
Hanum kembali terpaku, ketika benar saja pria itu benar benar ada di hadapannya. Ia benar benar tak menyangka, jika pria yang akan dijodohkan dengan kak Lisa, adalah pria yang pernah menyentuhnya. Dengan tampang yang benar benar membuat Hanum tak percaya diri, ia mulai bersikap seolah tak pernah bertemu dengannya.
"Selamat malam semuanya!"
Lalu Alfa memindai netranya menatap Armand.
"Apa kabar om Armand?"
'Bagaimana dia bisa menyapa papaku seramah itu? Bahkan dia sudah mengulurkan tangannya ke papaku lebih dulu!' Hanum terheran menatap pria dihadapannya, mengikuti gerakan tubuhnya yang menyapa kedua orangtuanya.
"Apa kabar tante Rita?"
Suara bariton yang terdengar sangat merdu sekali ditambah dengan uluran tangan dan senyum di wajah, Ya Alfa Jhonson.
Alfa membuat sapaan itu sempurna. Hanum tak tahu lagi harus berkata apa, yang bisa dilakukannya hanyalah meremas bajunya dengan kedua tangannya yang tertutup meja, lalu menundukan kepalanya berusaha tak ingin menatap.
"Kabar kami baik baik saja, Alfa! Bagaimana dengan dirimu? Sudah semakin besar kau sekarang ini. Haaaaahaaa." senyum Armand.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Alfa! Dulu saat aku bertemu denganmu, usiamu masih enam tahun. Sekarang kau sudah sebesar ini, Tante sangat pangling!"
"Mungkin setelah hari ini, kau akan lebih sering bertemu denganku, Tante!" sapa Alfa sekilas melirik wanita gendut yang sudah ia incar, jika bertemu ia akan memberi perhitungan. Tentu saja si gendut itu benar benar minus akal, dia pasti akan ketakutan. Hahahaa tawa hati Alfa saat melirik.
'Apa aku tidak salah lihat? pria ini adalah pria yang sudah membuatku kehilangan harta berhargaku saat itu? Bisa bisanya dia semanis ini, padahal aku yang di rugikan tapi dari sikap dan matanya saja, dia terlihat mengancam lagi.
Hanum ingin melaporkan semua kelakuan pria ini, tapi dia juga takut jika akan di laporkan karna wajah jelek, gendut ini berbicara aku merayunya. Aakh! apa apaan sih, kenapa jadi begini aku dilematis.
'Bagaimana kalau dia membongkar apa yang sudah terjadi antara aku dan dia? Aku masuk ke dalam kamarnya dan bagaimana kalau dia menunjukkan video itu? Aduh aku malu banget! Sssh ... nggak boleh! Papa, mama nggak boleh berpikir macam macam tentang aku. Jangan jangan nanti dia muter balikin fakta, papa dan mamaku berpikir kalau aku bekerja loundry kiloan delivery sudah melakukan begituan berkali kali dengan laki laki lain! Haaah!' itu adalah jeritan Hanum saat ini.
"Perkenalkan namaku Alfa Jhonson! Kau bisa memanggilku Alfa!"
"Heuh! nama minimarket saja sok tampan." gerutu Hanum.
Demi apapun, Hanum tak menyangka Alfa, bisa tersenyum padanya dan mengulurkan tangan. Padahal saat bertemu belum lama ini, ia mengatakan aku jelek gendut, tubuh kotak kotak gempal dimana pun.
"Hanum kau tidak boleh memandang calon suamimu seperti itu!"
Glek!
Hanum menelan salivanya sambil melirik pada papanya yang baru saja memprotesnya.
"Maaf Papa! Tapi aku tadi itu .." belum sempat Hanum selesai, tangannya di raih Alfa. Membuat bola matanya memutar tak karuan.
"Alfa! katakan siapa namamu?" menyentuh tangan.
"Ha- .."
"Ha - apa? Hantu.. ? kok diam," tanya Alfa.
Hahaa, seluruh orangtua tertawa dan menggeleng kepalanya.
"Heumph! nama yang bagus, sesuai dengan karakter dan imut.
'Cih! Siapa yang butuh pujianmu!' ingin rasanya hati Hanum berteriak saat itu juga memprotes Alfa, ia tau pasti dalam hatinya berbeda jauh dari mulut manisnya.
Tapi Tante, Om. "Apa kita bisa mulai makan sekarang? Sepertinya Hanum, masih canggung padaku. Aku tidak bisa mengobrol banyak dengannya. Jadi bagaimana kalau kita makan saja? Aku juga sudah lapar!" ungkap Alfa, yang menyadarkan semua yang melihat dan ikut ke berpindah ke meja makan.
'Kurang ajar! Kau pintar sekali sih berakting. Dimana sikap kasarmu itu!' hati Hanum meradang. Malu sangat dirinya karena seakan Hanum benar benar terkesima pada raut wajah Alfa.
"Wajarlah! Namanya juga perempuan agak malu malu. Hanum juga tidak seperti dirimu yang sudah lama tinggal di Jerman dan banyak berkomunikasi dengan orang orang baru, Alfa. Kau harus banyak membantunya!"
Mama Maria mengingatkan lagi yang membuat Alfa mengangguk dan menurut pada mamanya. Satu satunya wanita yang selalu dihargai dan sangat disayangi oleh Alfa.
"Iya Mama. Aku akan lakukan apapun asalkan kau bahagia!"
Penekanan diberikan oleh Alfa di kalimat itu, tentu saja membuat mama tersenyum, menganggap bahwa Alfa adalah anak terbaik yang dimilikinya tanpa tahu bagaimana kelakuan busuk Alfa di belakang sana.
'Cih! aku yakin dia menikah denganku karna tameng, agar aku tetap tutup mulut. Jika aku menolak menikah dengannya, Aaach! kenapa jadi dilematis begini sih. Ungkap Hanum."
Setelah selesai makan malam, orangtua masih berbincang. Tak terkecuali Alfa yang berdiri di samping tembok sambil menatap tajam dirinya. Aah! sungguh mengesalkan, kala tatapannya tak semanis tadi di meja makan.
"Udah aku kirim ya kak, ke hape kaka. Dia anak semata wayang paman Jhoni." pesan Hanum pada Lisa.
Hey Gendut! kau tau arti kita malam ini di sini?? ketus Alfa melirik kebelakang, dengan senyum. Tapi kala mendekat bisik pada Hanum dengan tatapan sinis, dan perkataan kasar.
"Entahlah! kau pikir saja, menurutmu aku mau menikah dengan pria menyebalkan, menjijikan sepertimu?" balas Hanum.
"Hahaa! hey gendut, kau sadar gak sih. Jika benih itu muncul di perutmu. Bagaimana kamu bisa mengatakan semuanya, jika aku menikah dengan wanitaku. Dan kita itu seperti solusi yang tepat. Pertama kamu tertutup aib dengan wajah buruk, tompel jerawatmu itu. Haa, belum lagi gendut. Aku yakin kau akan gendut seperti pintu besar ruang pertama kali kau masuk kerumah ini."
Cih! kesal Hanum, lagi lagi perkataan pria ini menyakitkan. "Lalu mau mu apa?" kesal Hanum.
Alfa merangkul mau tak mau, agar kedua orangtua nya tetap berlaku baik padanya. Jika ia selalu baik baik saja apapun keputusan mamanya.
"Kita menikah, tapi kau dan aku hanya menutup aib. Kau tau, kenapa aku suka wanita body goals. Dan kau bersamaku untuk menjadi .." diam Alfa dengan menelan saliva.
Alfa membayangkan bulan madu saja jijik, jika bukan kemarin lalu karna sebuah obat.
"Sudahlah! nanti kau tau sendiri, yang jelas aku tidak mempersulitmu. Dan kau turuti perkataan ku!"
Pikiran Hanum terdiam, apa yang dikatakan pria gila itu ada benarnya. Setidak nya pria itu bertanggung jawab, dan bercerai itu sudah cukup bagus bagi statusnya.
"Hey gendut! Gimana?" sontak membuat Hanum terkejut kala sebuah bunga tepat di hadapannya.
Tapi Hanum yakin, jika pria ini memiliki maksud rencana lain. Sehingga Hanum menerima, menyadarkan pikiran dan hati niatnya manis di depan pria ini, untuk suatu rencana yang membuat Alfa Jhonson Menyesal.
To Be Continue!!
Kira kira apa yang di rencanakan Alfa dan Hanum ya? jejaknya yuks!