
"Kamu chefnya, bisa buat satu lagi untuk istri saya?!"
"Baik pak. Segera saya buat dengan fresh." ucap chef, lalu semua karyawan menatap Hanum dengan menunduk.
"Ini bukan tontonan, pegilah kembali bekerja!" ucap wanita yang sepertinya, ia menjabat seperti manager.
Hanum padahal meminta Rico untuk tidak perlu bersikap seperti tadi, namun karena Rico takut jika Hanum sedang berbadan dua, dan bawaan bayi. Maka ia meminta dibuatkan saat itu juga. Dengan waktu empat puluh menit, Hanum bisa mencicipi kue tart tersebut.
"Mas, enak banget. Makasih ya."
"Sama sama sayang, mas seneng kalau kamu suka."
Banyak yang melihat kemesraan Rico dan Hanum saat itu. Sehingga Hanum yang telah menghabiskan kue red, menoleh dan semua mata memandangnya.
"Mas, kenapa mereka melihat kita?" bisik Hanum.
Tapi saat Rico yang menoleh, semua kembali bekerja acuh seperti biasa.
"Ga ada, mereka sedang sibuk. Kamu halusinasi ya? ayo habiskan kue nya!"
Hanum menoleh, mereka semua menatap Hanum. Tapi saat Rico menoleh, tatapan karyawan biasa saja, sibuk bekerja. Hampir berulang kali, tatapan orang seperti tadi, membuat Hanum risih. Sehingga Hanum terkeukeuh sendiri.
"Apa karena kamu tampan aku tidak cantik mas?"
"Siapa bilang, kamu cantik dan sempurna sayang. Jangan hiraukan pikiran orang lain!" kecup Rico pada jari Hanum.
"Mas, kak Lisa nunggu kita di lombok?"
"Iy, mas dan Fawaz ada kegiatan disana. Kita pergi sekarang!"
"Mas, bukannya kita harus temui papa dan soal Adelia?" tanya Hanum.
"Sudah ada Erwin, saat ini kita perlu refresh. Mas ga mau kamu mikirin pesan misterius, atau masalah lain. Kamu ikut mas! setelah acara berlangsung, kamu bisa bersama Lisa kan."
***
Acara bisnis sudah dilakukan oleh para suami, mereka mungkin sedang menuju istrinya yang sedang santai di pantai.
"Kak, itu Rico dan Fawaz."
"Iy, biarkan saja. Kita tunggu di sini. Panas dek." balas Lisa yang masih di tempat teduh.
Hanum dan Lisa menatap suami mereka terjun bermain selancar dengan mengenakan celana pendek streth yang menonjol. Bidak tubuh mereka terlihat sehingga para wanita yang ingin pergi kembali berkerumun, menatap aksi dua pria. Wanita lain di sana bersorak tepuk gembira.
Hanum dan Lisa bingung dan kesal. Kenapa Rico dan Fawaz tak menemui mereka, malah menuju ke tempat sewaan papan selancar.
"Han, ayo kita samperin!"
"Ya, kak."
Hanum maju, sehingga berada di belakang para wanita yang menatap aksi suami mereka. Tubuh mereka di tabrak oleh beberapa wanita hingga Hanum terpental pada tubuh Lisa.
"Rese amat sih, ni cewe Han."
"Apa ini karma Kak?"
"Memang kita buat kesalahan apa, jangan drama mellow deh, Han." ungkap Lisa.
Suasana yang terbenam aksi tubuh mereka yang menonjol dan basah. Rambutnya yang klimis terguyur air ombak. Hanum memasang wajah sedih, sementara Lisa menaikan satu alis berfikir.
Lisa menatap adiknya itu. "Kakak ga bisa berfikir baik, kita duduk saja dan tunggu aksi mereka selesai!"
Hanum menatap Lisa. "Kakak kok ga cemburu sih, apa kakak mulai labil sama pria yang nabrak mobil itu ya, dengar ya kakak meski suami kita seperti itu, tapi aku yakin..."
Hap! Lisa memberikan sedotan ke mulut Hanum untuk minum air kelapa hijau segar, langsung dari buahnya.
"Tutup mulutmu, kakak tuh lagi cari ide, biar suamimu, eeum maksudnya suami kita berhenti dengan aksi itu. Baru kali ini, aku terkejut mereka bermain selancar, apa ini ide mereka berdua?"
"Fawaz setauku, ga bisa berenang deh."
Hanum terdiam dan menutup mulutnya ingin tertawa melihat expresi wajah Lisa merah kesal.
Setengah Jam berlalu.
Lisa berdiri menatap aksi Fawaz. Ia berusaha tegar dan menahan cemburu, meski pikiran dan hatinya amat kesal.
Hanum menatap kakaknya itu dan mengekor, ia berbicara panjang tanpa jeda. "Apa ga salah, kakak ingin membuat Fawaz cemburu dengan hadirnya pria disana, yang tadi nabrak mobil kakak?" tanya Hanum.
"Ya enggaklah, ngapain coba."
"Trus, apa dong?" tanya Hanum.
"Teman dokter mau acara party, kakak mau ikut kali ini, ga da salahnya gabung. Kamu ikut ya!"
"Kak, ga gitu juga kali. Kakak kan tau Belinda itu ya ampun, please! dokter yang terkenal agresif diluar, dia sengaja mau buat kakak panas karena dia paling hot di antara dokter lainnya."
Lisa mendengarkan perkataan Hanum. Sehingga idenya mungkin menguntungkan.
"Sudahlah Han, gayamu harus sedikit wah. Kamu tau bisnis suami kita selain pengusaha dan dokter, banyak wanita yang genit. Kalau kita kaku lempeng gitu aja, mereka pasti bakal ladenin wanita disana."
Hanum terdiam masih sedikit loading, "Apa hubungannya sih Kak?"
"Hadeuh.., intinya Jangan memalukan. Tugas kita menghabiskan jerih payah mereka."
Hanum tersenyum, meski ide nya menarik dan ia belum pernah sama sekali memakai kartu black yang diberikan Rico. Tapi ada baiknya ia pergunakan sesekali. Tak lama Hanum terkejut menatap?"
"Kak, lihat Suami kita!" teriak Hanum.
Lisa dan Hanum hanya menelan saliva, ia tertegun akan aksi para suami mereka. Sesekali menatap Hanum yang sedikit kesal juga dan memutar mata malas. Hanum pun menarik nafas dan mengepal kedua tangannya.
"Biarkan saja Han, kita abaikan dan cuek saja. Kakak malas berdebat dengan wanita disana yang sok manis imut, mendekat pria itu."
Hanum berlalu pergi sambil menggerutu. Ia berlalu dan duduk di tepi Gajebo. "Aku sumpahin Pria disana mendapat karma, pemandangan yang sangat menjengkelkan." Kesal Hanum yang merajuk.
"Wuuih, tajamnya mulutmu adikku." lirih Lisa, yang baru lihat adikknya cemburu.
Mereka duduk dan mengobrol serius, ketika suami mereka mengakhiri bermain selancar. Dua pria itu melewati gadis dan wanita yang berpakaian mini. Tak sedikit yang bersorak handsome. Saat itupun dua wanita berdiri tak jauh dari Hanum. Mereka berkata dengan suara yang manja dipaksakan.
"Wah, handsome yang satu ke eropa gitu, macho maskulin pastinya wuaw."
"Trus yang satu lagi juga tampan putih blaster kaya belanda, putih banget. Ga kuat aku liatnya." balas temannya.
"Iya, kita deketin yuuks!" ucap dua wanita asing.
Sehingga Hanum dan Lisa saling melirik.
"Han, kamu dengar tadi?" ucap Lisa.
"Iy kak, belum pernah ketiban kelapa dari pohon mereka. Beraninya bicara kaya gitu, padahal kita istrinya tepat dibelakangnya." gumam Hanum.
Hahaha tertawa kecil Lisa.
"Kalau dia tau kita istri pria itu, mereka pasti ga akan bicara segamblang terang begitu, Han."
Lisa menepuk tutup matanya. Entah mengapa Hanum polos, semakin Loading akhir akhir ini.
"Heeump, Ya sih. Terus gimana dong kak?"
Lisa pun menarik tangan Hanum ke tepi ujung, menghindari pemandangan suami mereka dengan para wanita.
"Jangan jauh jauh kak! kita mau kemana emangnya?" teriak Hanum, yang di tarik oleh Lisa.
"Lebay, ayo ikut aja!"
Tbc.