BAD WIFE

BAD WIFE
BAHAGIA



"Aku menerima lamaranmu Rico." senyum Hanum.


"Benarkah! terimakasih, kamu sudah menerimaku. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia!"


Rico menyematkan cincin, dijari Hanum. Terlebih beberapa orang membuat tepuk tangan dan aura sorak kebahagiaan.


Terlihat mama dan Lisa juga antusias, saling berpegang tangan. Rico memeluk dan berbisik pada Hanum.


"Apa kamu bahagia dengan kejutan kecil ini?"


"Kamu berusaha membuat aku terbakar cemburu, namun ini adalah hal mewah yang pernah aku rasakan."


"Benarkah?"


"Ya! kamu tau, aku tadinya ingin menolak dan memarahimu karena kamu cuek, pergi ke paris tak pamit. Tapi melihat keseriusanmu, aku yakin kamu sudah tidak tahan." goda Hanum.


"Dasar wanita penggoda, jika aku sudah halal bagimu. Maka kamu tidak akan lepas dariku Hanum!" bisiknya gemas.


Hal itu membuat Hanum tertawa, Lisa menghampiri memberi selamat kepada Rico dan adiknya itu. Terlihat Fawaz juga bahagia, melihat Hanum menemukan pria yang benar bisa melindunginya.


"Good, serasi sekali." lirih Fawaz.


"Fawaz, terimakasih. Aku kira ini adalah acara Lisa dan Kamu, aku sudah malas turun karena sedang ngambek dengan Rico. Tapi ...Ah! aku jadi malu, sudah suudzon pada calon suamiku ini." jelas Hanum, menutup wajahnya.


Hahaha! seluruh isi ruangan penuh tawa dan bahagia. Mereka dimulai dengan makan bersama dan acara begitu khidmat. Terlebih tante Felicia meminta Lisa dan Fawaz yang akan berencana menikah, tapi Lisa menatap Fawaz saat itu.


"Tante, Lisa masih kontrak sampai tahun depan dan perjanjian itu tidak boleh menikah. Lisa sedang dalam masa sibuk, belum lagi Fawaz pasti .."


"Mah, kita sudah mendekat dan saat ini sedang memahami, bagaimana jika bersabar. Fawaz tidak ingin menuntut Lisa kita bisa perlahan dengan matang bukan?"


"Apa karena harus menebus pinalti, berapa sih yang harus dibayarkan. Dua atau tiga M?" cetus Felicia.


"Mah, ayolah.." pinta Fawaz.


Karena ia tau sang mama sudah tak ingin dirinya melajang, lagi pula Fawaz sebenarnya ingin cepat menikah, tapi ia tak mau menolak permintaan Lisa yang memintanya menunggu dan mendukungnya.


"Tante, ini bukan soal penalti. Tapi tanggung jawab dan impian."


Felicia dan Rita saling menatap, lalu melihat ke arah tatapan Mark dan Rico yang terlihat tegang. Terlebih Hanum kala itu melihat Rico, apa ia sanggup menunggu setelah Lisa menikah baru ia menyusul.


"Apa mama boleh menyarankan sesuatu Lisa?"


"Boleh mah, apa itu Lisa akan turuti."


"Tidak baik menunda, bagaimana bulan depan kalian menikah secara khidmat dalam keluarga saja. Ambil cuti meski berapa hari saja, satu atau dua hari cukup untuk kalian resmi. Hanya keluarga yang tau, tanpa adanya sorot kamera. Setelah itu resepsi kalian tahun depan?"


"Nak! Ada alat kontrasepsi yang aman, belum lagi Fawaz bisa menjagamu dan terbebas dari fitnah. Setelah itu, Hanum bisa menyusul. Kamu mengerti kan maksud mama, percayalah mama tidak akan jauh darimu. Mama juga akan tinggal bersama mbok Surti, tempat tinggal kita dekat dengan kediamanmu nanti. Mama juga berencana boyong sepupu dan oma kamu tinggal bersama mama."


Penjelasan Rita membuat Lisa menatap Hanum, ia mengerti jika janjinya memang tak ingin dilangkahi. Menatap Rico sepertinya memang ingin cepat halal untuk sang adik.


"Bagaimana menurutmu Fawaz?"


"Kita bicarakan yang tepat dengan agency. Agar cutimu percaya, jika alasan jujur kita tidak bocor. Maafkan aku Lisa!" Fawaz menggenggam tangan Lisa dengan senyum.


"Baiklah, dengan ikhlas dan tulus serta abdian Lisa yang menghormati mama, keputusan terbaik semua yang menyayangi kami pastinya. Lisa setuju menikah bulan depan."


YES! ALHAMDULILLAH.


Sarkas suara jelas pada Rico, membuat semua menoleh dan Rico sedikit terganggu salah tingkah kala dirinya keceplosan.


Hahahah! Semua tertawa, dan Mark menyentil kuping Rico agar jaga sikap.


"Kau kenapa bahagia Rico, yang ditanya itu Lisa dan Fawaz sepupumu. Kenapa kamu bahagia hah?" sentag Mark pada putranya itu.


"Aku hanya berbagi kebahagiaan pah. Apa aku salah?" alibi Rico dengan wajah pede.


"Rico, kamu memalukan." bisik Hanum.


'Karena aku sudah ingin memakanmu Hanum.' Rico menatap Hanum, yang ikut senyum dan mengusap punggung tangannya.


"Baiklah! Sudah jangan lagi tertawa pada anak anak kita. Kalau begitu biarkan orangtua yang mengatur semuanya. Setelah persiapan Lisa selesai, maka paman Mark harus menyiapkan pernikahan Rico dan Hanum. Bukan begitu kan?" tanya Felicia.


"Benar dr Felicia. Kau terbaik, aku mohon bantuanmu untuk direpotkan juga ya."


"Hah, paman tua ini selalu." cetusnya, membuat tawa kembali.


Sehingga semua acara berjalan dengan lancar, lamaran Hanum dan persiapan Lisa menikah dengan Fawaz sudah akan ditentukan meski awalnya tersendat.


Rico dan Hanum berjalan ke teras taman, mereka berpencar kala acara makan malam telah selesai. Hanum berdiri di sebuah pohon dengan menatap langit bintang penuh kerlap kerlip.


"Apa yang membuat kamu bahagia, apa kamu tidak bisa menahannya?"


"Hanum, keinginan seorang wanita dan pria itu berbeda. Bukan hanya biologis saja, tapi semakin kita lama untuk menikah. Maka aku ingin hubungan ini lebih cepat sah, daripada berlama lama menjalin dan melakukan sebuah dosa. Aku bukan pria yang kejam, aku ingin kita satu atap membahagiakanmu itu utama."


Tatapan Hanum kembali senyum, ia melihat Rico yang sedari tadi mendekatkan wajahnya. Jarinya menyentuh bibirnya dan membuat pandangan mereka saling senyum.


Eheum!!


Deheman seseorang membuat mereka sadar, dari tatapan romantis, Hanum melepas tangan Rico yang menempel pada wajah tengku lehernya. Rico juga gemas karena aksinya bermanja gagal.