
Setelah beberapa minggu berlalu, Hanum dengan kebaya berwarna nude, ia menitikan air mata ketika Lisa dan Fawaz menikah. Acara akad berjalan dengan lancar, di hadiri dengan adik dari mendiang sang ayah sebagai wali.
"Maafkan lisa ya mah!"
"Tidak apa sayang, kamu harus bahagia. Ikutlah suamimu kemanapun pergi!"
Isak tangis, haru kebahagian kini di liputi semua keluarga juga termasuk Hanum. Selesai proses akad resepsi di siang hari hingga sore, semua disatukan di gedung yang sama. Yakni villa Feli.
"Han, apa nanti kita akan semeriah ini?" bisik Rico.
Hanum yang sedang ingin mengambil dessert. Ia tersenyum malu, lalu menatap Rico dengan tersipu.
"Rico, sebentar lagi kita. Lalu apa kamu sudah hafal untuk ijab kabul?" goda Hanum.
"Kamu mengejek aku ya? aku pasti akan lancar dalam satu kali saja."
"Amiin, semoga kita sehat dan prosesnya lancar."
"Amiin." balas Rico.
Hanum juga melirik sang mama, ia mengajaknya dan Rico mengekor. Kala beberapa tamu hadir. Terlihat juga keluarga Jhonson datang, tapi tidak dengan Alfa. Yang katanya bibi Maria, ia masih di rumah sakit.
Resepsi berjalan dengan lancar, kedua mempelai juga sudah istirahat. Hanum yang telah menghapus make up naturalnya, ia segera melambai tangan pada Rico dan keluarga yang akan pulang.
"Han, sampai ketemu kita di akad nikah."
"Ya, kamu yang sabar ya. Jangan hubungi aku dengan video call. Besok aku mau bertemu mbak Nazim. Dah Rico! jaga hati kamu untuk aku ya!"
"Pasti." senyum melebar Rico, ia pamit juga pada mama Rita.
Sehingga setelah Rico pergi, Hanum dan sang mama juga masuk ke kamar private dan tidur bersama sang mama dengan manja, tak lupa bergabung dengan tante Felicia dan keluarga lain.
"Mama pasti sedih."
"Hanum, mama hanya menangis bahagia. Akhirnya kalian akan dibawa suami kalian kemanapun pergi. Tinggal mama menyusul papa kelak bisa tenang."
"Mah! jangan bicara gitu. Hanum dan Lisa ga mau denger mama bilang gitu lagi." peluk Hanum memegang erat tangan sang mama.
\*\*\*
Keesokan harinya. Lisa bangun pagi pagi sekali. Dia melirik suaminya yang masih terlelap. Lisa mencium pipi suaminya, lalu melangkah ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Lisa langsung menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Fawaz mengerjapkan matanya saat mencium harum masakan istrinya. Bibirnya tersenyum, lalu matanya terbuka. Fawaz sangat suka bau masakan yang selalu membangunnya di pagi hari. Fawaz bangkit, kemudian pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, dia keluar kamar untuk sarapan bersama istrinya.
"Cukup Ay. Ayo duduk! Kita sarapan,” ucap Lisa tertawa geli karena perbuatan suaminya, ia hanya tidur beberapa jam saja.
Lisa memutar tubuhnya. Dia menatap lekat wajah suami yang sangat dicintainya. Lisa menatap sendu suaminya, dia kasihan melihat wajah suaminya yang masih terlihat lelah. Lisa yakin, suaminya kelelahan karena esok ia harus kembali ke ternate lagi.
"Mas, kamu pasti bakal capek ya?"
"Kamu mau cuti kerja, ikut aku gimana? Lis, kamu harus ngertiin aku di saat kesibukan aku. Kemungkinan ada rencana aku bakal di pindahkan tugas di rumah sakit, enam bulan sekali. Apa kamu mau ikut aku?"
Lisa terdiam, jika itu terjadi, apa ia harus ikut atau meninggalkan sang mama.
"Kamu pasti bimbang ya, aku ga maksa kalau kamu mau di rumah aja sama mama! nanti kita bicarain lagi ya, yang jelas aku mau kamu ikut aku terus. Cuup!" kecupan Fawaz di pipi Lisa.
Lisa menyentuh wajah suaminya. "Yank kamu pasti kurang istirahat. Wajah kamu itu terlihat pucat."
Fawaz menggeleng. "Tidak perlu minta maaf, Lisa. Sudah kewajiban aku menjagamu, juga pekerjaanku mengobati pasien."
Lisa dan Fawaz segera sarapan bersama. Ia menoleh jendela balkon, karena pagi ini ia belum berkumpul menyapa sang mama. Hari ini dan Esok, ada Hanum yang menjaga mama sampai pernikahan Hanum selanjutnya.
"Mau aku pijitin gak?"
"Boleh, dengan senang hati."
Setelah dipijat. Fawaz bergegas mandi. Kemarin memang hari pernikahannya dengan Lisa. Mengarungi rumah tangga sangat bahagia, kala ia telah menikah. Ada wanita di sampingnya dan segala keperluannya di siapkan.
Mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, Lisa berbalik. Dia menatap Fawaz dengan wajah sumringah. Lisa teringat dengan kabar baik yang seharusnya disampaikannya tadi malam.
"Yank ... Aku punya kabar bahagia," ucapnya dengan nada riang.
Fawaz mengernyit. "Kabar bahagia? Apa?"
Fawaz lega karena Lisa tidak mempermasalahkan lagi rambutnya. Dia ikut tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat bahagia, terlihat jelas kala bangun tidur adalah wajah cantik Lisa yang Fawaz lihat.
"Aku tidak jadi ikut program menunda kehamilan. Aku berusaha untuk langsung mempunyai anak." senyumnya.
"Benarkah! setelah ini, kamu resign dari pekerjaanmu. Kamu cukup aktif di sosial media saja Yank! kamu bisa buat konten make up lagi sama seperti sebelumnya. Kamu tau, tugas dokter itu akan sibuk, aku mau kamu terus mendampingiku!"
"Baiklah! aku mengerti mas Fawaz." senyum Lisa, hingga dimana handuk piyama Fawaz terbuka karena Lisa menariknya, dan hal itu membuat tatapan mereka saling dalam mengadu.
Tbc