
Hanum mengepal jarinya, ia menyelikup kedua tangan. Tepat di dagu wajah, sementara kedua kakinya ia gerakan karena gugup. Tak berapa lama Lisa duduk ikut di samping Hanum, setelah meletakkan tas branded miliknya.
"Han, kamu gak apa? pasti sakit ya, udah di coblos langsung otw rumah sakit?"
Hanum mendongak, memicik bibirnya. "Apaan sih kak, kok kakak tau aku di rumah sakit?"
"Mau nemenin dr Fawaz suamiku lah. Nemenin jaga malam, trus tadi ketemu Erwin katanya papa Mark jatuh."
"Owh, iya. Rico juga lagi di ruangan dokter."
"Trus, gimana tadi. Enak.. udah sempet kan?"
"Ih! kak, udah deh. Jangan mulai. Ga ada, aku ga sempat tadi. Baru mau, Rico dapat kabar ga enak. Bersyukurlah! Hanum juga takut, ini tuh berasa aneh. Hanum tidur dengan pria, oooh! apa Hanum bisa tidur lelap ya?"
"Dih! dasar kamu, dosa loh. Doa dong biar eeheeum! enak tau. Tar juga tidur lebih nyenyak."
"Kak! jangan ganggu Hanum. Mending kakak ke ruangan dines suami kakak gih. Hanum ga mau denger, apalagi terus kirim message gaya gaya yang kakak baca di buku itu ke nomor Hanum!" sebal Hanum.
Lisa terbahak bahak, tapi ia rapatkan ketika suster menghampiri.
"Maaf, mohon untuk tidak berisik. Mengganggu pasien ya bu!" ucap suster.
"Baik Sus! maaf, tadi saya keceplosan."
"Tau nih, dasar istri dokter kok buat hura hara aja. Pergi gih, Hanum malu kalau kaka tanya terus!"
"Gimana, kaya pisang raja atau pisang monyet Han." ledek Lisa.
"Kak..!" menahan suara, kala Lisa ikut berdiri dan meraih tasnya.
"Hehee! ok deh, tuh suami kamu dateng. Kaka ke ruangan Fawaz dulu. Nanti kita ketemu ya, satu lagi Han! bilang sama suami kamu, kita liburan honeymoon bareng pasti seru."
Hiis! Hanum menutup kupingya, sementara Lisa sudah pergi dan sempat menyapa Rico beberapa saat untuk bela sungkawa. Dan berdoa supaya mertua Hanum segera pulih.
"Han, maaf kamu tunggu lama ya? kenapa ga ikut masuk tadi?" tanya Rico.
"Ga apa, aku merasa dingin. Gimana papa?"
Rico mengeluarkan jaket, dililitkan ke arah Hanum. Lalu dengan tegas jika sang papa hanya keseleo sedikit dan sudah boleh pulang.
"Papa udah mau pulang, Erwin yang bantu."
"Maafkan saya! tadi saya pikir pak Mark jatuh pingsan karena jantung. Jika saya tau hanya kaki terkilir saya pasti ga akan hubungi." jelas Erwin.
"Kamu cepat bawa papa pulang, tidak perlu minta maaf. Sudah basi, untuk apa bicara sudah kejadian." sebal Rico.
"Papa sudah membaik, maafkan papa sudah mengganggu kalian." ucap Mark dari belakang dengan paman Frans.
"Paman di sini?" cetus Hanum.
Mereka bicara hingga sampai loby. Sementara paman Frans ikut mengantar Mark dan Erwin pulang. Rico berhasil menenangkan dan mengikuti mobil sang papa dari belakang. Tiba saja suara pesan dari sang papa membuat Rico tertawa lebar penuh bahagia.
'Rico, kamu kembalilah. Papa sudah membaik, jangan mengikuti papa sampai rumah!' pesan suara.
Rico mematikan benda kecil hitam yang tersambung di telinga. Lalu senyum menoleh ke wajah Hanum.
"Rico, kita kenapa belok. Bukannya mau ke rumah papa?"
"Benar, tapi tidak saat ini. Aku lapar, aku ingin makan kamu sayang."
Gleuuk! Hanum menggigit bawah bibir. Lalu menatap arah jalan dengan tatapan kosong. Dengan santainya ia bicara juga lapar.
"Rico, aku ingin sesuatu. Aku ingin nasi goreng tempat langganan kita bagaimana?"
Rico melihat jam, ia memutar setir dan bicara dengan lembut.
"Bagaimana jika makanan saji bento, aku pesan drive thrue. Kita makan di hotel ya, sayangkan kita sudah bayar mahal tapi kita tidak pakai. Masih ada waktu beberapa jam." ucap Rico dengan tertawa, seolah ia tau jika Hanum sedang menghindar darinya.
"Ah! iya, benar pasti sampai sana sudah habis. Baiklah." balas Hanum dengan gemetar.
Beberapa puluh menit, Hanum dan Rico sudah sampai di tempatnya. Hanum memilih ke kamar kecil dan berganti dress piyama. Hanya itu yang ada, selebih ya pakaian haram yang terlihat dan membuat mata Hanum sakit.
Rico juga sudah berganti pakaian, ia menyiapkan makanan dan berahli ke ruang tamu. "Sayang, ayo kita makan. Kamu mau nonton romance atau horor?"
"Apa saja, aku suka kok." balas Hanum, ia ikut duduk dengan membawa gelas.
Tangan Hanum ditarik lembut, Rico menyuapi sandwich dan dengan santai mereka menonton sambil makanan ringan. Hanum menghela nafas dengan tenang, kala Rico menyalakan lilin pengharum.
Saat Hanum memakan permen mint, tiba saja sebuah tangan telah masuk ke dalam baju mini dari bawah. Hanum berdesir, tubuhnya segera bersandar kala mereka saling berpandangan. Rico memulai ritme halus, hingga beberapa saat Hanum merasakan hal yang tak pernah ia rasakan.
Kini Rico membaringnya di atas sofa bed, mereka berdua sudah polos tak tersisa sehelai pun. Entah dari kapan, tapi kali ini Rico membuat jantung Hanum bedebar. Hingga berpuluh menit Hanum, menatap Rico yang sudah berkali kali membuat dirinya lelah dan menjamah dengan nafas setengah. Hanum kini telah merasakan nafkah batin yang sempurna dan seutuhnya.
"Terimakasih, istri cantik ku. Semoga benih di dalam rahimmu tersimpan junior yang soleh dan soleha." kecup Rico pada kening Hanum, yang sangat lelah.
Tak ada jawaban, Rico sadar dirinya sudah membuat Hanum lemah hingga pagi. Sungguh ini pertama kalinya ia merasakan dirinya yang begitu bahagia.
Tbc.
Udah goal Ya, hehehe.