
Gerakan reflek mata Hanum ikut terpana, kala jari jemari tangan Alfa bergerak. Seolah mendengar keluh kesah Hanum, dan Alfa ikut membuka mata perlahan.
Hanum yang sadar, ia segera meraih tombol darurat. Reflek, sudah pasti. Bodohnya Hanum ia segera mencecar pertanyaan pada Alfa, karna Hanum seolah muak, dan masa perjanjian telah habis. Tidak ingin lebih dalam ragu atau kasihan pada Alfa, ia seberusaha mungkin untuk menghilangkan rasa yang tumbuh dalah hatinya saat ini.
"Alfa. Kamu sudah sadar, syukurlah. Apa kamu ingat aku?"
"Ha-hanum." terpatah suara Alfa sedikit.
"Baiklah, aku akan segera hubungi mama dan papa. Mereka pasti senang, cepatlah sembuh Alfa! agar urusan kita selesai. Aku sudah memutuskan untuk kita berakhir. Tapi tetap membantuu-umu." terdiam Hanum kala perkataan akhir terpatah.
Hanum melihat gerakan tangan Alfa bergetar bagai mengigil. Tak lama ketukan pintu dan para dokter tiba, sehingga Hanum menutup mulut dan mundur.
'Alfa, apa yang terjadi sama kamu?' batin Hanum.
"Bu Hanum, silahkan tunggu di luar! kami akan segera memeriksanya!" Hanum merasa bersalah, karna sebelumnya ia memencet tombol biru karna Alfa siuman.
Hanum kembali lemas, ia menjatuhkan tas di kursi sebelahnya. Pikirannya kembali kacau, setelah semua yang ia ungkapkan. Kenapa Alfa mendadak seperti tadi. Apa ia salah telah langsung terus terang? itu adalah pikiran Hanum saat ini.
Tiiyet!Tiyeet.
Suara layar monitor kala Hanum rasakan, saat dokter dan suster kembali keluar. Dokter meminta Hanum untuk rileks dan tak memaksa agar dirinya membebani pasein mudah syok. Keadaan Alfa saat ini baik dan stabil, hanya saja sedikit imun yang turun naik membuat kondisi pasein masih perlu observasi.
"Dok, apa yang terjadi pada Alfa suami saya?" tanya Hanum.
"Syukurlah! hasil siang ini, kami sudah memberi tau pada pak Jhoni melalui kabar, karna bu Hanum masih dalam orang terdekat maka harus tau. Ct scan pada kepalanya sudah baik baik saja, ternyata tidak ada kelainan dalam darah yang beku atau sejenis penyakit serius.
"Penyakit serius, lalu kenapa dia seperti itu dokter?"
"Vertigo. Kemungkinan pasein menderita sejak lama. Hanya saja tidak pernah memeriksa secara lanjut, belum lagi obat yang di konsumsi berbahaya, karna tidak ada dosis secara real oleh dokter." jelas dokter Steven.
"Maksudnya obat ilegal?"
"Bisa dikatakan begitu, karna tidak sesuai anjuran dokter dan kadar dosis yang di minum hanya berdasarkan informasi katanya atau kira kira. Jika kira kira dalam main jackpot masih bisa dimaklumi bu Hanum. Tapi soal kesehatan dan obat medis, akan berbahaya menimbulkan penyakit serius."
Hanum membawa kertas hasil Ct scan Alfa. Ia keluar dari ruangan dokter Steven dan berlalu ingin kembali menjenguk Alfa saat ini. Namun saat ia berapa langkah, Hanum senyum kala melihat Fawaz. Tapi saat itu Fawaz sedang berbicara serius soal penting, sehingga Fawaz membiarkan Hanum menatap senyum padanya tanpa balasan seolah tak perduli.
Hanum masih mencium hangat bau wangi Fawaz. Anehnya sikap Fawaz kedua kalinya membuat Hanum sakit dan membuat Hanum tak percaya, jika Fawaz akan marah padanya berlebih. Semarahnya Fawaz, Hanum tau karakter Fawaz adalah pria baik dan selalu peduli dengan hal sekecil apapun.
"Sudahlah! kita kembali keruangan Alfa. Ketika aku telah putus sidang. Aku akan menemui Fawaz lagi."
Hanum kembali masuk dan menemui alfa yang saat ini telah membuka mata dengan tenang. Sebelumnya ia menyempatkan ke toilet dan ibadah, memohon agar Hanum memihak dan memilih pilihan yang tepat agar dirinya bisa lebih kuat.
Saat itu Alfa juga melihat ke arahnya, Hanum duduk dengan senyum dan berusaha menurunkan intonasi lembutnya pada Alfa.
"Kamu mau minum?" tanya Hanum tapi diam saja.
"Tidak perlu! aku sudah baik baik saja, Han! Hanum jika kamu menginginkan kita berpisah. Maka aku akan mengakhirinya setelah aku kembali ke rumah!"
Hanum terdiam, ia juga bingung akan perasaannya pada Alfa itu apa? jika Fawaz itu jelas Hanum tak menapik, nama dan kenangan nama Fawaz masih membekas dan Hanum seolah tak ingin melupakannya begitu saja. Tapi jelas jelas Alfa yang statusnya suaminya, Hanum seolah mengikat kebencian tapi tak bisa berhenti peduli atau menyemangatinya.
"Alfa! apa aku boleh tanya sesuatu padamu?"
"Silahkan!"
Hanum meletakkan segelas air di samping Alfa. Kala Alfa meraihnya, dan Hanum inisatif membantunya lalu memberanikan bertanya.
"Siapa Ma-oren?"
Mendengar hal itu Alfa melirik tajam Hanum, membuang nafas agar tak perlu dijawab. Tapi melihat Hanum ikut mengerjapkan mata, dan masih menatapnya kepo. Alfa meminta Hanum berjanji untuk tidak membocorkannya.
"Dia kekasih asliku, dan Irene adalah peran penggantinya. Agar dia tidak membalas dendam pada papaku!"
Hanum terdiam pasi, lalu kembali bertanya apa masalah seriusnya, sehingga Alfa membeli obat tanpa pengawasan dan anjuran dokter.
"Alfa! mungkin ini cukup lancang, tapi bisakah kamu ceritakan semuanya. Agar aku bisa membantumu?"
"Bodoh! kau mau membantuku itu mustahil. Jadi setelah ini pulanglah, kamu bisa menggugatku sesuai keinginanmu. Atau menungguku kembali pulang dan menalakmu didepan orang banyak. Sesuai keinginanmu Hanum Saraswati binti Armand.
Hanum mendengar hal itu, ia segera menahan air mata yang hampir jatuh. Ponselnya juga bergetar dan terasa saat ia meraih nama Lisa memanggil.
"Baiklah! cepat sembuh Alfa. Aku ingin kamu sehat terus." senyumnya.
"Dan aku ingin kita bersama terus Hanum, adanya kamu membuat kehidupanku lurus dan baik baik saja." balas Alfa, kala Hanum telah berada di pintu.
Hanum yang sedikit mendengar, merasa bingung. Apa ia harus mengurungkan atau tetap berpisah tapi membantu Alfa dan masalah Jhoni Jhonson.
Sambil tunggu Hanum jejaknya yuks! terus mampir jejak juga litersi teman Author.
Judul : Surga Hitam
Karya : Tie tik
Surga adalah simbolis dari seorang istri. Semua suami pasti berharap jika surga miliknya tetaplah suci sampai waktunya tiba. Begitu pun denganku, aku sangat berharap jika surga yang aku miliki nanti, tetap suci walaupun bagian luarnya banyak ukiran yang menghiasi. Ajisaka
Jika memang kesucian yang menjadi perioritas utamamu. Saya memilih mundur saja, karena saya hanya surga hitam yang tak pantas untuk di perjuangkan. Intan.
Yuks kepoin lanjutannya ya All!