BAD WIFE

BAD WIFE
BERBOHONG



Sinta tak sangka pria teman satu lintingannya menyukai Lisa. Sehingga akhir cintanya pantas saja di tolak mentah oleh Ray.


"This good Lisa, lo wanita terhormat. Bukan cuma dunia aja lo terkenal, tapi setelah tiada gue bakal terbitan dan bakal mendunia." lirih Sinta.


"Lisa, kamu udah mulai bekerja?"


"Bahkan dua minggu lagi, saya mengajukan resign. Jadi untuk apa banyak libur."


"Masuk dulu Lisa! apa ada yang penting, hingga kamu datang kemari?"


"Pak Ray, jawab. Apa benar Fawaz mencari saya, tapi pak Ray tidak perkenankan. Lalu Fawaz juga menitip surat, tapi bapak ambil? kalau begitu mana suratnya?"


"Surat, sepertinya kamu salah sangka. Surat itu tidak ada pada saya. Hanya saja, saya waktu itu menolak takut kamu semakin syok."


"Saya tekankan, anda tidak perlu ikut campur kedalam masalah saya!"


"Ya saya tahu, tapi saat itu kamu statusnya terancam."


Lisa pergi, padahal Ray, ingin menjelaskan soal kecelakaan di halte. Ray ingin membantu, dan telah menemukan rekaman orang yang membawa motor, hampir menabrak Lisa. Bagus saja saat itu, Lisa berhasil menyingkir dan masuk kedalam mobil taksi, hanya saja pintu taksi itu putus dan Lisa mengalami sedikit benturan.


"Terserah kamu mau salah paham Lisa, tapi selagi Fawaz masih menyakitimu, untuk apa kamu berikan kesempatan."


Berbeda Hal Lainnya.


Di Jam makan siang, Lisa memencet tombol ponselnya. Ia mencoba memberanikan diri untuk menemui Fawaz. Baginya ia masih status istrinya, untuk apa ia menghindar dan diam karena sidang belum memutuskan mereka bercerai, apalagi ia belum melahirkan. Secara agama tidak sah, menceraikan istri yang sedang hamil.


"Silahkan tunggu bu. Pak Fawaz sedang menemui seseorang di dalam!" ucap receptionis.


Lisa mengangguk. Ini pertama kalinya ia menemui Fawaz ke rumah sakit. Sebelumnya ia tak berani jika tanpa ijin. Selama ini, mereka bertemu di lantai basement ruangan vvip yang tak pernah banyak orang tau di berbeda lantai.


Tapi kali ini tidak. Lisa ingin kejelasan akan statusnya. Ia tak bisa berlama lama membuat dirinya semakin hancur. Hatinya semakin berkeping tak karuan. Kala mengingat seorang asisten rumah tangga berbicara dengan menjelaskan. Jika Fawaz datang dan bertemu mama Felicia dan mengakui salah, tak bisa ingat kapan ia menikahi Nestia dan berhubungan dengannya dari kapan.


"Huuhuu .. apa aku bisa mas. Membuatmu jatuh cinta padaku, apa kurangnya aku. Aku siap melakukan apapun itu. Tapi jangan tinggalkan aku. Aku takut kehilangan sosok pria yang membuat aku nyaman. Meski aku cinta sendiri, aku yakin ada celah di hatimu untuk mengagumiku. Ya .. tugasku menumbuhkan rasa cinta bermekaran di hatimu Mas."


Lisa pun memberanikan diri. Lalu mengetuk ruangan kebesaran Fawaz. Sebelumnya ia gugup, namun pikiran positifnya buyar.


Lisa menginginkan hidupnya bahagia. Apapun itu, ia ingin menjadi yang terbaik di hadapan Fawaz, memberi kesempatan pada Fawaz jika ia benar benar tidak tahu menahu dan sadar telah menikahi secara siri wanita bernama Nestia.


"Mas. Aku da .. taaang." terkejut membuka pintu.


Nestia menoleh, ia terkejut dengan rileks. Menatap dengan sempurna kala itu. Fawaz pun sama halnya, sebelumnya ia tak pernah mengijinkan Lisa datang keruangannya.


"Lisa?" lirih Fawaz, seolah Lisa datang tidak tepat waktunya.


"Apa yang kamu lakukan di sini. Pergilah Lisa!" ucap Nestia.


"Aku ga akan pergi. Mas, aku tanya sama kamu. Siapa wanita di sampingmu itu. Jika dia sekertaris baru mu, bukankah dia tak pantas duduk di pangkuanmu?"


"Hei. Cukup kau benalu!" teriak Nestia.


lisa kembali menatap Nestia. Kini mereka saling bersejajar saling menatap. Seolah asik untuk tontonan besar bagi Fawaz kala itu.


"Kenapa? terkejut. Atau kamu heran kenapa aku bisa ada di sini?" mengolok.


"Siapa kamu. Aku hanya ingin tau semuanya dari suamiku. Menyingkirlah!" tatap Lisa.


"Hahahaha. Suami, yang benar saja. Hahaa .. Honey wanita ini bilang dia suami kamu. Lalu aku apa? bukankah kamu sudah menalaknya?" tanya Nestia.


Lisa, pulanglah lebih dulu! maaf, kamu harus salah paham dan terluka lagi. Sejujurnya mas ingin tahu soal Nestia lebih banyak, dan mas janji akan kembali padamu!! batin Fawaz.


"Kenapa diam mas Fawaz? mas, kamu bicara sama mama. Kamu benar benar khilaf dan tidak tahu kenapa bisa menikahi dia. Lalu aku, apa kamu tau agama tidak membenarkan, menceraikan wanita hamil?"


"Apa, jahat kamu mas. Aku pikir, baiklah .. itu mau kamu kan." tangis Lisa pecah.


Fawaz lesu, ia tak bisa menahan kesakitan yang dirasakan Lisa. Fawaz saat ini sedang mencari bukti agar ia bisa memenjarakan Nestia. Tapi saat ini, Lisa datang di saat tidak tepat untuk mengorek Nestia yang melakukan kekacauan.


'Arrrgh! andai mas tahu dari awal, mas minta maaf Lisa. Semoga mas tidak terlambat menemui kamu, memohon ampunan kamu untuk hidup kita kembali bersama."


"Honey, kamu kenapa. Kamu lupa, perjanjian kita?" cetus Nestia mengancam.


Dan Fawaz meminta Nestia keluar dari ruangannya. Ia mencoba merenung, apa mungkin ia adalah pria yang gagal yang telah kotor membuat hati istrinya hancur berkeping.


'Bagaimana mas, masih bisa punya muka, terhadap kebaikan kamu Lisa.'


Nestia kembali mengolok, saat ia menatap Lisa masih di tepi anak tangga menangis. Sementara Lisa masih terdiam kaku. Seolah sikap Fawaz benar benar tak melihat dirinya yang semakin rapuh.


"Cukuplah. Ini rumah sakit, Lisa pulanglah! Dan aku peringati jangan pernah ke ruangan ini lagi!"


"Aku masih istri sahnya Nestia, ingat tidak selamanya kamu abadi mengambil yang bukan milikmu!" ancam Lisa.


"Tidak usah menunjuk, kita buktikan saja. Fawaz memilih kamu atau aku?" tawa Nestia.


Nestia mengekor senyum ketika Fawaz berdiri mengambil jasnya dan terlihat melihat ke arahnya. Tapi Lisa berusaha mencegahnya dan kembali bertanya.


"Apa tidak ada cinta secuil pun Mas. Aku kira kamu benar pria sejati yang baik saat itu. Tapi kamu telah menampaki wujudmu Mas. Apa ini caramu membalas budi? apa tidak ada rasa permohonan maafmu padaku, kamu tidak mau menemuiku untuk terakhir kalinya?"


"Haah. Lisa .. kita hanya menikah perjanjian. Bukankah kamu bersedia membantuku. Jangan baper! Dan satu lagi. Dia Nestia istriku yang akan aku nikahi secara resmi."


"Apa.." Lisa menahan kram perutnya.


'Maafkan aku Lisa, aku harus kembali meyakiti dengan kata kata ini.' batin Fawaz ikut menangis.


DEUUUUGGH ...!!!


Lisa begitu tertusuk duri. Sungguh rasa cintanya sangat menyakitkan ketika Fawaz mengatakan itu. Nestia melewatinya dan meludahi lantai tepat di ujung kaki Lisa. Sehingga Lisa hanya bisa mengepal untuk membalas semua rasa sakit hatinya.


Lima menit .. Sepuluh menit .. Hingga puluhan menit berlalu. Lisa yang terdiam kaku hingga rasanya mengering air matanya. Membuat dirinya semakin tak berdaya. Ia pun keluar dan menuju suatu tempat yang tak bisa siapapun melihatnya sedang rapuh.


"Teganya kamu Mas. Kamu lakukan ini sama aku." Huhuuu! Lisa menangis.


~ Di Atap Lantai Rumah Sakit ~


Lisa menangis dan berteriak sekencang mungkin. Rasa sakitnya sangat dalam, selain hanya status nama istri yang belum sah bercerai. Ia lupa jika Fawaz telah menalaknya.


"Aku terlalu mencintaimu Mas. Hingga sakit itu terasa biasa saja. Tapi mengatakan dia adalah istrimu. Aku salah .. Aku salah dan bodoh yang mengira kamu pria sejati. Pria penggila kerja yang dingin pada wanita. Aku berusaha akan memberikanmu kesempatan, tapi nyatanya aku salah."


AAAAAAA ... AAAAAA ... !!


Teriakan Lisa semakin rapuh. Ingin rasanya ia jatuh dari atap dan lupa akan semua ingatan kesedihannya kali ini. Ia sungguh malu, menjadi wanita yang haus akan rasa cinta. Tapi ia sadar, jika cintanya hanya seorang diri saat ini.


Tak sadar seseorang yang sedang menerima panggilan menatap aksi Lisa yang bicara, dan berteriak sendiri.


"Aku benci denganmu Mas. Aku terlalu mencintaimu. Atau aku yang bodoh? Aku bodoh telah di bohongi. Tapi aku harus apa .. apa aku bisa kehilanganmu. Jauh dari apapun itu. Jelas aku takut kehilanganmu. Tapi semua benar benar terjadi."


"Aku harus Apaaaa .. " berteriak lagi.


Lisa menatap langit biru. Matanya meremang, tubuhnya lemas dan tergontai begitu saja. Ia jatuh duduk, dan mengelus perutnya untuk yang kesekian kalinya.


"Sayang, sepertinya kita memang harus berjuang bersama. Kita harus lupakan ayahmu, kelak kamu lahir tanpa seorang ayah. Mama yakin, kita bisa bahagia kelak. Tolong maafkan mama kelak nak!" sendu Lisa masih mode menangis, mengelus perutnya lagi.


Tbc.