
Hanum kali ini menunggu Nazim temannya. Ia sudah lama tak bertemu, belum lagi Nazim yang sibuk mengurus usaha loundry di negri sebrang.
"Duh, udah lama ya! Sory ya Hanum. Mbak jadi telat deh." meletakkan tas.
"Gak apa kok mbak, Hanum ga enak karna dadakan deh."
"Jangan sungkan, selagi mbak ada disini ga masalah! oh ya? kenalin teman partner mbak. Aries namanya!"
"Oh ya! Hanum."
Aries pria berkacamata sedikit kutu buku itu menatap Hanum, kedip kedip dengan ragu dan menyambut tangan Hanum menjabat kenal.
"Gimana Papamu udah sehat?"
Hanum terdiam, ia lupa saat berduka minggu lalu tak memberi kabar, hingga dimana Hanum memeluk dengan kilat pada Nazim. Nazim juga ikut terkejut bukan main, ia tak pernah melihat Hanum berpangku sedih dengan menggetarkan bibir seolah berat ucapannya.
"Hanum, katakan ada apa sebenarnya?"
"Yang pertama Hanum sulit mengakhiri hubunganku dengan Alfa. Mbak tau bagaimana aku kan? Yang kedua papa telah tiada, memberi wasiat untuk bertahan tak meninggalkan dia. Aku harus bagaimana mbak.. Huhuu." isak sedih Hanum dalam pelukan Nazim.
Sementara Aries, ia hanya menelan saliva. Dan segera pergi membeli es kopi untuk mereka bertiga. Mungkin dengan itu, Nazim dan Hanum bisa berbicara serius tanpa adanya kacang goreng di tengah tengah yang kebingungan. Hyaks!
"Mbak minta maaf ya! andai mbak tau, mbak pasti terbang ke ibu kota. Nanti sore mbak nemuin tante Rita deh. Udah lama juga kan?"
"Tapi, masalahnya aku hampir seminggu ga pulang. Setelah acara tahlilan aku belum pulang lagi mbak. Bahkan setelah acara tahlilan pertama, kita sempat buat gaduh. Semua karna Alfa. Hidup aku tuh ga karuan, semenjak adanya Alfa hidup aku banyak beban. Pusing, lelah rasanya Hanum."
"Kamu tau gak? Alam semesta terkadang merubah kehidupan mahluknya. Tapi mungkin kamu adalah orang terpilih. Wanita kuat, yang mungkin bisa merubah pria bernama Alfa kembali kejalan yang lurus."
"Kenapa harus aku, aku bahkan penurut tak pernah aneh aneh. Kenapa harus pria seperti Alfa yang aku dapatkan?" lirih sedih Hanum.
"Jangan salah, terlalu menyombongkan kita lebih baik, itu letak salah kita Hanum. Mungkin teguran, atau ujian yang harus kamu lewatin dari sikap kamu Hanum, dan biasanya pria yang Players dia akan setia ketika ada satu titik. Cinta, apa kamu mencintai Alfa?" senyum Nazim.
"Ya! mbak benar, aku harus bebenah diri. Semoga aku bisa mengambil keputusan. Rencana aku akan bicara dengan Alfa. Aku sudah ga kuat mbak. Apa ada wanita yang tahan hanya sebagai istri ktp?"
Benar juga! lirih Nazim ikut bingung memecahkan masalah Hanum.
Saat Hanum dan Nazim masih serius bercerita, tiba saja Aries datang membawakan tiga cangkir kopi berlebel bintang ratu. Kopi mewah termahal, dengan adanya cream membuat suasana lidah semakin sejuk.
"Du du duh! Serius cerita boleh, nih aku beliin kopi. Semoga Hanum juga suka ya! soalnya aku taunya kesukaan mbak Nazim aja sih, Vanilla Sweet Cream Cold Brew. Buat aku sama Hanum aku beliin Iced Caffe Americano. Ga apa kan kita samaan? Vanilanya habis tadi." lirih Aries bernada gemoy.
"Ga apa, makasih loh Aries." senyum Hanum.
"Hanum. Gini loh, kamu punya iketan rambut gak?" tanya Aries menatap Hanum, sementara Nazim mengaduk es kopinya dengan menyilangkan sebelah alis.
"Ada, buat apa emangnya?"
"Jangan ganjen! macem macem sama Hanum. Aku penggal kacamata minus kamu tuh!" ancam Nazim.
"Duh, canda mbak. Habis kalian ngobrol bikin tegang amat. Udah kaya tegangan arus listrik yang mau nyengat orang aja." cibir Aries.
Hingga mereka bertiga kembali mencair suasana dan bercerita. Sementara Hanum lagi lagi merasakan mual. Hanum mencoba tahan, ia kembali menahan sesuatu yang terasa tidak enak di tenggorokannya. Hanum mencoba menahan, tetap saja ia kelepasan. Meski menutupi dengan kedua tangan di mulutnya.
"Uuueeek!"
"Uuueeek!"
Duh! bunting ya? emang Hanum dan kawin apa ya mbak?
Ssst! udah nikah, kamu ambilin minyak angin di mobil Ries! pinta Nazim. Dengan kilat Aries manut segera pergi.
'Jiah telat! udah nikah ternyata.'
"Ayo mbak antar ke kamar kecil, Hanum!"
Hanum berpuluh menit ia segera ke toilet. Sementara Nazim menunggunya di luar. Wajah Hanum pucat, tak seperti tadi. Hingga Nazim menarik lembut tangan Hanum.
"Kamu hamil ya? udah berapa bulan?"
"Hah- Hamil. Memang hamil seperti ini? Cih! ga mungkin deh mbak. Lagi pula mual ga semua termasuk kategori Hamil kan?" panik Hanum.
"Kita kedokter! wajah kamu pucat. Terlebih mbak pernah alamin kaya gini sebelum putri lahir. Mirip masuk angin, kamu jangan lagi minum kopi ya!"
Hanum terdiam pias, ia segera menatap siklus tamu bulanan yang selalu ia catat di ponselnya.
"Tunggu mbak!" tahan Hanum pada tangan Nazim.
"Kenapa Han,?"
To Be Continue!!
Sambil nunggu bab kelanjutannya Hanum Baca juga karya author.
- Story Halwa dan Zalwa
- Pernikahan kedua
- Dady Danzel
- Wanita Seperti Dia