BAD WIFE

BAD WIFE
SIAPA BELINDA



"Maaf, saya hampir melukaimu! kamu tidak apa apa kan?" mode bicara cadel ala belanda.


"Heuumh. Ya, ga apa." sentuh Hanum pada bahunya.


"Sayang, mana yang sakit? lain kali antri nona!" cetus Rico, sambil mengusap bahu Hanum.


"Mas, udah aku ga apa apa."


"Loh, ka-mu Rico kan? Why, kita bertemu disini tapi aku tidak tau. Kamu dengan adik kamu, ini yang kamu pernah bilang angkat adik?" tanya wanita itu.


"Adik angkat kali." cibir Hanum.


Hanum melirik suaminya, lalu menatap wanita di sebelahnya. Benar benar kegenitan, tapi kalau wanita tadi bicara seseru itu. Mereka akrab, atau pernah dekat. Itulah yang ada dalam benak Hanum saat ini.


"Sory! dia my wife. Hatiku, duniaku dan kebahagiaanku." jelas Rico.


"Owh! so sory. Mbak Hanum, saya Belinda. Kenalkan, Doctor of Philosophy (Ph.D)." senyum menjabat.


Hanum mengangguk, menjaga imagenya tetap tenang, meski hatinya bertanya tanya dibuat kesal oleh Rico saat ini.


"Hanum Saraswati."


"Rico, good. Doi pasti beruntung dapetin kamu, secara you and masa lalu kamu. Wuaah!" gelak tawa ekspresi Belinda yang membuat hati dan wajah Hanum panas dan merah. Kala suaminya ikut mengobrol.


Hanum kembali ke kasir, dan bicara dengan mengetuk lonceng, sehingga tatapan Rico dan Belinda menoleh ke arah Hanum.


"Mas, pesan jus pare ada?"


"Ada nona, pake gula atau tidak?" ucap pelayan.


"Tidak pake gula, kalau ada empedu tambahin sekalian ya! dua terus kasih ke dua orang dibelakang saya ini!" cetus Hanum, lalu pergi.


Pelayan hanya terdiam, mengedip mata dan kaku. Seolah ia berada di posisi yang tidak tepat, masih memutar kain putih untuk mengeringkan gelas ramping.


Rico dengan kilat, ia segera pamit pada Belinda.


"Sory, Belinda. Kita harus berpisah, sepertinya my wife problem. Salah paham, ah! aku melupakannya tadi beberapa detik." ucap Rico.


"Oh! oke, I m soryy Rico." senyum ceria.


"Mas, jus parenya buat mas aja. Ini ambil uangnya!" pinta Rico, mengeluarkan dua lembar uang.


Pelayan barista hanya tercengang, untuk apa juga ia meminum jus yang pahitnya tiada tara. Sehingga ia menoleh ke arah temannya, sang kasir yang ikut tertawa dan menggeleng.


Haduh, Cu! hidup udah pahit, di suruh minum jus pare! nasib nasib perantau, dapat custumer yang trouble kena imbasnya rek. Ungkap barista bersama kasir yang selalu saja mendapat momen lucu dan kadang baper.


"Han, sayang. Tunggu mas!"


"Aku capek mas, aku tunggu di kamar aja. Maaf, aku lelah hari ini. Boleh aku tunggu saja di kamar hotel sendirian?"


"Sayang, tunggu mas! mas bisa jelasin, kamu pasti salah paham. Kamu cemburu?" senyum Rico.


"Cemburu, huah! ga ada, mas aku benar benar lelah. Maaf ya, dari pada aku jadi kacang goreng atau jadi bahan cerita yang aku sendiri ga tau masa lalu mas, lebih baik aku di kamar. Mas balik lagi ke Belinda, biar ngobrolnya nyambung. Aku ga apa kok." gerutu Hanum.


"Bener kamu ga marah, ga cemburu?"


"No!" sebal Hanum.


"Ya udah, istirahat ya! mas bakal kembali lebih awal." kecup Rico lalu pamit.


Hanum merasa gengsi ingin berteriak, ia hanya mengepal karena Rico menjengkelkan. Baru pertama ketemu wanita bening, ia sudah meninggalkannya sendiri saat ini.


"Dasar ga peka kamu mas," isak Hanum yang tiba saja mengeluarkan air mata.


"Mas." lirih Hanum, ia menghapus wajahnya yang basah.


"Senyum! sory, maafin mas tadi. Mas janji ga akan ulangi sikap kaya tadi, please maafin mas ya!"


Hanum ingin tertawa, tapi ia gengsi. Malu sudah ke ubun ubun, karena ia sempat berfikir buruk pada suaminya tadi. Hanum pun mengambil bunga dari tangan Rico. Sehingga Rico menatap Hanum dan tersenyum bahagia.


"Terimakasih sudah menunjukan sikapmu tadi, menyadarkan mas. Dan mas tahu perasaan hati kamu yang sesungguhnya mencintai mas."


"Gombal! mas kamu benar benar pria ulung, kalau aku ga cinta. Ngapain kita udah menikah seperti saat ini." memukul tangan Rico.


Rico memeluk erat Hanum, entah kenapa ia merasa bahagia saat ini. Masalah yang berlalu membuat Rico bersama Hanum, seolah menjadi kehidupannya lebih berwarna.


Sesampai di kamar hotel. Rico membuka jas dan sepatu. Ia mencuci tangan dan bersih bersih, tak lama melihat Hanum yang telah keluar dari kamar kecil. Ia segera mendekat dan menatap Hanum yang bercermin.


"Cantik, istri siapa sih?"


"Mas, jangan godain deh. Aku hanya sedikit berhias biar ga keliatan sembab mata aku ini."


"Heuumph!" mode mengapit Hanum, masih mode menurun naikan tali baju Hanum, dan mengecup bahu berkali kali.


"Mas, apa favorite kesukaan Adelia, aku mau buat surprise agar Adelia tidak marah sama aku?"


"Entahlah! setau mas, dia suka barang branded. Tapi Lion, mas kasian padanya. Jika tidak ada bibi Dena. Anak itu akan tumbuh lebih prihatin. Lebih jauh kasih sayang yang Lion butuhkan."


"Benar mas, aku ikut bersedih. Pasti Adelia dahulu punya kesulitan yang kita ga tau."


Hanum berbalik badan, merangkul pundak Rico dan memainkan jari jemarinya seperti memainkan piano, pada bagian depan.


"Mas, aku mencintaimu." lirih Hanum.


"Sayang, aku lebih menggilaimu."


Aksi mereka pun saling menatap dengan nafas yang terasa, karena wajah mereka amat dekat. Rasa kesal beberapa jam lalu, panas dingin membuatnya tak karuan, saat ini.


Hanum melangkah mundur, karena Rico memeluknya amat erat. Ia berjalan mundur menuju satu lemari. Rico membuka lemari itu mengambil gaun tidur berwarna merah menyala.


"Apa ini, mas?"


"Pakai ini, aku menunggumu membantuku mengusap punggung!" bisiknya.


Rico pun meninggalkan, Hanum terdiam mematung, menatap suami yang melepas seluruh baju tanpa sehelai apapun menuju bathub. Sehingga mata nakal Hanum membulat sempurna. Ia yang menatap wajah suami dan tersenyum, ia pun segera berlalu mengganti bajunya, karena terlihat jelas tanda merah pada bagian yang mudah terlihat ketika bercermin.


"Heumph! sudah pasti gaun ini akan robek dalam sekejap." lirih Hanum.


Genangan air yang mengguyur di atas shower.


Hanum hanya bisa menelan saliva, Karena menatap suaminya yang sempurna baginya. Bagaimana tidak ia berdiri polos, di atas kepala yang mengocor air dan aroma percikan dan wewangian.


"Mas! ada pesan suara." lirih Hanum, yang saat ini tidur diatas sofa panjang, sementara Rico berada dibelakangnya, mode memeluk kala sedang menonton acara drakor.


"Buka saja! mas mengantuk!"


"Mas, aku ga berani. Mas aja deh yang buka."


"Ya udah klik, nanti mas dengerin kok." gumam Rico yang, benar benar mengantuk berat.


Hanum terlonjak kaget, terlebih Rico juga ikut melek sempurna. Ketika suara pesan itu terdengar jelas dan genit.


"Mas, siapa ini?" tanya Hanum.


Tbc.