BAD WIFE

BAD WIFE
INGATAN DIA



Hangatnya hembusan napas Alfa, saat membuka pintu begitu terasa oleh Hanum, harum mint menguar ke indera penciumannya yang untuk beberapa detik membuat Hanum menoleh ketika Rico menunjukan bahunya, seakan berhenti bernapas terhipnotis oleh aroma Rico yang maskulin.


"Jalan sekarang sayang! baby Ghani, pasti sangat lelah setelah imunisasi!"


"Iy mas." senyum Hanum, ikut bersandar di bahu Rico.


Alfa kembali duduk normal dengan seulas senyum terukir di wajahnya. Sedangkan Hanum, dia merasakan gejolak rasa yang tidak biasa, tapi rasa itu muncul dengan kekesalan, karena Alfa menganggap tidak menghargai dirinya dengan Rico yang berkali kali tidak ingin bertemu wajahnya lagi.


Hingga beberapa puluh menit, mereka sudah sampai di rumah. Hanum juga sudah menidurkan ketiga bayinya yang sudah terlelap tidur, dan kini mereka telah kembali ke kamar untuk beristirahat. Apalagi Hanum sudah memakai piyama yang anggun, berwarna maroon.


"Sayang, mas mau nonton. Sini duduk di sebelah mas!"


"Oh, oke! aku ambilkan teh gingseng buat mas ya." senyum Hanum, lalu merapatkan kursi.


Hanum kaget ketika tangannya ditarik oleh seseorang. Dia makin terkejut lagi ketika tahu orang yang menariknya adalah Rico, yang saat ini tengah menyembunyikan wajahnya di belakang pinggang Hanum.


Rasa terkejut pun berubah jadi senyuman. Hanum geli sendiri, melihat Rico yang ternyata takut melihat film hantu yang sedang berlangsung tayang. Ia mengira Rico sedang mengacau dirinya yang sedang membuat teh gingseng.


“Mas, kamu garang ternyata takutnya sama hantu bohongan,” cibir Hanum pelan.


Rico tidak peduli dengan cibiran Hanum, dia semakin mengeratkan tangannya ketika mendengar suara yang dikeluarkan film tersebut, berbunyi hantu yang sedang tertawa.


“Kalau takut jangan sok sok an berani, mas." ucap Hanum pelan.


Hanum menarik napasnya panjang. Dia mencoba untuk melepaskan tangan Rico, dan setelah itu dia langsung menarik Rico untuk duduk dengan tenang.


Hanum dan Rico kembali tenang, kala Hanum telah mematikan acara horor yang Rico putar. Hingga kala itu, Hanum bercerita momen pertemuan dirinya bersama Rico sebelum menikah di bioskop.


"Mas inget gak?"


"Inget apa, kamu mau ngomongin apa sayang?" ucap Rico, membelai rambut Hanum.


"Mau dengerin gak? kisah kita saat pertama aku salah paham, kaget juga di bioskop."


Ingatan Lalu.


Saat itu Rico dan Hanum menonton di bioskop yang sama, kala itu Rico menarik wanita lain, Hanum tentu terkejut. Dia bingung dengan wanita yang ditarik oleh pria itu, yang jadi bosnya kala itu. Karena seingat dia jika Rico, pergi dengan asistennya bernama Ema.


Hingga terjadilah aksi Rico menarik Hanum untuk keluar, ia tidak sadar kala saat itu bukan Ema. Hanum yang sudah berada di pintu keluar, tertegun ketika menatap bosnya menariknya. Dan ia tidak sangka akan satu bioskop dan tepat duduk bersebelahan.


"Pak Rico." kaget Hanum.


“Kenapa gak nonton yang lain? Sama siapa kamu ke sini?” sambung Rico, yang memotong pertanyaan Hanum karena gengsi.


“Sendiri sih pak. Lagian saya gak mau nonton yang romantis, nanti aku malah jadi pengin diromantisin.” Jawaban Hanum, membuat Rico mengerutkan keningnya, tapi detik berikutnya dia tertawa.


“Haha … kenapa gak ngajak saya aja,” goda Rico.


“Mas, kenapa keluar? Dia siapa?” tanya Ema berusaha untuk ramah.


Perlahan Rico melepaskan tangan Hanum, dan juga tangan Ema.


“Kenalin … ini Ema,” ucap Rico mengenalkan Ema pada Hanum.


“Hanum,” sahutnya seraya tersenyum ramah.


“Kamu kok bisa kenal sama mantan suami saya?” tanya Ema, yang ia pikir asisten pak Rico selama ini yang ia lihat.


Pertanyaan Ema membuat Hanum, melebarkan matanya. Bukan hanya Hanum. Tapi Rico juga kaget karena tiba tiba Ema malah mengungkit statusnya. Rico berencana untuk mengenal Hanum dan menjelaskan siapa dirinya, tapi nyatanya malah keduluan oleh Ema.


Hanum menatap ke arah Rico yang saat itu, Rico pun sedang menatap dirinya. “Mantan suami?” ulang Hanum, yang sekarang beralih menoleh ke arah Ema.


“Iya, saat ini masih jadi mantan suami, tapi tidak lama lagi kita akan rujuk. Iya ‘kan Mas?” jelas Ema dengan meminta penegasan dari Rico.


“Oh … seperti itu.” Belum sempat Rico angkat suara, Hanum sudah lebih dulu menyahut.


“Maaf, Mbak … tadi pak Rico cuma menolong aku yang ketakutan. Maaf sudah menganggu acara kalian. Saya pamit.” Hanum tersenyum pada Rico dan Ema, yang jelas Hanum keluar dari bioskop karena ulah Rico sendiri yang salah tarik tangan orang karena panik.


“Hanum ….” Rico, berusaha untuk mencegah Hanum pergi. Tapi Hanum keburu pergi menjauh dari pandangannya.


“Kenapa jadi gini? Kok aku merasa gak enak hati sama dia, ya?” batin Rico mengkhawatirkan Hanum, karena jelas statusnya dengan Ema tidak lebih dari saudara, Ema selalu bersikap tidak baik karena ia takut Rico salah memilih calon istri.


“Sialan … dia ternyata duda. Gak ada dalam kamus Hanum harus dekat dengan seorang duda. Apa Papa tahu semua ini atau mungkin Papa juga tidak tahu?” gerutu Hanum, seraya mengambil ponselnya dari dalam tas.


Hanum memilih masuk ke sebuah restoran yang ada di Mall tersebut. Dia memesan makanan dan di waktu yang bersamaan itu, dia pun mengabari dengan chat Nazim, untuk mengobrol panjang.


“Apa? Papa tahu? Papa tega sama aku … masa iya aku disuruh dekat dengan duda. Asal Papa tahu aja … meskipun di dunia ini tidak ada lagi laki laki single aku gak mau menikah dengan seorang duda. Papa ingat itu. Bye.” Hanum langsung mengakhiri panggilannya sepihak.


Dia tidak menyadari jika saat ini ada laki laki yang sedang dia tolak secara mentah mentah di belakangnya.


Rico kecewa mendengar penuturan Hanum, yang seolah mendiskrimasi status dirinya. Dia mengepalkan tangannya menahan amarah pada gadis yang tadi sempat dia khawatirkan, karena pergi dalam keadaan salah paham, dan karena ucapan Ema.


“Memang apa yang salah dengan status duda? bukankah dia juga tidak gadis? ah! andai aku tidak sangat mengagumi Hanum Saraswati, aku tidak mungkin seperti ini." kesal Rico menarik dasi dan berlalu pergi.


Mendengar cerita Hanum, Rico langsung memeluk sang istri dan berkata. "Tapi mas benar benar tidak membohongimu, jika Ema itu aslinya adalah sahabat, sekaligus keponakan papa. Jadi aku tidak membohongimu kan?" ujar Rico menggelitik pinggang Hanum.


"Ah! iya mas, ampun! udah jangan kaya gitu dong, aku geli nih. Ah! mas, geli sekali." teriak Hanum, dengan desisnya yang merambat ke arah penyatuan jiwa. Kedua tangan Hanum menjambak rambut kepala Rico saat itu.


Hal itu membuat Rico gemas, ketika ia sudah membuat Hanum tegang dan lemas.


Tbc