
Meninggalkan kisah Hanum yang kini berada di surabaya. Hanum bersama sang mama dan mbok Surti tertawa senyum menantikan kehadiran bayi pertama, dan cucu pertama bagi mama Rita. Rico yang kembali menjadi pemilik market Marco, menjadi pemilik sah paten. Membuat Alfa terguncang tak karuan, belum lagi Rico mengerahkan banyak orang untuk menjaga Hanum, mama Rita dan mbok Surti dimanapun tinggal demi keamanan.
Sejak banyak masalah berkaitan dengan Alfa, Rico sadar jiwa Alfa benar benar gila tak bisa dimaafkan.
"Rico, sebenarnya mama ga tega ninggalin Lisa, tapi jarak Hanum dan Lisa kan cukup beberapa bulan, kalau Lisa udah bulannya. Mama gantian tinggal sama Lisa ya."
"Ya mah, makasih juga mama udah mau diboyong sama Rico. Rico repotin mama dan mbok Surti, tapi untuk irt rumah disana, Rico udah kirim satu orang pekerja harian buat bebersih. Rico hanya ingin memastikan Hanum ga diganggu Alfa lagi."
Mendengar hal itu, Hanum bukan main tersanjung akan sikap suaminya itu. Sudah lama ia ingin mengutarakan sang suami yang pernah berjuang menjadi cuci piring, demi Hanum tidak kekurangan gizi dan nutrisi. Tapi Rico selalu meminta Hanum, untuk tidak menceritakan kepahitan hidupnya pada siapapun, termasuk sang mama mertua. Sehingga tampilan manis saja yang mereka ikut berbagi cerita pengalaman mereka
"Mama juga berdoa, semoga Lisa disana ga murung aja sama Fawaz. Mama masih sering chat ini setiap hari, Lisa sekarang online lagi nerima endorse. Han, sering sering hubungi Lisa. Jangan terlalu capek, tau kan kakak kamu itu kalau udah mulai aktif dunia selebgram lupa waktu."
"Iya mah, Hanum bakal kasih tau kak Lisa. Semoga kak Lisa ga salah paham lagi, kadang kalau mood ka Lisa ga bagus, suka salah tanggap."
Mama Rita mengerenyit, karena memang yang dibicarakan Hanum ada benarnya.
***
Sementara di kediaman Lisa, ia masih mendiamkan Fawaz. Hanya satu kata patah saja, mereka satu rumah bagai orang asing. Apapun yang dilakukan Fawaz selalu salah. Hal itu membuat Fawaz tetap perhatian. Tapi Lisa acuh karena masih sakit, jika Fawaz benar benar ada hubungannya dengan anak tuan Albi.
"Yank, sampai kapan kamu diamin aku?" Fawaz mengetuk dipan kasur, tapi Lisa masih fokus pada laptopnya dan dunia teman toxicnya itu. Sehingga Fawaz keluar kamar dan meletakkan segelas susu dan vitamin.
"Ya udah, aku diluar ya. Kalau ada apa apa kasih tau aku Yank, susu dan vitaminnya jangan lupa di minum!"
Lisa sadar ia sudah terlalu mendiamkan sang suami, tapi jika ia memejamkan mata. Lisa mengungkit awal pertemuannya dengan Fawaz saat itu, awal ia belum mengenal dan pertemuannya saat itu dia menabrak sepeda motornya.
Ingatan Lisa saat itu :
Fawaz yang belum mengganti rugi pun, dia menepikan mobilnya dan segera keluar menghampiri Lisa.
Lisa tercengang ketika tiba tiba tangannya disentuh oleh laki laki yang baru saja menabraknya. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi padahal sudah satu jam berlalu dari kejadian tabrakan itu.
“Kamu kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Fawaz pada Lisa yang mampu membuat Reyhan terkejut.
Belum juga Lisa menyahuti ucapan Fawaz. Rayhan sudah menyahut duluan. "Anda siapa? Jangan ikut campur urusan orang lain!" ketus Rayhan dengan seringai mengejek.
"Tidak perlu tahu siapa saya. Siapapun orangnya pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan ketika melihat laki laki yang memaksa wanita! padahal sudah sangat jelas jika wanitanya meminta untuk dilepaskan. Apa itu salah?" sahut Fawaz tenang.
Jam terbang Fawaz! dan Rayhan yang baru berusia 24 tahun tentu sangat jauh berbeda.
Fawaz yang sudah makan garam dalam kehidupan, tentu bisa tenang dalam menghadapi setiap hal yang menyangkut gelora dan ambisi dari laki laki muda yang ada di hadapannya itu.
"Dia itu pacar aku, jadi Anda salah alamat kalau ingin ikut campur," lanjut Rayhan dengan menyiratkan api permusuhan.
“Lepasin, Ray. Aku gak sudi disentuh laki laki brengsek seperti kamu.” Lisa berusaha untuk meronta dan tanpa disuruh, Fawaz membantu Lisa untuk terlepas dari tangan Rayhan.
Fawaz menoleh ke arah gadis yang tadi sempat ditabraknya. Bibirnya bergerak sedikit tersenyum ketika melihat begitu beraninya gadis itu melawan laki laki yang dianggap telah mengkhianati hubungan mereka.
Namun, ada satu hal yang membuat Fawaz terenyuh, gadis itu tampak tidak biasa biasa saja, hanya saja dia ingin menunjukkan jika dia baik baik saja setelah apa yang dia alami. Padahal luka tangannya sedikit lebam namun ia tutupi, belum lagi Fawaz melihat luka tangannya ditarik paksa dan dicengkram.
"Pokoknya aku gak mau putus. Nanti tunggulah waktu yang tepat aku pasti akan datang lagi," pungkas Rayhan seraya menatap Lisa penuh amarah dan membuka pintu mobilnya dan melesat jauh meninggalkan Lisa dan laki laki yang tidak dia ketahui.
"Kamu gak apa apa?" tanya Fawaz ketika Lisa yang memegang tangannya karena sakit akibat cengkraman Fawaz.
"Enggak. Ngapain sih kamu pakai sok sokan jadi pahlawan segala," sahut Lisa dengan wajah ketus.
"Eh, Dek ... saya tuh datang baik baik ingin menolong kamu. Saya tahu kamu tadi kewalahankan ngadepin cowok kamu itu?" Fawaz tersenyum melihat tingkah konyol gadis yang tidak dia ingat namanya itu.
"Lagian saya tuh masih punya utang sama kamu, tuh lihat tangan kamu terluka karena kecelakaan tadi. Saya ingin memastikan jika kamu tidak apa apa, tapi kamunya malah kabur gitu aja. Saya hanya tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak bertanggung jawab," sambung Fawaz seraya meraih tangan Lisa dan melihat sikutnya.
Lisa yang merasa tidak biasa bersentuhan dengan laki laki, dia hendak menarik tangannya ketika Fawaz melihat sikutnya yang berdarah. Namun, Fawaz berhasil menahannya, juga mengobatinya.
"Mau bilang alasan bukan muhrim lagi?" cibir Fawaz yang langsung membuat Lisa melengos.
"Saya cuma ingin melihat luka kamu, bukan mau macam macam. Saya heran … tadi sama saya bilang bukan muhrim, tapi dengan cowok tadi malah pegang pegangan," cibir Fawas lagi yang langsung membuat Lisa kembali memukul Fawaz dengan lengan yang satunya lagi.
"Awww," ringis Fawaz ketika lengannya ditonjok oleh Lisa.
"Jaga bicara kamu, Bang. Kamu tidak berhak menilai aku seperti itu," hardik Lisa tidak suka.
"Kamu tuh hobi banget sih nonjok orang. Hati hati loh saya bisa visum luka ini dan nuntut kamu, mau?" gertak Fawaz yang seketika membuat nyali Lisa menciut, tapi detik berikutnya Lisa kembali pada mode menantangnya.
“Silahkan aja, aku gak takut … Abang juga nanti bakalan aku tuntut.”
“Beneran gak takut?” cibir Fawaz yang tentu dia ingat ketika berurusan dengan polisi tadi pun, Lisa menolak untuk melanjutkan kasusnya.
"Habis kamu ngomongnya sembarangan," kilah lisa yang pastinya dia tidak ingin berurusan dengan polisi, karena jika itu sampai terjadi bisa bisa orang tuanya murka, papa Armand taunya ia adalah anak baik baik meski ia kuliah di paris. Apalagi teman selebgramnya, ayah dan ibunya sudah tau satu sama lain.
Hingga saat itu, Lisa mengenal Fawaz ketika masih belia. Namun terpisah karena waktu yang padat, hingga akhirnya ia temukan pria yang sama dengan tampilan gaya berbeda, dan jelas begitu sakit ketika pria yang ia temui, tragedi itu adalah sahabat baik Hanum.
Anehnya Fawaz berasa dingin dan acuh kala melihatnya tidak ingat kejadian bersiteru selama di paris. Lisa mulai mengejar tapi angkuh, tapi akhirnya ia menyerah dan Fawaz lah yang mengejar Lisa ketika ia ingat siapa wanita di paris, satu hal bagi Fawaz karena ia pernah kecelakaan dan sebagian memorinya hilang ingatan.
Tbc.