BAD WIFE

BAD WIFE
MENEMUI RICO



Hanum pagi pagi sekali, ia berusaha menemui Rico. Hari sabtu seperti ini, Hanum yakin jika karyawan banyak yang libur, hanya bagian delivery dalam market swalayan terbesar di pusat.


Hanum berusaha meminta penjelasan, benarkan semua saldo yang ia lihat itu benar adanya dari Rico. Meski Hanum belum sama sekali ngecek ke bank, mengurangi rasa penasaran.


Sudah berkali kali nomor tak di kenal menghubungi Hanum, tapi Hanum tak mengangkatnya. Ia yakin itu adalah Alfa yang berusaha mencecar dirinya bagai di tagih hutang.


Setiap hari kehadian Alfa membuat Hanum tidak tenang, meski begitu ia akan mengambil saja tawaran Rico tentang dana tiga miliar, untuk memberikan pada Alfa Jhonson. Belum lagi ia akan meminta pelunasan dengan bekerja pada Rico tanpa di gaji.


"Ya Tuhan, bagaimana ini. Aku harus bekerja seumur hidup pada Rico, jika untuk melunasinya." gumam Hanum di dalam angkot.


Tatapan penumpang lain menatap Hanum curiga, tanpa Hanum sadari. Seseorang menatap bagai singa lapar. Hanum segera berhenti meminta pada supir, jika ia turun lebih dulu. Karna kantor pusat market Marco sudah terlihat.


Hanum berjalan cepat, sebelum pegawai lain sudah datang. Lantai ruangan Rico paling atas, hanya sidik jari dan hari tertentu yang bisa masuk kedalam ruangannya. Tanpa ijin sudah jelas tidak akan bisa di lalui sembarang karyawan.


Lantai tujuh, Hanum menghela nafas. Terlihat ruangan pak Rico yang sudah menyala, ia yakin jika pak Rico sudah datang.


Ting! suara bel khusus.


Dengan balasan suara Krek! Hanum langsung tau, jika pintu otomatis dari dalam sudah terbuka. Hanum segera masuk dan melangkah menatap kursi besar yang terlihat seorang pria sedang menulis serius dengan pena.


"Permisi pak Rico. Pak dua orang pria semalam, apa itu utusan bapak?" tanya Hanum, ia menegang kala melihat pria itu sangat sarkas dan tajam dengan serius.


"Duduklah! aku tau kamu kemari untuk apa Hanum, tunggu aku lima belas menit. Aku selesaikan data laporan ini." jelas Rico.


Hanum mematikan ponselnya, dering dan getaran membuat Hanum kesal, nomor itu lagi membuat Hanum tak berani pulang ke kontrakannya.


"Apa si iblis berwujud manusia itu mengganggumu lagi?" serak Rico mendekat duduk pada Hanum.


Hanum sedikit gugup, ia kembali mundur satu langkah dengan bergeser. Lalu Rico kembali mendekat, Hanum kembali menggeser karna tak ingin serapat itu duduk berdampingan.


Sreet!"Hey! Hanum aku tanya padamu, apa kamu tidak nyaman duduk kita berdekatan seperti ini?"


"Bukan begitu pak Rico, tapi saya takut ada yang lihat." spontan Hanum.


"Hahaa! baiklah, seperti ini apa sudah lebih baik. Aku duduk di depanmu dengan jarak satu meja. Anggap saja kamu klien ku saat ini." jelasnya.


"Pak Rico, bagaimana bisa anda mentransfer sebanyak itu padaku, aku tidak mau menggunakannya!" sedih Hanum.


"Han, aku baik padamu anggap saja karna aku pernah berterus terang, aku penyebab kamu celaka. Gunakan uang itu untuk membalas dendam Alfa! Berapa pun yang ia minta, kamu lempar ke wajah mereka. Setelah semua selesai, kamu kembalikan sisa uangnya padaku!" enteng Rico tersenyum.


"Haaahah. Pak itu bukan dana gelap kan? atau bapak jadikan saya mangsa ya?" cetus Hanum.


"Sembarang kamu, kamu lupa cabang Marco. Lihat indomarco! di seluruh indonesia, bisnis keluarga Mark tidak hanya itu. 300 M cukup untuk liburan selama satu sebulan keliling dunia. Tapi aku penasaran, bagaimana sepupuku itu bisa sadar. Dia ingin mendapatkanmu tapi dengan cara yang salah."


Hanum terdiam, kenapa Rico bisa tau. Jika Alfa memang melakukannya lagi karna dirinya ingin Hanum kembali. Tapi sekuat apapun Alfa berjuang, rasa sakitnya tidak mungkin bisa untuk ia memberikan kesempatan.


"Wuah, tidak mungkin. Saya lebih baik sendiri pak Rico. Tapi bagaimana saya menggantinya, dua puluh tahun bekerja saja, pasti tidak akan cukup."


Rico melihat jelas pikiran Hanum yang lucu, sehingga ia ingin menggoda Hanum dengan sindiran yang menakutkan. Benar Hanum itu wanita berbeda, tidak seperti wanita yang ia kenal. Sosok Hanum pantas ia perjuangkan, dan pantas menjadi istrinya.


'Sepertinya jodohku adalah wanita yang hampir mati, karna aku telah membuatnya celaka terlempar kejurang.' batin Rico masih menatap senyum dengan khayalannya.


"Pak Rico, saya bertanya. Kenapa anda senyum senyum sendiri. Tidak ada yang lucu kan?" Hanum mengibas tangan ke arah wajah Rico, masih mode menatap belakangnya apa ada yang aneh.


"Hem, begini. Satu kamar, satu ranjang, bahkan satu selimut. Apa kamu bisa menebusnya?"


"Maksud pak Rico, anda mau saya jual diri?" kesal Hanum.


"Hadeuh karyawan ini. Aku belum selesai bicara sudah bercabang, carikan satu kasur king size dengan taburan diamond. Dengan luar sepuluh meter! Jika sudah selesai, pergilah!" kibas tangan Rico, yang ingin mengerjai Hanum.


"Apa ada kasur seperti itu, harganya berapa ya?" benak Hanum kebingungan, apalagi dibayangkan saja sulit.


"Cari sampai dapat, jika sisa uangnya kurang bicaralah pada Erwin. Satu lagi, jangan sampai Alfa tau, aku membantumu. Setidaknya sampai keadaan yang pas, aku akan merobek mulut dan tangannya."


Hanum mengerti, ia merasa Rico juga punya dendam pribadi. Hanum pun pamit, lalu kembali dengan perasaan bahagia. Kali ini dirinya bisa bertemu Lisa dan sang mama tanpa sembunyi sudah cukup.


\*\*\*


Berbeda hal dengan Alfa.


Alfa yang melempar satu buah ponsel, ia kesal karna Hanum tak menjawab panggilannya. Bahkan dimatikan. Alfa yang sudah membereskan nama Irene tak lagi bersamanya, mungkin saat ini ia sedang bersama Peeter.


Alfa yakin dan percaya, jika perlahan Irene tidak akan mengusik kehidupannya lagi. Bahkan setelah ia ingin mengejar Hanum, tapi dengan cara yang tidak logis. Entah kenapa saat ia menatap wanita lain, bahkan irene sekalipun dari balik kaca transparan ia melihat wajah Irene itu wajah Hanum. Meski kala itu dari dalam tidak akan terlihat, jika Alfa melihatnya dari kaca luar transparan.


Alfa sempat menahan napasnya seiring jantungnya yang berdetak kencang, saat tak sengaja selimut yang menutupi tubuh Irene tersingkap, tapi wajah Hanum lah yang ia bayangkan.


Irene yang sepertinya sudah tertidur pulas tidak menyadari jika rok tipisnya terangkat hingga menampakan kain putih segitiga yang membuat jantung Alfa berdegup kencang.


Sebuah tonjolan yang terkesan empuk dibalik kain segitiga membuat Alfa kesulitan untuk memejamkan matanya.


Sebagai lelaki dewasa yang normal, apalagi selama satu bulan ini. Alfa tidak pernah mendapatkan sentuhan seorang wanita. Membuat apa yang ada dihadapannya seakan hidangan yang sangat empuk di malam yang dingin itu.


Perlahan Alfa mendekatkan tubuhnya ke tubuh Irene, aroma tubuh Irene semakin membuat Alfa lupa akan segalanya. Karna aromanya mirip Hanum yang sedang terbaring, meski Irene saat itu dalam keadaan di bius.


'Gila, lagi lagi Hanum yang aku bayangkan, lihat saja. Aku akan menarikmu Hanum, kamu akan berada dalam kungkunganku. Terlebih tiga miliar tidak akan kamu dapatkan. Pasti kamu akan memutuskan menerima kita kembali!' batin Alfa senyum lebar, seolah ia adalah pemenangnya.


**To Be Continue**!!