kesehatan nyokap gue?" kasar Alfa menatap.
Hanum berdecak kesal, nafasnya berat kala menoleh Alfa. As always, Alfa selalu bersikap defensif.
"Kapan waktunya lo terakhir haid?"
Heuuum! Hanum terdiam menoleh ke wajah Alfa dengan pias.
"Gue akan adil sama lo! gue berusaha kita baik baik saja. Turutin gue kali ini Hanum, hamil anak gue. Setelah kelahirannya kamu bebas mau bercerai dariku!"
"Apa?"
"Ya! Terlebih penyakit jantung Mama seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Dia meminta gue cucu sebelum pencipta memanggilnya. Maka dari itu gue minta sama kamu Hanum!" melembut Alfa.
Namun, Hanum juga tidak mau mempermainkan pernikahan hanya untuk sebuah ilusi yang akan menghancurkan mereka di masa depan.
"Bisa aku minta waktu?" tanya Hanum mendongak. Ia menahan rasa sakit, berusaha menghindar saat ini dari Alfa.
Alfa mendengkus. "Sampai nyokap gue meninggal?" bentaknya. Hanum kembali terdiam.
"Alfa! kecilin suara kamu, ini rumah sakit!" lirih Hanum yang lelah dengan sikap Alfa.
Alfa mengumpat karena saku celananya bergetar. Dia mengambil ponselnya dan menemukan nama papanya di sana. Lelaki itu berdecak, lantas memutuskan menolak panggilannya.
Sama halnya dengan Alfa, Hanum juga mendapat panggilan. Dia langsung mengangkatnya sebab itu adalah papa mertuanya.
"Ya, halo Om?" sapa Hanum sopan.
"Mama mertuamu, masuk ICU lagi, dokter kembali memeriksa," kata suara di seberang.
"Apa?" pekik Hanum, lalu sedikit menurunkan ponselnya.
Alfa! temui mamamu, aku akan menyusul! aku sedang menebus obat mamaku. Asmanya sering kambuh. Lisa tak bisa keluar rumah.
"Baik! kau tunggu disini sebentar, jangan pergi kemana mana!"
Hanum senyum menyeringai, saat Alfa pergi darinya. Ia menutupi wajahnya. Bahkan pria yang tidak peka di saat wanita kesakitan. Ia tak bertanya, jelas ia sedang menunggu obat untuk dirinya yang terasa sakit setelah Alfa melempar tubuhnya tadi.
'Pernikahan macam apa ini, apa pria seperti Alfa pantas aku pertahankan. Jika aku jujur pada papa mertuaku. Yang anfal bukan saja mama mertua, tapi mamaku juga akan sesak asmanya dan fatal. Ya rabb, kenapa ujian mu seperti ini sih?'
Hanum berusaha menutupi wajahnya. Hingga dimana seseorang memberikan sebungkus plastik biru dengan halus.
"Hanum! obatmu, ini sudah aku ambilkan." lirihnya, membuat mata Hanum membulat dan membuka matanya ke arah pria berseragam medis.
To Be Continue!!
Yuks bantu Hanum dengan vote. Senin ceria, tunggu balada siang kembali kelanjutannya ya All.