BAD WIFE

BAD WIFE
MEMILIH RICO



Dalam perjalanan, benar saja satu mobil membuat Rico berhenti. Ia terheran kenapa Alfa bisa menghadangnya saat ini. Terlihat tenang dalam mobil, tapi Alfa turun dan mengetuk body depan mobil dengan berteriak.


"Hanum, keluarlah!"


Rico yang kesal ingin meninju, Hanum larang dan tahan untuk tidak emosi. Sehingga, Rico mereda dan keluar bersama Hanum.


"Mas, aku tau. Alfa ingin bicara padaku, aku meminta ijin darimu!"


"Ya, sayang mas ijinkan."


Alfa, Hanum kini bertatapan saling berhadapan dalam jarak sedikit dekat. Sementara Rico bersandar pada body mobil, tepat di belakang Hanum.


"Apa mau kamu Alfa, sudah semua akan jadi milikmu bukan, apa lagi yang kurang?" tanya Hanum.


"Kau lupa, Hanum. Kau harus bercerai darinya. Kau tau dia sudah bangkrut?"


"Apa alasannya aku harus bercerai, kamu pikir aku wanita yang sama seperti wanita di samping kamu selama ini. Hanya materi, bukan kebahagiaan yang dicari. Lantas kalau aku tidak mau kamu mau apa?" ketus Hanum.


"Kamu akan menyesal, aku bisa membantumu. Ikutlah denganku Hanum. Aku ingin menepati janji pada almarhum papamu!"


"Stop! jangan bicara soal papaku dengan mulut kotormu itu Alfa. Satu lagi yang harus kamu ingat saat ini. Enyahlah, aku tidak akan melepas kebahagiaanku."


"Benarkah, bodoh. Wanita tidak akan bisa hidup tanpa materi. Kau sedang menunjukan munafik mu Hanum?" elak tawa Alfa.


Rico yang ingin meninju Alfa, di tahan oleh Hanum. Agar tidak menimbulkan masalah lagi yang membuat jalan hidupnya di persulit. Jika sampai terjadi pemukulan, Hanum akan benar lemah dan takut Rico di penjara dengan kasus penganiayaan.


"Mas, jangan terpancing. Ini yang Alfa inginkan bukan?" lirih Hanum menatap Rico.


"Mas ingin sekali menyumpal mulutnya. Saiko, dia benar benar gila."


Alfa Jhonson!! teriak Hanum.


"Perempuan hebat itu yang siap menerima suami dari nol bahkan minus nol. Siap mendampingi, berjuang bersama dan mendoakan rejekinya bertambah. Bukan hanya mau menerima ketika suami telah berada di tempat yang nyaman dan mapan." jelas Hanum.


"Jangan sok angkuh kamu Hanum, kamu pikir setelah Rico tak punya apa apa. Hidupmu akan bahagia? apalagi anak itu akan hidup menderita bukan?" celah Alfa menatap perut Hanum.


Hanum menghela nafas, berusaha tetap elegant tidak terpancing. Rico yang memegang bahu Hanum, saling menatap dan tersenyum.


"Kamu salah Alfa, karena kesetiaan mendampingi suami adalah pahala. Bukan yang hanya berada di samping tanpa status, tapi lihatlah! dirimu bahkan terlihat benar tidak bahagia, kamu lupa aku wanita yang kamu buang?"


"Jangan bodoh Hanum, kamu pikir Rico bisa melewati dan hidup pas pas an. Kamu yakin bisa melewati mencari rejeki bersama sama dengan pria yang beberapa detik lagi jatuh miskin itu!"


Haah! mulut tajam Alfa benar benar seperti pisau.


"Selama suami tetap mau terus berjuang dan tetap berjuang sekuat tenaga mencari nafkah. Mencukupi kebutuhan keluarga. Pertahankan pria sebaiknya, jelas aku lebih memilih mati jika kamu masih menghalangi aku pergi Alfa! bersiaplah berperang denganku!" ketus Hanum.


Hanum menatap suaminya, lalu ia kembali masuk ke dalam mobil. Sehingga melanjutkan perjalanan kembali ke suatu kota yang ingin ia jelajahi.


"Sayang terimakasih." lirih Rico.


"Mas, aku bahagia. Bahagia dan bersyukur, karena Tuhan telah mengirim pria sebaik dirimu untuk ku." puji Hanum.


"Aku pastikan kalian hidup terlunta lunta dijalanan! dan kau Hanum, aku akan lihat apakah kamu akan mengemis mencariku setelah penolakan ini!"


"Sekalipun sulit, aku tidak sudi mencari kotoran yang ada di depanku, yang mengemis meminta limbah kembali bersamanya. Bukankah aku adalah wanita terburuk yang pernah bersamamu, lantas kenapa kamu egois. Alfa?"


Alfa yang kesal, ia segera masuk ke dalam mobil. Meninggalkan tatapan Hanum dan Rico yang masih berpegang erat. Sementara Alfa menggunakan earphone dan menghubungi seseorang.


***


Saat ini Hanum dan Rico menuju bandara, setelah bertemu dengan teman baik. Ia memberikan kunci mobil dan menjualnya. Tak sampai di situ, teman bernama Afandi menyerahkan satu amplop coklat pada Rico.


"Thanks bro, gue berterimakasih banget ini."


"Sama sama Rico, kita udah sohib. Lagian mobil lo pasti bakal di garasi terus, kapan pun lo hubungi gue aja, kalau mau nebus. Karena gue tau, ini hadiah ulang tahun dari almarhum nyokap kan. Dan ini pasti berat banget, gue doain biar kasus lo cepat selesai!"


"Thanks." jabat tangan Rico dan Afandi.


"Rico, gue udah suruh orang gue buat nemanin perjalanan lo sama istri. Ga usah naik travel, ini sebagai care gue sama lo. Andai gue bisa bantu lebih banyak uang, mungkin gue beli market Marco dari Alfa busuk. Sisanya gue udah transfer ke rekening lo." jelas Afandi.


"Wah, thanks bro. Ini udah lebih dari cukup."


"Semoga perjalanan dan kedepannya lancar terus ya bro! gue dukung lo pastinya, hati hati dan terus kabarin gue kalau butuh bantuan!"


Rico memeluk sahabat baiknya itu, sehingga mereka harus berpisah dan Hanum masuk lebih dulu ke dalam mobil mewah berwarna hitam. Rico juga tak luput menyusul duduk bersama sang istri.


Hanum tidak tega, sebenarnya suaminya harus merelakan satu buah mobil hanya untuk bertahan hidup dan menyewa rumah. Sehingga Hanum mengeratkan tangan Rico dan mengecup punggung tangan suaminya itu.


"Mas, yang sabar ya. Aku tau ini berat, maafkan Hanum ga bisa bantu apa apa."


"Ini udah lebih dari cukup sayang, kamu ga perlu khawatir. Mas yang jadi tulang punggung untuk kamu dan bayi kita nanti. Mas yakin, kita akan selalu bahagia bersama sama. Bantu doa itu sudah lebih dari cukup."


Perjalanan yang sedikit macet, dalam beberapa jam. Dan itu pun harus terhenti kala Hanum lapar dan mampir ke toilet di dekat pom bensin. Saat ini Hanum melihat peta yang di kirimkan papa mertuanya. Yakni desa Argapura.


"Mas yakin, desanya ini?"


"Benar sayang, desa ini dulu tempat mama kecil, papa bertemu mama di sini. Waktu itu mama sedang membantu eyang mengelola padi. Tapi sayang, keluarga saat maju mereka pindah ke luar negri. Mas yakin ada satu anak masih saudara jauh, namanya pak Abdul. Kalau kita cerita, pasti pak Abdul akan bantu kita."


"Semoga kita ga nyasar ya mas."


"Ya sayang, setelah kita bebersih rumah. Mas akan hubungi Fawaz untuk meminta orang rumahnya memaket perlengkapan bayi kita kemari."


Hanum menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Rasa mualnya kembali tak tertahan, namun ketika menatap layar spion. Hanum merasa gelagat satu pemotor aneh yang mengintai, membuat mata Hanum jeli memastikan.


"Mas, itu orang ngikutin kita ya?"


"Yang mana sayang, dimana?"


"Tadi pemotor di situ mas, mas bener ga lihat?"


"Perasaan aja mungkin sayang, ya udah kita mampir ke resort paraland dulu ya." Hanum mengangguk.


Saat Hanum menatap sekeliling, merasa diintai. Rico mengajak Hanum memesan makan, tak jauh mobil itu memarkir.


"Pak tunggu bentar ya! saya hanya mau pesan nasi lengko, surabi oncom untuk makan siang. Hanum sayang, kamu tunggu sebentar ya!"


"Ya mas, Hanum juga mau hubungi mama. Kalau kita udah mau sampai." tersenyum.


Namun ketika lima langkah Rico meninggalkan, kepala supir di pukul oleh seseorang. Hanum terdiam ketika dua orang pria berpakaian hitam mengancamnya dengan sebilah pisau.


Tbc.