BAD WIFE

BAD WIFE
RAGA LISA



"Mah, ada apa?" teriak Hanum, kala memeluk sang mama menenangkan.


"Lisa kritis, katanya siapa ya. Mama ga tau, lupa lagi nanyain dari siapa? kita ke rumah sakit sekarang ya!" ungkap tante Felicia.


"Rumah sakit mana, kenapa bisa begitu ka Lisa kan baik baik aja. Mah, mama yang tenang ya. Hanum temani mama, mama jangan panik histeris seperti ini!"


"Mama ga sanggup Han, kakakmu sedang tidak baik. Mama ga mau kakakmu terjadi sesuatu." isak tangis seorang ibu.


"Mah, Lisa pasti baik baik saja. Rico dan tante Felicia akan ke rumah sakit. Hari sudah malam, Hanum sayang kamu jaga mama baik baik. Setelah kabar membaik mas, akan bergantian berjaga menjenguk. Kasian baby kita ditinggalkan."


"Enggak mama mau ke rumah sakit sekarang! mama mau lihat Lisa." ucap mertua Rico yang mempunyai asma, berusaha mengatur nafas sebaik mungkin agar tenang.


Tak lama Erwin datang, ia bicara jika akan menjaga penghuni di kediaman villa Feli, termasuk kedua bayi Hanum bersama papa Mark yang kini berada di kediaman itu.


"Hanum sayang bersiaplah, pastikan kebutuhan baby Ghina dan Ghani tercukupi. Mas pastikan akan menjaga bayi kita,"


"Makasih ya mas."


Hanum dan mama Rita bersiap, tak lupa Hanum juga meminta dua pengasuhnya mengabarkan jika persedian asi di box telah menipis. Hingga tak menunggu lama, mereka pergi dengan berat Hanum meninggalkan kedua bayinya, untuk menemani sang mama. Tapi Rico berkata ia akan bulak balik menjenguk kedua anaknya, dan Hanum bisa memompa asi dimanapun!


***


Sementara Lisa.


Lisa berada di alam bawah sadarnya, ia berusaha terbangun. Ia mendengar suara suara disekitarnya, seperti suara tangisan histeris. Suara memintanya untuk bangun, tapi entah kenapa Lisa tak bisa benar benar terbangun.


Raganya seolah berada di hari sebelumnya ia merasa sakit, sakit akan sikap mas Fawaz yang membela madunya. Dan benar benar harus Lisa relakan, jika kenyataannya perceraian mereka dikabulkan, setelah Lisa melahirkan.


'Mama, Hanum, mas Fawaz. Aku seperti mendengar kalian. Tapi entah kenapa aku berada di memori kenyataan diriku yang melihat aku di sia siakan, diriku yang berada di sebuah toko sedang berdebat. Ya Tuhan, ada apa ini. Ada apa yang terjadi denganku, kenapa jiwaku tak bisa membuka mata, hanya ragaku saja tapi hanya bisa mendengar dan tak bisa melihat orang yang aku sayangi. Dimana aku ini.' deru alam bawah sadar Lisa.


Lisa berjalan berpuluh kilo, dan ia menemukan dirinya dan Sinta yang sedang melawan seorang perempuan, yang berada di samping mas Fawaz. Hal itu juga membuat raga Lisa menoleh dan menembus seperti hologram yang menembus melalui orang banyak yang melihat, adegan jiwa Lisa yang sedang berdebat. Lisa berteriak pada jiwanya tak dapat terdengar, bahkan memegangpun tak bisa. Hanya bisa menatap dan mendengar saja saat itu.


Kenapa memori aku dan dia kembali aku lihat, saat ini. Apa rencanamu Tuhan?! Lisa menatap langit.


Kamu pikir, kamu siapa. Bisa bisanya menuduh sahabat saya seperti itu! ketus Sinta.


Sinta yang baru saja tiba, ia cukup terkejut akan keramaian. Hingga di mana, Sinta melindungi dari kerumunan orang lain yang mengelilingi Lisa. Tepat, ia berbicara pada semua yang melemparkan kata kata tidak pantas.


"Apa kalian sadar. Menghakimi, jika begitu saya akan minta rekaman cctv. Siapa yang salah, maka harus di perpanjang masalah ini?"


Hei, kamu mau pansos ya. Kamu ga kenal siapa saya, aku tantang kamu lihat cctv. Biar aku jebloskan kalian berdua, si benalu kehidupan dari pandangan memang harus di lenyapkan! tunjuk Nestia.


Lisa pun berdiri, di bantu Sinta. Hingga di mana, kerubunan orang lain pergi dan meninggalkan lokasi karena telah di tangani dua security yang datang.


"Lo jangan nunduk Lis! Lagian lo harus tuntut, atas pencemaran nama baik. Siapa yang nguntit pasangan maksa bahagia." ketus Sinta.


"Heiiy. Lo berani sama gue wanita jelek?" Nestia mendorong tubuh Sinta.


"Bu. Ibuu .. ibu. Sudah, kita bahas di kantor dengan baik ya!" salah satu security mencoba menenangkan.


"Apa sih, ini lagi. Security muka ceper, ngapain panggil ibu ibu. Panggil gue Nestia, lo ga tau siapa gue. Lihat baik baik wajah gue!" ketus Nestia pada security.


Lisa dan Sinta hanya geram. Ia lelah akan adu mulut yang tak berujung. Hingga di mana Fawaz melerai tiga wanita di depannya.


Fawaz melirik Lisa, namun ia seolah tak mengenal dan menghampiri Nestia.


"Sayang. Kita akhiri saja, ini sudah larut. Kita bisa pesan di tempat lain!"


"Uuuch .. honey. Hatimu lembut, pantas saja kamu di ikuti wanita penguntit. Aku jadi kasihan, karena cintanya tak terbalas." sindir Nestia menatap Lisa.


Fawaz pamit, ia meminta dua security menyudahi kesalahpahaman di tempat yang seharusnya indah. Hanya sebuah kecemburuan Nestia, Lisa harus menanggung malu lagi.


"Yo. Wiis, kami tadi juga maunya begitu. Tapi ibu ini .. " lirih Security menunjuk Nestia.


"Panggil bu lagi, gue potong gaji lo nih!" bisik Nestia menunjuk pak security mall.


Security itu pun hanya menggeleng, tanpa sadar Lisa dan Sinta telah pamit juga pada salah satu security di sebelahnya.


"Weleeeh. Itu kok artis klo marah jelek ya. Sampe ke ubun ubun itu urat. Pake gaji kita di bawa lagi. Emang dia siapa sih Son?"


"Nestia. Artis seleb holy itu loh. Lagian ga usah di pikirin, orang gaji kita dari oursorching langsung kok. Pusing klo udah salah masuk, yang wanita itu emang ga bisa salah sedikit. Soalnya beritanya lagi naik daun." ucap pak security sebelahnya pada temannya.


Lisa masih menangis, kala ia membicarakan hal bodoh. Sinta menyudahi, agar Lisa melupakan. Tapi tangisan tersedu sedu masih saja terus membuat Lisa tak bisa berhenti, saat mereka melanjutkan perjalanan.


"Sin, gue ga peduli sama ocehan orang. Lagian gue ga kenal. Tapi gue sedih aja, soalnya mas Fawaz benar benar acuh. Apa segitunya gue ga pernah ada di hatinya. Gue ngerasa, hidup gue terlalu bodoh. Kenapa gue ga bisa singkirin nama dia di hati gue. Setiap gue salah, kenapa Tuhan mempertemukan mereka berdua di time yang gak tepat. Gue salah .. Gue salah malah ketempat ini." teriak Lisa.


"Udah ya. Gue yakin, semua bukan salah lo Lisa."


Raga Lisa menatap jiwanya yang sedang dipeluk oleh sahabatnya. Lisa meraih mencoba berdiri di jiwa Lisa yang sedang berjalan tapi tetap saja, ketika ia mencoba, gagal dan menembus lagi. Hingga Lisa terdiam dan terdengar suara bayi yang membuat hatinya tenang.


'Lupakan masalahmu Lisa! jangan ungkit dan dibawa dendammu pada semua yang menyakitimu! kesedihanmu telah berakhir.' deru suara yang membuat raga Lisa kebingungan, ia tidak tau suara itu berasal dari mana. Sehingga Lisa menatap sebuah lubang cahaya putih, seolah mengajaknya untuk masuk.


"Lisaaa .." teriak suara khas pria yang serak, terdengar, dari bulatan cahaya yang menyilau.


Tbc